Lompat ke isi utama
Melati dengan salah satu hobinya menari

Melati dan Peran Keluarga hingga Mampu Bekerja

Solider.id - Namanya Indah Melati Rumansyah Putri. Bungsu dari dua bersaudara pasangan Rumiatun dan Imam Syafi’i, Melati lahir di Demak, 7 Juni 1998.

“Proses kelahiran Melati belum mencapai waktunya karena umur kandungan baru 8 bulan. Waktu itu oleh dokter coba untuk dipertahankan sampai harus diberi suntikan untuk menguatkan kandungan, tapi ternyata tidak bisa.” Rumiatun membuka obrolan tentang putri bungsu kebanggannya.

 

Lahir sebagaimana anak-anak dan bayi lainnya, Rumiatun menuturkan bahwa Melati lahir dengan tangis kencang dan bersuara keras. Namun karena masih belum cukup umur, maka Melati lahir dengan bobot hanya 2 Kilogram kurang.

 

Dalam pertumbuhannya, Melati tidak mengalami perbedaan. Hanya saja saat memasuki usia satu tahun, Rumiatun mulai curiga karena Melati lebih banyak diam saja.

“Dalam benak dan batin saya bertanya, kok Melati tidak ngoceh seperti anak-anak lain? Begitu saya sempat bertanya pada diri sendiri karena penasaran.” Rumiatun mengisahkan setiap kali Melati coba dipanggilnya, tidak pernah menengok saat namanya disebutkan. Melati sama sekali tidak memperlihatkan respon hingga membuat Rumiatun makin kebingungan.

“Dari kejadian ini saya mencoba membawa Melati ke RS Kariadi ke bagian THT. Pada dokter yang memeriksa saya ceritakan kalau Melati sepertinya tidak bisa mendengar.” Ujar Rumiatun yang sempat dimarahi sang Dokter karena dokternya tidak percaya.

“Anak Ibu cantik. Tidak ada tanda-tanda kalau ada kekurangan. Paling-paling dia hanya belum mudeng (belum paham-bahasa Jawa).” Begitu dokter mengatakan. Namun sejenak kemudian dokter membawa Melati ke ruang tes pendengaran. Dari hasil tes yang dilakukan, Dokter masih juga belum percaya saat harus mengatakan hal sebenarnya pada Rumiatun, sampai akhirnya dia mendengar kenyataan yang harus diterima.

“Ya. Anak Ibu Tuli.” Singkat. Dokter menjelaskan. Seketika keterangan dokter membuat Rumiatun lemas dan bingung.

 

Karena kurangnya informasi tentang anak Tuli, Rumiatun mengakui tidak tahu harus berbuat apa. Banyak yang bersaran agar membawa Melati ke orang pintar, tabib atau apapun itu untuk upaya kesembuhan. Membawa Melati dari satu tempat berobat ke tempat berobat lain, mereka berharap Melati bisa sembuh dan bisa mendengar seperti anak-anak pada umumnya.

“Kemanapun orang bersaran, semua kami lakukan. Dari Pati, Kendal, atau ke Mranggen dan menginap selama 20 hari, tidak ada hasil. Sampai-sampai ada tetangga saya yang mengatakan, nanti kalau sudah habis-habisan mungkin saya baru bisa sadar, bahwa anak saya memang tidak bisa bicara dan mendengar.”  

“Saya hanya ingin Melati bisa mendengar dan bisa berbicara seperti anak-anak lainnya.” Berkisah dengan pelan, pada akhirnya Rumiatun baru tersadar saat bertemu dengan seorang Ibu penjual ikan yang keliling kampung dan menyampaikan perihal perlunya pendidikan.

“Anaknya disekolahkan  Mbak. Anak saya juga Tuli, sekarang sudah sekolah.” Kata Ibu penjual ikan yang biasa jadi langganan.

 

Rumiatun baru tersadar. Mata hatinya baru terbuka karena selama ini seolah dilenakan hanya dengan berusaha mencari upaya penyembuhan, dan melupakan Melati yang perlu juga dibekali pendidikan.

 

Maka umur 7 tahun Melati didaftarkan dan bersekolah di SLB Demak, karena memang dalam keseharian mereka tinggal di Sayung, perbatasan antara Semarang dan Demak. Setiap hari mengantar dan menunggui sampai Melati pulang. Selama menunggu di jam-jam sekolah, Rumiatun menggelar tikar di emperan sekolah. Bersama Ibu-ibu lain mereka berkumpul dan berbagi kisah untuk saling menguatkan. Dengan membawa bekal makan mereka bisa saling melengkapi dan menjadi seperti keluarga.

“Berlangsung setiap hari pergi dan pulang sekolah naik bis, sampai-sampai supir bisnya hafal karena lima tahun Melati harus sekolah di Demak.” Lanjut Rumiatun yang juga mengikutkan Melati dalam terapi wicara.

 

Lelah dan perjuangan yang ia lakukan seolah terbayar sudah saat Melati bisa bicara dan mengenal benda-benda. Hingga pada akhirnya Melati bisa menyanyi “Topi Saya Bundar”. Tangis penuh kesyukuran bagi Rumiatun dan keluarganya, karena semakin hari Melati semakin menunjukkan perkembangan. Oleh Guru terapi wicaranya, Rumiatun lalu disarankan untuk memindah sekolah Melati ke Semarang. Karena menurut Gurunya, di Semarang Melati akan lebih maju dan berkembang. Mengikuti saran yang diberikan, akhirnya Rumiatun dan suaminya memutuskan untuk memindah sekolah Melati ke SLB Widia Bakti, Semarang.

 

Kendala kembali didapatkan terkait masalah angkutan, karena saat itu Rumiatun tidak bisa mengendarai motor untuk mengantar Melati ke sekolah. Dengan tekat bulat. Demi Melati, maka Rumiatun belajar naik motor untuk bisa mengantar dan mendampingi Melati sekolah.

“Pertama mengantar sekolah mengendarai motor, kaki saya ngewel (gemetar). Tapi alhamdulillah dengan semangat dan nekad akhirnya saya lama-lama bisa lancar.” Tersenyum mengenang, Rumiatun ingat bagaimana awal-awal dia mengantar Melati bersekolah di Semarang. Sambil menunggu Melati bersekolah, Rumiatun memilih mengisi waktunya dengan mencoba berjualan lauk dan kue-kue, hingga mulai banyak Guru yang memesan makanan padanya. Perjuangan mendampingi Melati baru akan berjalan. Inilah perjuangan. Tanpa terasa saat Melati sudah SMA, sudah tidak mau ditunggui, jadi Rumiatun hanya mengantar dan menjemput Melati saat pulang.

“Sebenarnya tidak tega meninggalkan dia di sekolah. Tapi saya belajar percaya bahwa Melati sudah bisa melakukan tanggung jawab dan tugas-tugas sekolahnya.” Lanjut Rumiatun yang sesekali menengok Melati di sela jam istirahat waktu kerjanya.

“Bukan apa-apa. Hanya untuk memastikan Melati baik-baik saja.” Ujar Rumiatun yang bekerja menjadi juru masak di sebuah rumah tangga. Tak khawatir karena Melati sangat perhatian pada sekitarnya, bagi Rumiatun itu sangat membantu Melati mengejar ketertinggalan.

“Dengan perhatian dan minatnya pada sekitar, bagi saya itu sudah membahagiakan. Melati cukup pintar untuk bisa segera menyesuaikan.” Hingga pada satu kesempatan, saat Melati masih kelas 1 SMA ada undangan menggambar dari sebuah komunitas. Terfasilitasi dari hobi menggambarnya, sejak itu Melati memutuskan niatnya bergabung dengan salah satu komunitas difabel yang ada di Semarang. Dan Rumiatun kembali lagi menjalankan tugas mengantar jemput Melati saat kegiatan. Ayahnya tak pernah lepas memberinya semangat dengan sesekali ikut mengantar saat Melati berkegiatan.

“Kadang kami beramai-ramai, berempat dengan kakaknya, menemani Melati berkegiatan. Sebenarnya Melati sendiri tidak pernah mau diantarkan. Tapi kami masih tidak tega. Dan kami berpikir, siapa lagi yang akan memberinya semangat kalau bukan kami, keluarganya.” Dengan kebanggaan pula Rumiatun berkisah betapa ia sangat bahagia berkat keterampilan menari, Melati bisa bertemu dan ngobrol dengan orang nomer satunya Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo.

“Tak sia-sia rasanya perjuangan yang kami lakukan selama ini. Sekarang Melati sudah lulus SMA. Melati juga sudah bekerja di CV. Aryati yang letaknya tak jauh dari rumah. Alhamdulillah, untuk menyiapkan masa depan Melati, saya merasa Melati harus punya keterampilan lain. Karenanya selain ikut kelas menjahit, Melati sampai saat ini ikut kelas menari di Sanggar Seni Sobokartti.” Terang Rumiatun yang lalu menceritakan bagaimana CV. Aryati memperlakukan Melati tak berbeda dengan karyawan lain.

 

Tak berselang lama menjadi karyawan di CV. Aryati, perusahaan yang bergerak dalam bidang kosmetik tersebut mengapresiasi hasil kerja Melati. Ia mendapat dukungan alat bantu dengar untuk lebih meningkatkan kinerjanya sebagai operator yang menakar dan mencampur adonan  kosmetik.

“Dengan kelebihan yang dia miliki, itu membuat saya selalu bangga untuk mengajaknya jalan-jalan. Bertemu teman, muter-muter Simpang Lima dan bertemu banyak orang. Tak sedikitpun Melati minder, tapi malah makin pinter dan mengajari saya banyak hal yang tak pernah saya bayangkan. Karenanya kamanapun saya pergi, saya selalu mengajaknya dan menjadikannya sebagai teman.” Meski sekarang sudah bekerja dan mandiri, namun Rumiatun selalu bangga melihat Melati selalu semangat untuk terus dan terus mendalami dunia tari dengan berlatih rutin setiap Selasa dan Minggu pagi.

 

Dukungan dan peran keluarga memang sangat diperlukan bagi tumbuh kembang seorang difabel. Bahkan, dukungan yang tepat, terbukti dapat menjembatani dan mengurangi  hambatan yang ia alami dalam kehidupan. Bahkan, dengan dukungan yang tepat pula, seorang difabel bisa optimal meningkatkan kapasitas dirinya dan mampu berperan dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya.

 

Bagi pembaca yang ingin berkenalan bisa menghubungi Melati di rumah tinggalnya, Perum Pondok Raden Patah Tahap 3 Rt 3 Rw 8, Sriwulan, Sayung, Demak.[]

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.