Lompat ke isi utama
	Bahasa Isyarat Huruf Hijaiyah

Mari Mengaji, Kemenag Mulai Susun dan Sempurnakan Al-qur’an Braille dan Bahasa Isyarat

Solider.id – Hak Keagamaan bagi masyarakat difabel, termasuk yang memiliki hambatan sensorik seperti Netra dan Tuli sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pada bagian kesepuluh, pasal 14 poin c menegaskan, difabel berhak mendapatkan kitab suci dan literatur keagamaan lainnya yang mudah diakses berdasarkan kebutuhannya. Dalam poin d menyampaikan, difabel berhak mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pada saat menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya.

 

Mengulas Peraturan Menteri Agama Nomor 44 Tahun 2016 tentang Penerbitan, Pentashihan, dan Peredaran Mushaf Al-Qur`an, sudah ada tiga variasi Mushaf Standar Indonesia, yaitu; Mushaf Rans Usmani, Mushaf Bahriah dan Mushaf Braille. Sedangkan Mushaf Al-Qur’an Bahasa Isyarat mulai disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

Disampaikan oleh H. Deni Hudaeny A. A, Lc., MA, Kepala bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, LPMQ akan mereview Peraturan Menteri Agama yang mengatur dan menjelaskan tentang Mushaf Standar Indonesia.

“Mushaf Braille telah masuk dalam variasi Mushaf Standar Indonesia, meski dalam cetakannya masih terdapat beragam versi penerbit. Sementara penambahan Mushaf Bahasa Isyarat ini nanti juga akan dimuat dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia untuk keabsahannya,” tutur Deni Hudaeny.

 

Baca Juga: ITMI Berkomitmen Kembangkan Pembelajaran Al-Quran Braille di Tanah Air

 

Aksesibilitas mushaf bagi difabel hambatan sensorik 

Mushaf Braille telah hadir lebih dulu dan merupakan pengayaan terhadap pemenuhan hak difabel Netra dalam mengakses kitab suci Al-Qur’an. Ragam versi cetakannya pun sudah mulai banyak disosialisasikan, bahkan digunakan masyarakat difabel Netra di tanah air.

 

 Namun, dengan masih beragamnya versi tersebut membuat masyarakat difabel Netra merasa kesulitan saat menggunakan yang berbeda dari biasanya. Perbedaan ini terdapat dalam penyajian seperti kata, simbol, lambang harokat dan lainnya.

 

Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) telah bekerja sama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) telah menyusun buku Pedoman Braille LPMQ edisi Penyempurnaan yang disusun oleh Ahmad Jaeni, MA.

 

Buku pedoman tersebut diperkenalkan dan dibagikan pada kegiatan Training of Trainer (TOT) Al-Qur’an Braille Bacth 3 dengan bertema ‘Al-Qur’an mu’jizat sepanjang masa, inspirasi sepanjang hayat,’ di Yogyakarta (18–20/3) untuk peserta yang kesehariannya berprofesi sebagai tenaga pengajar, baik di lingkungan instansi formal maupun nonformal.

“Kami dari Lanjah berharap saran dan masukan terhadap buku pedoman ini untuk dievaluasi bersama. Buku pedoman ini nanti akan digunakan sebagai acuan keseragaman dalam pembuatan Al-Qur’an Braille di Indonesia,” kata Ahmad Jaeni.

Harapan dari hadirnya buku pedoman Al-Qur’an Braille ini, selain untuk keseragaman dalam mencetak atau memperbanyak Al-Qur’an Braille, juga untuk memudahkan difabel Netra dalam menggunakannya serta mengajarkannya di daerah asal mereka tinggal sehingga lebih aksesibel.

 

Target lain dari penyusunan Mushaf Al-Qur’an Braille ini adalah melakukan penyempurnaan rasm 180 kata yang sudah disepakati dan tercantum dalam terjemahan Al-Qur’an edisi Penyempurnaan Tahun 2019.

 

 

Penambahan Mushaf Standar Indonesia terbaru

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia juga tengah merancang Mushaf terbaru untuk difabel hambatan sensorik pendengaran, berupa buku Pedoman Mushaf Al-Qur’an Bahasa Isyarat untuk Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW).

“Target tahun ini kami membuat Mushaf Al-Quran yang menggunakan bahasa isyarat, mulai dari Juz’Amma selain membuat buku metode membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat guna memudahkan difabel sensorik pendengarkan yang ingin belajar Al-Qur’an,” papar Deni Hudaeny.

 

Rancangan yang masih dalam proses pembahasan adalah terkait sejumlah dabt dan penggunaan istilah yang dipakai dalam penulisan Mushaf Bahasa Isyarat. Contoh, penggunaan sifir, penandaan bacaan panjang, serta bentuk lain yang dianggap penting. Selain mereview buku Pedoman membaca Al-Qur’an bagi difabel Tuli yang sudah dibuat sebelumnya, target lain yang dirancang adalah menyusun surah-surah pendek yang menggunakan bahasa isyarat. 

 

Dengan disusunnya Mushaf Bahasa Isyarat ini, akan menambah satu varian Mushaf Standar Indonesia dari tiga varian yang telah ada sebelumnya. Dasar dari penyusunan Mushaf Al-Qur’an Braille dan Mushaf Al-Qur’an Bahasa Isyarat tersebut bukan sekedar Undang-Undang, melainkan Al-Qur’an dan Hadis. Seperti dalam hadis riwayat Muslim, ‘Yang terbaik dari kalian adalah yang belajar AL-Qur’an dan mengajarkannya.’[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.