Lompat ke isi utama
penjelasan bipolar

Apa Kata Dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ Tentang Bipolar?

Solider.id - Dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ dalam webinar yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) DKI bekerja sama dengan Bipolar Care Indonesia (BCI) menyatakan dengan mengutip Undang-Undang nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa bahwa kesehatan jiwa adalah kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, sosial dan spiritual sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri dapat mengatasi tekanan dapa bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk kehidupan dan komunitasnya. Ia juga menekankan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tetapi mengapa kita sering memperlakukan berbeda?

 

Ada beberapa perlakuan yang membedakan  yang mau tidak mau sering dilakukan oleh orang awam, misalnya jika sakit fisik, dibawa berobat sedangkan pada sakit jiwa mesti dibawa paksa berobat. Pada yang sakit fisik, dipaksa untuk istirahat dan bagi yang sakit jiwa dipaksa untuk kuat, sakit fisik diperhatikan sedangkan sakit jiwa dibilang minta perhatian, sakit fisik dilarang kerja keras dan sakit jiwa diperlakukan dengan keras.

 

Lebih lanjut Dr. Lahargo memaparkan masalah psikologi saat 2 tahun pandemi COVID-19 di Indonesia menurut data swaperiksa PDSKJI Maret 2020-Maret 2022, perempuan 75,8% dan laki-laki 24,2% mengikuti sebaran di 5 provinsi DKI Jakarta,  Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah Banten dan lainnya. Dari subjek swaperiksa tersebut, prosentase paling tinggi yakni mengalami masalah trauma psikologi yakni 84% dan sebagian besar ada masalah depresi. 85,1% di antaranya ada masalah bunuh diri, dan 36% di antaranya telah melakukan sesuatu dan bersiap untuk mengakhiri hidup. Gangguan jiwa bipolar memiliki risiko bunuh diri 15 kali lebih tinggi.

 

Bunuh diri adalah kegawatdaruratan dalam kesehatan jiwa yang disebabkan emosional yang berat namun dengan kapasitas mental yang kurang. Segala pikiran dan perilaku bunuh diri adalah suatu permintaan pertolongan dan bukan untuk cari perhatian (caper). Gangguan bipolar sendiri adalah penyakit medis, yakni gangguan pada sel saraf di otak yang menyebabkan gejala perubahan mood yang menganggu fungsi kesehatan sehari-hari. Sedangkan istilah “mood swing” adalah adanya perubahan episode mood “ups” dan “down”. Gangguan ini dapat dipulihkan dengan terapi dan pengobatan yang teratur dan berkelanjutan.

 

Baca Juga: Mengenal Gangguan Bipolar

 

Dr. Lahargo kemudian menceritakan sebuah kasus dengan identitas seorang perempuan berusia 29 tahun dan memiliki satu anak, berpendidikan S1 dan tinggal di Jakarta dengan tanda dan gejala sedih, menangis dan ingin mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir. Sebelumnya ia membeli banyak barang dan perhiasan mewah serta suka jalan-jalan yang berdampak finansial terkuras, ‘dikerjain’ orang, mau bercerai dan tumbuh kembang anak terganggu. Penanganan yang dilakukan dan follow up-nya adalah dibawa berobat dan dirawat di RSJ lalu mendapatkan terapi psikofarmaka (obat), psikoterapi, rehabilitasi psikososial,Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), neurofeedback, family therapy lalu berangsur membaik.

 

Menggambarkan kondisi kekinian tentang bipolar, bahwa 1,2 -1,8% dari seluruh penduduk atau dari seratus penduduk, 1-2 orang mengalami bipolar. Setiap orang dari anak-anak sampai orang lanjut usia dapat mengalami bipolar dan tingkat kepatuhan berobat yang buruk menyebabkan seringnya terjadi relaps (kekambuhan). Akibat jika bipolar tidak diterapi adalah adanya penderitaan yakni masalah di sekolah dan pekerjaan serta relasi dan keluarga. Juga masalah hukum dan masalah kesehaan fisik serta adanya keinginan bunuh diri.

 

Episode mood pada bipolar dibagi empat yakni : mania, hypomania, subsyndromal depression dan major depression. Episode manik (mania) ditandai tiga atau lebih gejala-gejala  yang membuat pasien sulit berfungsi dalam hidup sehari-hari : perasaan ‘tinggi’, euphoria, hebat, penting, perasaan kebesaran, kebutuhan tidur kurang, lebih banyak bicara dari biasanya dan terus-menerus berbicara, memiliki ide-ide banyak (racing thought) dan meloncat-loncat, perhatian gampang teralih/terdistrak oleh stimulus yang tidak penting, meningkatnya aktivitas yang bertujuan (sekolah, pekerjaan), agitasi psikomotorik (gelisah tanpa tujuan), melakukan kegiatan yang berisiko dan membahayakan, dalam keadaan berat muncul halusinasi.

 

Sedangkan spesifikasi gangguan bipolar  : dengan gambaran cemas merasa tertekan, gelisah, sulit konsentrasi, takut hal buruk terjadi dan takut kehilangan kontrol, dengan gambaran campuran saat episode manik/hipomanik muncul tiga gejala demikian pula saat episode depresi, dengan gambaran rapid cycling selama 12 bulan terjadi 4 gejala perubahan mood. Sedangkan  dengan gambaran melankolis yakni kehilangan kesenangan untuk segala hal, tidak membaik meski sesuatu yang baik terjadi, depresi lebih buruk terjadi saat pagi hari, bangun lebih cepat setiap pagi dan rasa bersalah yang besar. Terakhir adalah  dengan gambaran atipikal yakni kehilangan nafsu makan dan berat badan, hypersomnia (banyak tidur), tangan dan kaki terasa lemah, sedangkan dengan gambaran psikotik yakni terdapat halusinasi dan waham (delusi) yang tidak kongruen atau tidak kongruen dan episode mood.

 

Terapi yang bisa dilakukan kepada orang dengan gangguan bipolar seperti sudah disebut di atas (kasus) adalah : pola hidup sehat, psikofarmaka (obat), psikoterapi (talk therapy), rehabilitasi psikososial, dukungan keluarga dan masyarakat serta adanya kelompok dukungan (support group).[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.