Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar kepala bayi

`Mengetahui Cara Efektif Terapi untuk Anak Down Syndrome

Solider.id,  Surakarta -Down syndrome adalah salah satu penyakit akibat kelainan kromosom. Sering ditemukan sekitar 3000-5000 bayi per/tahun (WHO). Banyak masalah kesehatan pada anak dengan down syndrome yang memerlukan penanganan jangka panjang. Dengan penanganan yang tepat, mereka dapat hidup dengan sehat  dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari  secara mandiri walau down syndrome tidak bisa disembuhkan. Hambatan fisik pada anak-anak dengan down syndrom biasanya memgalami mikrosefali,  kelainan jantung bawaan (meski tidak semua kasus), gangguan pendengaran (70/%) dari ringan sampai berat, keterlambatan tumbuh kembang dan hambatan intelektual. Pada down syndrome kelainan kromosom, terjadi ketika salinan ekstra kromosom 21 diturunkan dari orangtua. Biasanya terjadi pada ibu hamil usia lanjut. Usia emas ibu hamil adalah sampai usia 36 tahun. Di atas 3 tahun akan ada faktor risiko.

 

Tatalaksana terapi ada beberapa macam dari terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi serta terapi emosi dan perilaku. Terapi fisik berupa aktivitas dan latihan yang membantu membentuk keterampilan motorik, meningkatkan kekuatan otot dan memperbaiki postur dan keseimbangan.

 

Dr. dr. Erny, Sp. A, Konsulen, dalam paparan sebuah tayangan youtube Yayasan Peduli Kasih ABK menambahkan bahwa terapi fisik sangat penting, dan seharusnya dilalukan sedini mungkin dan terapi fisik merupakan dasar untuk terapi lainnya. Terapi fisik juga dapat membantu anak berkompetisi terhadap kekurangan tonus otot, pola berjalan yang efektif. Speech therapy memperbaiki kemampuan komunikasi dan penggunaan bahasa yang lebih efektif. Okupasi terapi membantu menemukan cara untuk menyesuaikan tugas dan kondisi sehari-hari agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang. Terapi emosional dan perilaku bertujuan untuk mencari emosi dan perilaku yang bermanfaat untuk perkembangan perbaikan semua sisi.

 

Dasar dari semua terapi adalah memahami bahwa down syndrome adalah penyakit bukan kutukan. Anak dilahirkan tanpa prediksi menjadi down syndrome. Dasar dari seluruh penatalaksanaan adalah 1. Penerimaan orangtua terhadap semua kondisi anak. 2. Orang tua bertanggung jawab semampunya untuk menjadikan anak menjadi pribadi mandiri sesuai kompetisi anak masing-masing. 3. Dengan kasih sayang dan cinta kasih semua akan jadi ringan dan biarkan sang pencipta kehidupan menyelesaikan seluruh tugas orang tua.

 

Baca Juga: Ketimpangan Kondisi Anak Down Syndrome di Indonesia

Orangtua ada yang tahu dan menutupi jika memiliki anak down syndrome.  Juga ada orangtua yang tidak tahu. Di luar negeri jika deteksi bayi di perut ada down syndrome boleh diaborsi. Di Indonesia aborsi tidak boleh dan kalau diaborsi akan masuk penjara. Down syndrome adalah suatu masalah kesehatan dan hambatan sosial sejak lahir. Jangan mengandai-memgandai . Jika sudah ada tanda-tanda dari deteksi dini maka segera lakukan terapi, terapi fisik untuk kelainan fisik, terapi lebih awal untuk me-maintainance motorik untuk keseimbangan sedangkan speech terapi jika ada kendala dalam berbicara dan mendengar.  Selain itu yang harus dicek adalah tes IQ untuk menentukan mental retardasi  apakah anak harus sekolah di sekolah reguler atau SLB. 

 

Lalu kapan tes IQ sebaiknya dilakukan? Secara objektit tes-nya menghasilkan angka. Bisa dimulai usia dua tahun untuk mendeteksi ragam mental retardasinya. Ini nanti yang akan jadi dasar apakah anak ini golongan ringan sedang atau berat. Sedini mungkin apakah anak mampu menyelesain masalah dari dalamnya derajat.

 

Terapi yang lain tergantung layanan apa yang dibutuhkan dan masing-masih beda. Misalnya gangguan pendengaran ringan masih bisa terapi di rumah, tetapi jika anak juga mengalami retardasi mental berat atau sedang maka membutuhkan tenaga profesional. Demikian pula jika anak alami gangguan pendengaran berat juga perlu bantuan profesional misal alat bantu dengar  dan terapi speech.

 

Kalau secara makanan, anak down syndrome tidak masalah namun ketika mengalami gangguan motorik misalnya terjadi penyusutan otot atau alami arthrophy, membutuhkan asupan protein. Lainnya standar, dan jika tidak sangat butuh, maka tidak memerlukan vitamin dan suplemen dalam bentuk pil/kapsul. Anak-anak down syndrone dengan ciri tubuh  tidak punya nasal breath, bawah mata tebal, bukan  mongoloid face tapi garfield face.

 

Anak down syndrome bisa mengalami autis, misalnya dari sisi aetiologi sekian persen ada turunan, ada hopoxia dalam kandungan,  dan intoksitikasi. Anak down syndrome  juga bisa alami cerebral palsy jika dalam waktu nol sampai dua tahun alami kerusakan otak saat perkembangan. Tapi tidak semua anak down syndrome kemudian mengalami cerebral palsy. Karena semua anak tidak hanya down syndrome juga bisa alami cerebral palsy kalau punya masalah seperti di atas.

 

Kalau untuk down syndrome yang alami gangguan pendengaran, mereka rata rata mental retardasi ringan dan sedang. Mereka lebih bisa menerima pendidikan dan pengarahan dan jika memiliki keluhan mereka bisa sampaikan dengan tulisan. Ada orangtua yang memahami ada yang tidak, maka orangtua harus banyak  berinteraksi dengan apa adanya. Paling tidak mereka harus mendapat data klinis tentang kesehatannya, ada gangguan pendengaran tidak? Apakah harus pakai alat bantu dengar atau tidak. Orangtua harus tahu derajat mental retardasi anaknya, sehingga mampu menyusun program dengan adanya. Selain itu perlu komunikasi antara anak  dan orangtua. Misalnya kalau ada gangguan atau keluhan satu penyakit hematologi  akan kelihatan sekali.  Kepedulian orangtua penting, persepsi orangtua terhadap kondisi  anak bisa berbeda. “Maka sekarang ayo mendekati anak, sekian  persen minder, menutup diri dari lingkungan, mestinya membuka hati saling sharing,” pungkas Dr. dr. Erny.

 

Reporter;  Puji Astuti

Editor     ; Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.