Lompat ke isi utama
video kampanye kesehatan jiwa

Kita Setara : Memahami Bukan Menghakimi

Solider.id - Situasi kesehatan jiwa di Indoensia mengalami peningkatan berdasar riset riskesdas. 7 dari 1000 rumah tangga memiliki orang dengan difabilitas psikososial. 31.5% di antaranya pernah mengalami pemasungan. Stigma dan diskriminasi masih melekat pada mereka. Pemenuhan, perlindungan dan penghormatan kepada hak-hak mereka masih terbengkalai. DI.Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dengan jumlah difabilitas psikososial terbanyak di Indonesia setelah provinsi Bali. Demikian narasi yang tertulis pada video berjudul “Kita Setara : Memahami Bukan Menghakimi” sebagai kampanye kesehatan jiwa yang bisa disaksikan di kanal youtube LBH Masyarakat.

 

Video memperlihatkan bagaimana pernyataan 11 orang dari latar belakang berbeda seputar orang dengan difabilitas psikososial (ODP). Istilah orang dengan difabiltas psikososial jarang yang tahu, kebanyakan mereka memahami dengan istilah ODGJ. Hampir semua tidak setuju dengan istilah ‘gila’. Mereka juga sepemahaman bahwa ODP semestinya tidak dimarjinalkan dan membutuhkan penanganan secara sosial. Menariknya salah seorang yang memberi pernyataan adalah seorang pemuka agama yang mengusung bagaimana konsep memanusiakan manusia, “kasihilah manusia seperti mengasihi  dirimu sendiri”.

 

Video yang memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kepedulian terhadap kesehatan jiwa memperlihatkan statemen dari ODP yang berdaya dengan bekerja membuat mainan anak-anak dan dititipkan ke warung tetangga. Video juga memperlihatkan ODP, kepala keluarga yang bekerja dengan memainkan musik. Ia pernah bekerja di sebuah peternakan ayam. Juga pernah bekerja merantau di Lampung dan Semarang.

 

Baca Juga: Konsep Ideal Upaya Promotif Advokasi Kesehatan Jiwa 

 

Caregiver atau pendamping ODP menyatakan bahwa pandangan masyarakat terhadap ODP makin hari makin bagus. Mereka bekerja sama dengan kader keswa yang melakukan pendataan dan pendampingan serta pelatihan bersama warga yang lain. Sedangkan organisasi dengan aliansi AMPUH mengawal rencana aksi daerah terkait kesehatan jiwa. Termasuk yang dilakukan oleh YAKKUM dengan pendekatan rehabilitasi berbasis masyarakat dan rehabilitasi sosial.

 

Video “Kita Setara : Memahami Bukan Menghakimi” tidak seperti video-video lainnya yang dibuat oleh kebanyakan youtuber yang mengangkat isu kesehatan jiwa namun malahan menstigma. Mereka dengan berharap klik bait, atau follower/subscribe yang lebih banyak dari penonton. Tak sedikit konten-konten dibuat dengan gaya bercandaan, yang akhirnya memberi stigma kepada ODP.

Dalam peringatan hari anti diskriminasi yang dihelat oleh LBH Masyarakat yang bekerja sama dengan AIPJ2 pada Selasa (1/3) lalu, Christian Pramudya, dari Mimosa Creative, sutradara video “Kita Setara : Memahami Bukan Menghakimi” menyatakan latar belakang pembuatan video oleh sebab masyarakat belum secara utuh mengetahui kebutuhan orang dengan difabilitas psikososial/difabel psikososial. Masyarakat memiliki pemahaman yang seragam bahwa mereka masih takut ketika berinteraksi dan masih menggunakan kata ‘gila’. Dalam tayangan video juga masih menggunakan terminologi ‘normal’ dan ‘tidak normal’ yang sebenarnya mereka belum sepenuhnya paham, namun berusaha mengerti dengan satu bahasa bahwa setiap orang semestinya memiliki kepedulian kepada difabel psikososial.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.