Lompat ke isi utama

Eksploitasi Harus Diakhiri

WIROBRAJAN, SOLIDER. Dukungan dari orang-orang terdekat dalam hal ini orang tua dan keluarganya memiliki peran sangat penting dalam perkembangan anak. Namun tidak semua orang tua mau menyadari dan melakukannya, bahkan keterbatasan fisik anaknya dieksploitasi demi sebuah alasan  ‘kemiskinan’.

Lingkungan yang tidak kondusif, tidak adanya kesempatan, semakin memperburuk keadaan, membuat anak berkebutuhan khusus tidak bisa tumbuh selayaknya anak lain.

BEGITULAH yang dialami oleh Wayah Siladi Heru Aji (18) yang biasa dipanggill Aji, seorang anak laki-laki yang tinggal di Desa Kleben, Pakuncen, Yogyakarta. Ditemui di rumahnya Kamis (28/03/2013), ditemani ibunya Sri (40) menceritakan tentang keinginannya untuk dapat bersosialisasi dan melakukan segala sesuatu sendiri layaknya anak-anak lainnya. Ada perjuangan yang tidak mudah baginya untuk hidup selayaknya anak-anak seusianya.

Sri menuturkan, awalnya Aji terlahir normal, layaknya anak lain. Pada usia tiga tahun terjatuh ketika bermain-main, kemudian mengalami panas tinggi dan  selama 12 bulan Aji mendapat perawatan di Rumah Sakit. Dirawat di RS PKU Muhammadiyah selama empat bulan, lalu dirujuk di RS Sardjito selama delapan bulan, karena kondisi kesehatannya yang sangat buruk dalam kurun waktu lima bulan penuh di RS Sardjito segala aktivitas makan, minum dan obat-obatan masuk ke tubuhnya melalui sonde.

Pertimbangan biaya menyebabkan orang tua  mengusahakan pengobatan alternatif, yaitu terapi urine. Urine Aji ditampung lalu diminumkan pada Aji. Terapi ini berlangung selama tiga bulan dan menunjukkan hasil, tangan aji mulai bisa bergerak, kemudian matanya bisa berkedip, dan kaki masih bisa bergerak, namun tulang belakang Aji lemah, sehingga Aji tidak bisa duduk dan hanya berbaring.

Sri menambahkan, dulu Aji pernah sekolah di sekolah autis, saya hanya metitipkan karena saya bekerja di sana, namun hanya beberapa bulan saja. Karena tidak ada yang menjaga anak-anak saya yang lain maka saya keluar dari pekerjaan itu, Aji sampai sekarang tidak pernah bersekolah lagi.

Anak pertama dari empat bersaudara itu banyak diam sambil sesekali menunjukkan sikap malu-malu pada jurnalis. Ada ketidak beranian mengungkapkan pendapatnya. Namun jurnalis berhasil mengajaknya berbincang-bincang, dan perlahan-lahan Aji mengatakan, “aku ingin berlarian sambil bersenda gurau, bermain layang-layang di tengah angin yang bertiup kencang, bermain bola di sebuah lapangan,  aku juga ingin sekolah, aku ingin seperti mereka”. Demikian ungkapan Aji yang menyentuh.

Namun dia hanya bisa memandangi teman-temannya bermain dari pinggir lapangan. Barangkali itu hanya sebuah keinginan sederhana bagi anak-anak lainnya, tetapi tidak bagi Aji. Sebuah harapan yang menyiksa setiap kali Aji melihat teman-temannya bergembira. Aji harus mengubur mimpi-mimpi itu dan menerima kenyataan bahwa tidak akan pernah bisa seperti teman-temannya.

Hampir seluruh hidupnya dihabiskannya di rumah, Aji melakukan aktivitas bepindah tempat dengan ngesot. Hingga suatu ketika dia mendapat bantuan kursi roda dari USAID, dan Aji memanfaatkan kursi roda tersebut untuk melakukan aktivitasnya. Yang sangat disesalkan adalah kursi roda itu dijual oleh bapaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluarganya serba kekurangan, karena kedua orangtuanya tidak memiliki penghasilan tetap.

Keterangan lain yang berhasil dihimpun oleh jurnalis adalah, Aji kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, justru keterbatasanya dijadikan alat untuk mengharap belas kasihan.  Aji disuruh untuk meminta-minta di sepanjang jalan dekat rumahnya. Dan ibunya sendiri yang membawa dan membiarkan anaknya meminta-minta di pinggir jalan besar. Ibunya hanya duduk dari kejauhan menunggu anaknya dapat uang. Yakub (75), nenek korban membenarkan adanya fakta itu. Sebenarnya juga kasihan tetapi tidak bisa menolongnya karena keadaan ekonominya juga serba kekurangan. Yakub menambahkan, dari meminta-minta itu Aji dapat mengumpulkan uang Rp. 50.000 jika tidak hujan, tetapi jika hujan bisa mendapatkan uang Rp. 30.000,- dan semua uangnya diserahkan pada ibunya untuk keperluan keluarganya. Ini adalah sebuah bentuk eksploitasi oleh keluarganya sendiri dan harus diakhiri.

Ponidi (42) ayah Aji, yang berhasil diklarifikasi di tempat terpisah mengatakan bahwa keadaan ekonomi membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya seorang buruh bangunan yang mendapatkan penghasilan ketika ada orang yang membutuhkan tenaganya. Ponidi juga menyangkal  sebenarnya kursi roda itu bukan dijual, tetapi akan ditukarkan dengan kursi roda yang baru.

Memprihatinkan, anak yang seharusnya memperoleh haknya untuk sekolah, bermain dan berbahagia namun hingga kini hak-hak dasar itu tidak pernah didapatkannya, justru keterbatasannya dieksploitasi oleh orang tuanya sendiri demi sebuah kata ‘kemiskinan’. (harta nining wijaya).

The subscriber's email address.