Lompat ke isi utama

Buku Melindungi Perempuan Difabel - Pemikiran Dan Pengalaman Advokasi

Solider.id - Buku Melindungi Perempuan Difabel, seperti judulnya, adalah buku yang merangkum banyak hal soal upaya-upaya melindungi perempuan difabel. Perempuan difabel dengan segala kerentanannya, segala diskriminasi yang ia terima, dan segala perlakuan tidak enak yang terpaksa mereka terima. Yayasan PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia Untuk Kesetaraan(, di-support oleh Sigap Indonesia baru saja menerbitkan buku berjudul Melindungi Perempuan Difabel. Buku gabungan dari profil paralegal dan advokat PerDIK, cerita-cerita mereka dalam mendampingi kasus, alur pendampingan kasus difabel berhadapan dengan hukum, atau sesederhana kisah difabel yang merasa rentan dan sedang berusaha menggugat hal-hal yang mengekangnya.

 

Beberapa tahun belakangan memang PerDIK memiliki defisi Difabel Berhadapan Dengan Hukum, yang tugasnya adalah menguatkan serta melindungi difabel yang sedang berhadapan dengan hukum. Defisi ini bekerja, bergerak, melindungi korban dan dalam waktu bersamaan terus berkordinasi serta belajar dari pengalaman-pengalaman Sigab dalam mendampingi kasus. Dari mengamati kerja-kerja defisi di bawah tanggung jawab Kak Zakia sebagai manager itu, saya mengetahui sebagian besar kasus yang ditangani adalah kekerasan atau pelecehan seksual terhadap perempuan difabel.

 

“Kami komit untuk tidak mendampingi kasus di mana difabel menjadi pelaku. Tetapi kami akan membantu kepolisian untuk memastikan pelaku difabel bisa mendapat hak aksesibilitasnya, contoh seperti akses berkomunikasi dan mengungkapkan kesaksian melalui juru bahasa isyarat berjenjang dan juru bahasa isyarat dengar,” kata Zakia dalam kegiatan peluncuran buku Melindungi Perempuan Difabel (22/01/2022).

 

Saya hadir di kegiatan itu dengan rasa senang yang damai, mirip seperti perasaan saya ketika memegang buku solo pertama saya yang terbit. Menggunakan baju peluncuran buku yang bergambarkan cover buku Melindungi Perempuan Difabel, saya mendengar diskusi yang berlangsung dengan kurang fokus. Beberapa teman yang mengajak saya bicara, atau bahkan saya yang hilang fokus dan mengajak teman lain bicara membuat saya tidak menyimak diskusi dengan baik. Tetapi pulang dari peluncuran buku itu, saya langsung mengerjakan notula dan kembali mendengar penuturan seluruh pemateri dan sesi tanya jawab tanpa terkecuali.

 

Buku ini spesial bagi saya karena banyak hal. Pertama, karena Zakia adalah kakak saya dan kabar membahagiakan sekali saat ia bisa menyelesaikan buku ini, setelah berhari-hari cukup panjang Kak Zakia merasa ia bukan penulis dan tidak bisa menyelesaikan buku ini. Yang kedua, karena buku ini bercerita soal perempuan difabel yang rentan dan harus dilindungi. Bukan karena dia lemah, tetapi karena lingkungan sosialnya meletakkan ia di titik paling rentan. Buku ini menggambarkan banyak hal soal kerentanan perempuan difabel, dan bagaimana kita harus melindungi perempuan difabel yang rentan. Yang terakhir karena Kak Zakia, saya, Kak Syarif ataupun Kak Ishak Salim berhasil menulis buku ini dengan baik meski mungkin berat untuk menceritakan semua hal buruk yang menimpa perempuan difabel. Semua musibah yang harus mereka pikul.

 

“Harus kita akui kalau aparat penegak hukum kita mau belajar, dan itu adalah kabar yang sangat baik di dalam buku ini,” ungkap Fauzia Erwin, advokat PerDIK, komisioner Informasi Publik di peluncuran buku yang sama.

 

Benar kata Kak Uci, begitu biasa kami memanggilnya. Buku ini mengabarkan tidak hanya kabar buruk, tetapi juga kabar-kabar baik bagi para korban. Meski memang tidak ada adil yang benar-benar adil bagi korban pemerkosaan dan keluarganya.

 

Buku Melindungi Perempuan Difabel, yang menceritakan banyak hal bukan hanya pasal-pasal, tetapi juga soal bagaimana perasaan paralegal saat mendampingi korban atau bahkan bagaimana suasana sidang saat PerDIK mendampingi kasus sangat pantas untuk dibaca. Ini adalah buku yang akan menjadi bagian dari tiap orang yang membacanya. Ini adalah buku yang paling tepat untuk semua orang baca, untuk mengetahui seberapa rentan perempuan difabel, dan seberapa perlu kita melindungi perempuan difabel. Jika tidak bisa melindungi, setidaknya, tidak semakin merentankannya.[]

 

Penulis: Nabila

Editor   :  Ajiwan Arief

The subscriber's email address.