Lompat ke isi utama
programer difabel netra pertama

Tak Lagi Mimpi, Potensi Difabel Netra sebagai Programmer Terbuka Lebar

Solider.id, Yogyakarta - Masih asing dalam keseharian, mendapati seorang difabel netra berprofesi sebagai programmer. Karenanya, ketika mendengar ada difabel netra dengan profesi programmer komputer, yang keluar adalah berbagai pertanyaan tidak percaya. Sebagai contoh, ah, masak sih? kok bisa? Ah, bagaimana mungkin?  Dan berbagai pertanyaan tidak yakin lainnya.

Selama ini seorang programmer identik dengan orang awas (bisa melihat) yang bersekolah di jurusan eksakta (ilmu pasti), atau kuat di bidang matematika. Karena programmer akan berkutat dengan bahasa pemrograan. Apakah assembler, paskal atau apapun. Mereka harus paham berbagai fungsi logika, looping (pengulangan),  dan tentu saja bahasa inggris. Sementara, sangat langka difabel netra yang mengambil jurusan eksakta tersebut.

 

Berbagai argument di atas telah terbantahkan oleh Muhamad Adinugraha. Pemuda dengan difabilitas netra yang biasa dipanggil dengan nama Nugi itu, kini berprofesi sebagai seorang programmer komputer di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Lembaga pemerintah nonstruktural, bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada presiden, yang melakukan pengelolaan zakat secara nasional. Tak lagi hanya mimpi di siang bolong, potensi difabel netra sebagai programmer computer mulai terbuka.

 

Berproses

Pada webinar yang digelar Yayasan Mitra Netra, Sabtu (29/1/2022), Nugi membagikan cerita. Dia mengaku bersyukur bisa bertemu seseorang pejabat di Baznas, saat dirinya tengah belajar Bahasa program. Bagi Nugi, penyesuaian dengan teknologi sesungguhya berat. Tapi dirinya terus berproses, yakin dan tidak mau menyerah.

“Saya bersyukur bisa bertemu pejabat dari Baznas, yaitu dengan pak Tio. Orang yang peka dan memperlakukan saya dengan pas, tepat,” ujar Nugi. 

 

Selain ada keterbukaan kesempatan, kata Nugi, untuk menjadi seseorang itu tidak bisa instan. Melainka butuh proses panjang, harus ada keyakinan.

 

Sebagai programmer, Nugi yang kehilangan penglihatan pada tahun kedua masa kuliah itu tak lepas dari berbagai tantangan. Ketika membuat fitur atau projek baru, tak jarang dia menemui tantangan. “Kuncinya, ketika bertemu kesulitan atau tantangan, saya harus browsing atau mencari tahu melalui internet,” terangnya.

 

Pada kesempatan itu Nugi berpesan bagi pencari maupun pemberi kerja. “Kemampuan dan sikap harus seimbang. Sering mengeluh ke kolega atau atasan, sebisa mungkin dihindari. Itu akan menggambarkan kepribadian kita yang lemah dan mudah menyerah,” tuturnya.

 

Sedang untuk pemberi kerja, singkat pesan Nugi. “Belajarlah dengan pak Tio”.

 

Keterbukaan Baznas

Menurut pejabat Baznas Achmad Setio Nugroho (Tio) Perekrutan Nugi, bukan karena Baznas fokus mencari programmer difabel. Melainkan memang sedang butuh programmer. Melalui seorang pengajar kelas programmer, direkomendasikan Nugi. Seorang difabel netra, tetapi memiliki kemampuan computer programming.

 

Selanjutnya, Nugi pun harus melalui serangkaian tes. Selain wawancara, Nugi juga harus presentasi cara membuat program. Hasilnya, level programming Nugi sewaktu masuk tes sudah bagus, tinggal penyesuaian. Dilanjutkan dengan konsultasi dengan bagian personalia, dan bagian penerimaan karyawan tersebut sangat terbuka.

 

Perekrutan karyawan difabel bisa dilakukan dengan banyak cara, ujar Tio. Yang penting employer (pencari kerja) punya keinginan dan ingin mencoba. Sedang pencari kerja memiliki kompetensi.

 

Proses penyesuaian pun dilakukan oleh Baznas. “Ada beberapa pengecualian”, kata Tio. Karena kondisinya, Nugi tidak harus datang ke kantor, tetapi tetap harus produktif. Seharusnya pakai system operasi berbasis windows, Nugi boleh pakai linux. 

 

Nugi juga harus menyesuaikan diri dengan pengembangan di Baznas. Nugi yang bekerja di luar kantor, butuh waktu yang cukup panjang. Dengan begitu, teatmen berbeda antara Nugi dengan programmer lai yang nondifabel.

“Orang Baznas banyak yang tanda tanya besar. Apa bias? Jawabannya adalah proses yang dilakukan Nugi. Dan faktanya, Nugi langsung membuat pengembangan system keuangan Baznas. Intinya, penyesuaian tidak hanya dari difabel sebaga pekerja, tetapi juga pemberi kerja,” terang Tio[].

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     ; Ajiwan Arief

The subscriber's email address.