Lompat ke isi utama
poster kegiatan garamin NTT

Peran Garamin dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di NTT

Solider.id, Surakarta - Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (Garamin) NTT dididirikan atas inisiatif lima orang muda difabel fisik dan satu orang muda nondifabel. Mereka adalah Yafas Aguson Lay (amputasi tangan kiri), Dinna Novista Noach (little people, sekarang Staff Khusus Gubernur NTT Bidang Difabilitas), Elmi Sumarni Ismau (amputasi kedua kaki), Yani Nunuhitu (difabel fisik pengguna kruk), Berti Soli Dima Malingara (nondifabel), dan Yunita Baitanu (difabel fisik dan intelektual).

 

Dikutip dari nttprogresif.com, adapun visi Garamin NTT, yaitu Nusa Tenggara Timur Inklusi dengan mengedepankan kesetaraan penyandang disabilitas di berbagai aspek kehidupan.  Sedangkan misinya adalah (1) melakukan penelitian dan pemutakhiran data dan informasi difabilitas, (2) membangun kemitraan dengan pemerintah dan stakeholder lain untuk mendukung NTT inklusi, (3) melakukan kampanye dan pendidikan publik, (4) melakukan advokasi kebijakan, dan (5) mendorong partisipasi difabel dalam berbagai sektor kehidupan.

 

Lalu bagaimana peran Garamin NTT dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak? Pada siaran RRI pro 1 Kupang FM bertema pengarusutamaan gender beberapa waktu lalu bersama presenter Erika Gultom,  Elmi Sumarni Ismau menyatakan banyak hal terkait peran Garamin NTT dalam upaya menurunkan kekerasan perempuan dan anak. Peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak difabel mengalami kenaikan secara signifikan terjadi di NTT. Tahun 2020 ia mendampingi anak difabel yang diperkosa guru sendiri. Yang dilakukan saat itu adalah melapor kepada pendamping dan Komnas Perempuan. Kemudian di tahun 2021, Garamin NTT juga mendampingi Tuli korban perkosaan dengan membantu mencarikan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Saat itu, berhubung JBI di NTT belum bersertifikat maka dibantu oleh guru SLB.

 

Garamin NTT bermitra dengan LBH APIK dan Rumah Harapan serta beberapa lembaga lain. Kasus kekerasan perempuam dan anak kenaikannya cukup signifikan maka kerja sama dan solidaritas dibutuhkan sebab akan membantu perempuan dan anak difabel saat mengalami kasus kekerasan. Saat ini Garamin NTT juga sedang mendampingi sebuah desa sebagai replikasi desa inklusi dengan tujuan menggoalkan sebuah perdes yang mengatur tentang perlindungan dan pemenuhan hak difabel termasuk perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan. Selain menggaungkan isu inklusi difabilitas. Dengan adanya perdes maka ada kehadiran desa ketika warga desanya mengalami kekerasan.  

 

Lalu strategi apa yang dilakukan oleh Garamin NTT untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak? Salah satu strategi adalah mengikutsertakan para kader dalam pelatihan paralegal sehingga ketika mereka terjun di lapangan akan sangat membantu karena berbekal ilmu pengetahuan. Dengan berjejaring dengan Komnas Perempuan, maka mereka terbantukan dan dalam pendampingan bisa dilakukan dari awal. 

 

Ada alasan-alasan mengapa Garamin NTT tertarik terlibat dalam upaya penanganan kasus dan penghapusan kekerasan. Menurut Elmi sebab mereka yang non difabel saja mengalami, dan ketika korban difabel maka mereka mengalami kerentanan dan kekerasan berlapis. “Kalau tidak melaporkan kasus yang dialami dan jika tidak didampingi, maka pelaku bisa menganggap remeh perbuatannya. Kalau bukan difabel, siapa  lagi yang akan bantu difabel,” terang Elmi.

 

Kedepan Garamin NTT akan membuka posko pengaduan untuk penanganan kasus-kasus kekerasan yang terjadi. Sebelumnya, organisasi difabel ini akan melakukan sosialisasi dan memberikan pendidikan tentang bermacam-macam kekerasan kepada komunitas bersama Komnas Perempuan. Sejak berdiri,  Garamin NTT banyak mengajak para para difabel dan perempuan difabel untuk mau belajar bersama-sama atau bertukar pengalaman.  Mereka yang berkomunitas menjadi mitra, teman, dan sahabat dari organisasi disabilitas ini.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.