Lompat ke isi utama
riset tetang difabel minim dukungan

Kebijakan Riset Berperspektif Difabilitas Perlu Diperjuangkan untuk Pembangunan Inklusif

Solider.id, Surakarta- Peran dari akademisi dalam memberi warna di tingkat nasional atau daerah tidak mudah.  Karena riset yang mendasari kebijakan  tidak banyak. Yang sudah banyak tersedia namun tidak berdasar riset. Banyak isu lain yang diangkat tetapi tidak ada yang secara eksplisit bagi kelompok difabel tidak ada. Oleh sebab itu kata kelompok difabilitas perlu diperjuangkan untuk mendapatkan akses itu. Demikian dikatakan oleh Prof. Tri Nuke Pudjiastuti, dari MOST-Unesco saat diskusi bulanan LPPM Universitas Sebelas Maret via zoommeeting, Selasa (18/1). Ia menambahkan bahwa isu difabilitas menjadi isu baru di ranah riset nasional. Saat ini banyak perspektif terkait dengan GEDSI yang sudah jadi penelitian.

 

Peneliti LIPI yang sekarang berubah menjadi lembaga BRIN itu mengungkapkan bahwa agenda dan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nasional belum menjadi rujukan pemerintah maupun swasta. Ia menambahkan bahwa saat ini masih dalam proses penataan anggaran riset serta debottlenecking produk hasil riset menuju komersialisasi atau yang berdampak serta kebijakan didominasi oleh sisi supply (iptek) belum dari sisi demand. Kerja sama  riset belum banyak yang mengacu pada sebuah kerangka dan target strategis, utamanya pada kelompok rentan difablilitas.

 

Prof. Nuke, biasa dipanggil, kemudian mengemukakan bahwa kebijakan riset yang berperspektif disabilitas perlu diperjuangkan untuk pembangunan inklusif. Pembangunan inklusif berkelanjutan adalah pembangunan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup hidup manusia secara berkelanjutan, dengan empat elemen tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs., 2020) adalah : pertumbuhan dan keadilan ekonomi, pembangunan sosial, konservasi sumber daya alam (perlindungan lingkungan) dan pemerintahan yang baik (good governance). Pembangunan yang menciptakan akses dan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan, meningkatkan kesejahteraan, serta mengurangi kesenjangan antar kelompok dan wilayah.

 

Prof. Nuke yang pernah meneliti terkait kemiskinan kemudian menyatakan bahwa diperlukan sinergi dan kolaborasi. Ia melihat bahwa berbondong-bondong penelitian hanya untuk jurnal, bukan untuk daerahnya. Ia menyentil bahwa masih banyak yang harus dikerjakan misalnya persyaratan-persyaratan dalam pencarian kerja difabel belum inklusif juga terkait pendidikan, menurutnya,  harusnya setiap sekolah di Indonesia adalah inklusif.

 

Ketika lembaga penelitian tidak memiliki kontribusi terhadap pembangunan Indonesia maka target makro pembangunan Indonesia tidak  tercapai sehingga riset harus memberi kebermanfaatan bagi masyarakat. Masih banyaknya lembaga yang egosentral menjadi masalah tersendiri maka ketika lahir Pusat Studi Difabel (PSD) kemudian menjadi salah satu champion.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.