Lompat ke isi utama
ilustrasi webinar bersama baznas

BAZNAS Dukung Penelitian Akses Tempat Ibadah Bagi Tuli

Solider.id, Surakarta - Dilatarbelakangi bahwa teman Tuli memiliki hak yang sama dalam aktivitas keagaman, sesuai dengan hak keagamaan yang diatur dalam pasal 78- 82 UU nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Meski mereka hidup di masyarakat namun kemudahan mengakses tempat ibadah masih terbatas. Kesadaran masyarakat yang masih minim, disebabkan faktor minimnya informasi dan pengetahuan tentang hak penyandang disabilitas menjadi penyebab termasuk pengetahuan tentang hak penyandang difabilitas. Adanya miskonsepsi terkait desain universal menjadi masalah tersendiri, maka perlu adanya media informasi  untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya tentang aksesibilitas di tempat ibadah. Demikian kata Christian Pramudya, pegiat isu difabel saat meluncurkan video tutorial dan buku panduan singkat aksesibilitas dalam beribadah bagi difabel Tuli, pada zoomeeting yang digelar oleh BAZNAS, Rabu (12/1).

 

Tujuan riset sendiri adalah untuk menggali kebutuhan difabel Tuli dalam menjalankan kegiatan ibadah di tempat ibadah masjid/mushola, mendorong tempat ibadah/masjid/mushola memberikan layanan ramah Tuli melalui sarana dan pra sarana yang aksesibel melalui media media sosialisasi audio visual. Dan tujuan akhirnya adalah membuat media promosi dan edukasi tempat ibadah yang aksesibel bagi Tuli. Penerima manfaat ini bukan hanya mereka, para teman Tuli tetapi pengelola tempat ibadah dan masyarakat.  

 

Menurut Christian, banyak pihak terlibat dalam penelitian, yakni  DPD Gerkatin DIY, Komite Disabilitas DIY, pengurus masjid An-Nur Gambiran, Komunitas Tuli Kafe Susu Tuli (Kasuli), Mimosa Creative, Anagata, Eko Harsono, dan relawan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Aktivitas yang dijalani adalah : rapat koodinasi, survey cepat online, FGD memetakan kebutuhan difabel dalam beribadah, pembuatan buku panduan, pembuatan video pendek tutorial tempat ibadah yang aksesibel. Rapat koordinasi dilakukan selama dua kali koordinasi secara formal, koordinasi dilakukan juga secara non formal dengan pihak-pihak terkait  (Gerkatin DIY, pengelola Masjid, Komite Disabilitas  DIY).

 

Baca Juga: Berbagi Cerita tentang Kampus Akses dan Hak Keagamaan Bagi Tu

 

Christian juga menggunakan survey cepat online yang dilakukan untuk memetakan kondisi difabel Tuli di DIY dan sekitarnya terkait dengan akses beribadah serta kebutuhan difabel Tuli dalam aspek keagamaan. Sasaran survey adalah difabel Tuli yang beragama Islam,  berdomisili di DIY dan sekitarnya dan berusia lebih dari 17 tahun. Terdapat 37 responden dalam survey cepat dan seluruhnya adalah difabel Tuli.

 

Selain itu juga digunakan metode berkomunikasi, responden menggunakan bisindo,  30%nya juga menggunakan SIBI. Selain itu, kawan-kawan Tuli juga menggunakan metode oral/verbal, tulis dan isyarat alami. 100% mereka pernah beraktivitas di masjid (shalat berjamaah, shalat Jumat, pengajian). Masjid yang sering diakses adalah masjid di esitar rumah, masjid besar/agung,  dan masjid di kampus.

 

Temuan-temuan dari survey ini adalah kendala Tuli dalam mengikuti kegiatan di masjid disebabkan tidak ada interpreter (JBI), tidak ada subtitle, belajar iqro atau alquran tidak tersedia guru Tuli atau guru. dengar yang bisa berbahasa isyarat. Mereka juga tidak bisa mendengar azan, ketaktersediaan buku bahasa isyarat hijaiyah dan belum punya tempat ibadah untuk solusi.

 

Dari penelitian ini diharapkan adanya fasilitas teks dan juru bahasa isyarat, sangat mendukung komunitas Tuli dalam bahasa yang mudah dipahami oleh mereka, yaitu Bahasa Isyarat. Dukungan harus selalu ada untuk mewujudkan impian dan harapan komunitas Tuli muslim agar memiliki akses alquran dan Islam dalam bahasa isyarat serta akses informasi ramah dan aman. Mereka juga berharap ada fasilitas yang mendukung  serta tingkatan kesadaran masyarakat, muslim Tuli yang harus bisa membaca alquran dengan bahasa isyarat  hijaiyah dan gerak bibir, pelatihan membaca alQuran dengan bahasa isyarat hijaiyah dan gerak bibir sehingga Tuli lebih yakin untuk beribadah haji.

 

Setelah melakukan tahapan FGD untuk memaparkan hasil survey,  maka lahirlah pemetaan data difabel, beserta kebutuhannya oleh pengelola masjid, penyadaran masyarakat terkait dengan perspektif difabilitas, penyediaan akomodasi yang layak di tempat ibadah, mendorong adanya pilot project tempat ibadah yang ramah difabel.

 

Video pendek tutorial tempat ibadah yang aksesibel sendiri menggambarkan secara sederhana kebutuhan difabel Tuli dalam beribadah. Pembuatan video dilakukan dengan setting yang mendekati ideal kegiatan ibadah bagi difabel Tuli. Di dalam video dijelaskan apa saja yang harus disediakan selama kegiatan ibadah maupun aktivitas keagamaan bagi difabel Tuli.[]  

 

Reporter: Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.