Lompat ke isi utama

Alat Bantu Kok Justru Bikin Difabel Malu?

Solider.id, Pangkalpinang – Boleh jadi ada banyak dari kita yang sudah merasa puas sebab sudah mampu ciptakan alat bantu, teknologi, atau fasilitas yang dapat mendukung kegiatan dan partisipasi difabel di masyarakat. Boleh jadi kita kerap busungkan dada sebab merasa sudah pernah mencipta produk yang disebut ‘Tekhnologi assistif’. Boleh saja kita juga koar-koar ke seantero jagat bahwa difabel sudah bisa terima tekhnologi yang kita buat. Boleh saja. Sah saja. Memang semua itu bersumber dari niat dan rasa ingin bantu difabel di Indonesia. Namun, sudahkah kita perdalam pengetahuan tentang apa-apa saja yang perlu digarisbawahi saat kita hendak ciptakan alat bantu?

 

Cobalah perhatikan aspek penampilan alat yang dibuat, dan jangan membuat difabel Nampak aneh dan konyol. Suatu tekhnologi asistif tentu dibuat agar punya guna bagi difabel. Sekian banyak rumus dan teori, bisa jadi dituangkan agar alat tersebut tercipta. Namun, kadang kita kerap lupa bahwa alat yang kita buat justru membuat difabel tersebut nampak aneh. Misal, tongkat sensor yang mungkin berwujud seperti tongkat Mak Lampir, sepatu sensor super besar bagai sepatu ‘Si Komo’, jaket sensor super tebal, dan lain-lain. Coba tebak, apakah difabel berani pakai kalau bikin ribet dan membuat dirinya nampak konyol?

 

Perhatikan pula kenyataan bahwa difabel juga manusia. Mereka punya gengsi juga, tentu saja, ketika berada di tengah masyarakat. Tak mustahil difabel bersungut-sungut seraya mengatakan, “Bola mataku yang rusak saja sudah jadi bahan perhatian orang, eh ini ditambah lagi harus pakai tongkat segede gaban kayak tongkat Mak Lampir!”

 

Apa kata dunia? Maka kawinkanlah gagasan, kreatifitas, dan pengetahuan dengan kewajaran. Coba saja tanya pada dirimu, mau tidak pakai alat bantu yang justru bikin jadi pusat perhatian? Tentu tidak, bukan?

 

Menyoal tentang penampilan dan penampakan tekhnologi asistif, bisa jadi banyak dari kita lupa. Lupa, betulan lupa, atau bahkan pura-pura lupa. Mirip judul lagu anak muda saja. Namun, jangan keterusan lupanya. Bahaya. Kasihan difabel kita. Maka memang betul kata kakek nenek kita, jangan banyak bicara dulu kalau belum banyak isi di kepala. Coba gali. Coba tanya. Coba buka mata. Coba jangan nyerah membuat apa adanya.

 

Contoh nyata pengabaian akan bentuk dan rupa tekhnologi asistif nampaknya pernah ditunjukkan oleh sebuah perusahaan alat telekomunikasi. Pada tahun 2011-an, banyak iklan bertebaran tentang ponsel bicara yang bisa juga digunakan difabel Netra. Penulis yang juga merupakan difabel Netra, sempat mencoba ponsel yang bisa didapatkan dengan mudah di gerai-gerai ponsel itu. Maklum saja, penulis tinggal di desa, dan sungguh sulit mencari tempat maupun organisasi kedifabilitasan yang bisa membantu penulis mendapatkan ponsel yang lebih layak. Alhasil dibeli lah ponsel bicara tersebut.

 

Namun, ponsel tersebut sungguh jauh dari rasa nyaman. Tidak perlu menyoal tentang fitur aksesibilitas, dari suara pembaca layarnya saja sudah membuat tidak nyaman. Tiap kali kita bernavigasi dan mengoperasikan ponsel itu, pembaca layer akan bersuara kencang sekali. Seantero kampung rasa-rasanya bisa mendengarnya, kalau boleh sedikit hiperbola. Volume pembaca layarnya tidak bisa direndahkan. Berisik sekali. Hal ini tentu membuat pengguna menjadi kurang nyaman ketika mengggunakan sebab orang-orang di sekitar dapat juga mendengarkan isi dan kegiatan apa yang sedang kita lakukan dengan ponsel kita. Tidak ada privasi, bukan?

 

Jangan cari pembelaan atas apa yang nampak. Bisa jadi Sebagian dari kita akan mengatai berlebihan ketika mempersoalkan suara dan bunyi. Namun, sungguh ini bukan perkara remeh temeh. Sudah barang tentu semua mata dan telinga akan tertuju pada difabel Netra yang ponselnya mengeluarkan suara kencang sekali itu. Maka tak mustahil juga jika ada masyarakat umum yang beranggapan bahwa dunia para difabel memang aneh sampai-sampai ponselnya saja selucu itu. Suaranya aduhai kencang. Sungguh, jangan biarkan stereotipe ini menempel pada difabel. Tak senada dengan prinsip ‘Mewajarkan’ difabel di masyarakat, bukan?

 

Sudah saatnya kekonyolan-kekonyolan di masa lalu mulai dihilangkan. Jangan sampai niat baik ciptakan alat assistive justru jadi belati. Tentu kita tak mau difabel kita semakin dilabeli dengan cap-cap negatif, seperti ‘Aneh’, ‘Tak wajar, ‘Konyol’, ‘Lucu’, dan sejenisnya. Sudah lama kita bersama-sama berjuang mematahkan stigma dan pelabelan, masa harus menambah lagi deretan stigma dan pelabelan itu?

 

Sekali lagi, niat semua pihak ciptakan assistive technology tentu patut dan harus sekali diacungi jempol. Niat baik. Niat positif. Niat tulus, tentu saja, dalam upaya menciptakan lingkungan dan masyarakat inklusif. Pun penulis, sangat mengapresiasi sekali tiap tekhnologi dan produk yang dibuat dan diperuntukkan untuk difabel. Kesemua itu sungguh sangat membantu kehidupan dan kegiatan kami para difabel. Namun, kesemua itu akan Nampak lebih indah dan cantik dan semakin mewajarkan difabel jika saja dibuat dengan pemahaman mendalam atas prinsip-prinsip yang patut diperhatikan ketika membuat alat bantu bagi difabel.

 

Tak hanya mereka yang membuat saja, para difabel pun perlu ambil peran. Kerap difabel dilibatkan dalam proses perancangan dan pembuatan alat bantu. Kerap juga pihak-pihak pembuat mendengarkan masukan dari para difabel. Alangkah baiknya jika para difabel juga membekali diri dengan pengetahuan akan prinsip-prinsip dasar pembuatan dan penyediaan tekhnologi asistif, yang salah satunya adalah aspek ‘Kewajaran’. Dalam memberikan masukan hendaknya lebih menyeluruh. Ingat, kita punya gengsi juga layaknya masyarakat umum. Ketika mereka saja memakai alat penunjang kegiatan sehari-hari dengan mode dan style yang wajar, mengapa difabel justru dibuat ‘Aneh’?

 

Yang sudah baik, tetaplah dijaga. Kepedulian semua akan tekhnologi yang ramah, teruslah dipupuk dan dipelihara. Semua pihak patutlah saling beri rasa dan cakrawala agar alat yang dicipta lebih tepat guna dan wajar dipakai difabel kita! []

 

Penulis: Eka Pratiwi Taufanti

Editor : Ajiwan Arief

 

Sumber: Mata Kuliah Technology and Disability di Flinders University, Adelaide, South Australia

 

The subscriber's email address.