Lompat ke isi utama
poster kegiatan webinar

Kunci Sukses Upaya Difabel Mampu Berdaya Hingga Mandiri

Solider.id – Mengutip pesan almarhum tokoh cendikiawan tanah air yang karyanya diakui masyarakat dunia, Prof. Dr. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie FREng, menyampaikan ‘Keberhasilan bukanlah milik orang pintar. Namun, keberhasilan itu adalah milik mereka yang senantiasa berusaha.’ Ungkapan ini pun dirasakan oleh masyarakat difabel. Mereka yang gigih dan terus usaha, berkarya, berdaya pada akhirnya mampu mandiri.

 

Saat ini kehidupan sosial masyarakat difabel jauh lebih baik. Secara profesi sudah mulai beragam ditekuni. Dalam bidang olahraga misalnya, banyak difabel berprestasi yang dapat meningkatkan ekomoninya. Pun, dalam bidang lainnya seperti UMKM, ada yang berhasil menjadi pelaku wirausaha hingga membuka peluang kerja bagi difabel dan masyarakat umum. Sektor pekerjaan yang digeluti juga beragam, baik pekerja di tempat swasta maupun dipemerintahan, hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui tes CPNS.

 

Perjuangan mereka tentu lebih berat dari masyarakat secara umum. Selain memiliki hambatan kedifabelan, akses sarana dan prasarana publik juga belum seutuhnya mampu mendukung dalam pemenuhan hak mereka. Marak kasus CPNS difabel yang lolos, namun dicoret dari hak yang semestinya. Atau fasilitas penunjang kerja yang belum aksesibel, hingga mereka memilih bergelut dalam bidang kewirausahaan.

 

Kondisi tersebut menjadi potret tersendiri, bagaimana upaya kegigihan yang harus diperjuangkan masyarakat difabel, hingga mereka bisa mandiri seperti sekarang. Meski tidak dapat dipungkiri, diluar sana memang masih banyak lagi masyarakat difabel yang masih harus terus berjuang untuk kemandiriannya.

 

Mereka yang berkarya, berdaya hingga mandiri

Achmad Budi Santoso, difabel fisik amputi kaki asal Jawa Timur, sekarang PNS di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. Ia juga dianugerahi sebagai Tokoh Inspiratif Award Bike To Work 2021.

“Saya pernah gagal ikut tes CPNS, dan baru berhasil lolos setelah dua kali ikut. Itu pun karena sudah mendapatkan pengalaman dari yang sebelumnya`,” ungkap pria yang akrab disapa Budi.

 

Ia juga berbagi tips upaya dalam mengikuti tes CPNS. Menurut Budi, niat yang kuat menjadi faktor dorongan utama, selain terus belajar dan berdoa. Selama mengikuti tes, ada tiga bidang yaitu tes intelegensi umum, tes wawasan kebangsaan dan tes psikologi atau karakter.

“Kerjakan semua soal walaupun kita tidak tahu pasti jawaban benarnya, dan isi pertanyaan yang mudah dulu agar waktu yang disediakan dapat kita manfaatkan sebaik mungkin,” katanya kepada peserta webinar Minggu pagi (16/1).

 

Ada hal yang sangat mengesankan bagi Budi saat mengurus persyaratan CPNS. Surat keterangan kedisabilitasan yang menjadi satu syarat, ternyata malah dipertanyakan oleh dokter yang memeriksanya.

“Dokter rumah sakit juga ada yang belum paham apa itu surat keterangan kedisabilitasan. Saat saya minta surat keterangan tersebut, justru dokter malah bertanya yang seperti apa? Lalu, saya coba menyampaikan surat itu digunakan apa dan menarasikan surat tersebut agar dokter menuliskan sebab kedisabilitasan saya dan menyatakan saya disabilitas,” kenang ia.

 

Pada fase ini, banyak difabel yang kesulitan. Mereka sulit menjelaskan pada dokternya, sementara dokter juga ada yang belum memahami surat keterangan tersebut. Salah satu asumsi dokter karena difabel bisa terlihat secara fisiknya, walaupun ada difabel yang tidak terlihat, mereka ada cara assessment-nya tersendiri.

 

Achmad Budi Santoso, hanya salah satu contoh difabel yang lolos CPNS dengan gigih meraihnya setelah pernah gagal. Dokter Romi difabel pengguna kursi roda, Baihaki difabel Netra, perjuangan mereka lolos CPNS dengan nilai tertinggi yang dicoret dari haknya pun, lebih gigih lagi hingga menempuh jalur birokrasi dan peradilan.

 

Febrina Bayurini, difabel fisik yang juga pengusaha CO Founder Kesuma Indonesia. Ia meraih The Most Inspirational Person USAID Mitra Kunci, Inklusivitas Award tahun 2021. Menggeluti dunia kewirausahaan bukan hal mudah. Pengetahuan, informasi, relasi hingga dana untuk modal usaha menjadi faktor penting.

“Saat ini banyak suntikan modal yang diberikan untuk pelaku UMKM, termasuk difabel. Untuk memenangkannya, dalam presentase permodalan akan ada pertanyaan, nanti modalnya mau digunakan untuk apa? Nah, kita hindari jawaban yang digunakan untuk barang habis pakai. Jawablah untuk beli barang yang berkelanjutan. Misal usaha konveksi, jangan untuk beli kain, tapi untuk beli mesin, peralatan jahit dan lainnya. Dalam pengajuan proposal pun, cantumkan kebutuhan sesuai dengan harga pasar aslinya, tidak perlu digelembungkan karena itu malah yang membuat pengajuan kita ditolak,” terang ia.

 

Kirana difabel Tuli asal Kediri sukses menjadi influencer, youtuber, selebgram dengan kesabaran dan kepercayaan dirinya. Bahkan saat ini, Kirana juga memanfaatkan media digital untuk merambah bidang usaha yang ditekuni hingga mampu berpenghasilan sampai jutaan rupiah tiap bulannya.

“Sebagai rasa bersyukur jangan minder, tetap semangat, percaya diri dan jangan lupa bahagia,” ungkap ia dalam bahasa isyarat.

 

Dukungan keluarga juga menjadi hal penting yang dapat mengantarkan mereka sukses. Pemerintah dan segala kebijakannya perlu mendukung perlindungan dan kesamaan kesempatan terhadap masyarakat difabel untuk terus berdaya hingga mandiri.

 

Upaya memberikan fasilitas yang aksesibel dan layanan yang ramah difabel, perlu terus ditingkatkan. Peluang-peluang edukasi, vokasi, hingga pendanaan kewirausahaan atau penempatan kerja masih banyak dibutuhkan masyarakat difabel untuk menunjang kemandirian mereka. Praktik-praktik diskriminasi sudah saharusnya dihilangkan untuk menjunjung kesamaan hak dan kesempatan bagi difabel.[]

 

Reporter:  Srikandi Syamsi

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.