Lompat ke isi utama

Sejauh Apa Langkah Perempuan Difabel

Solider.id - Sudah tidak menjadi rahasia lagi, perempuan di Indonesia ditempa berbagai pantangan. Dan pantangan atau hambatan-hambatan ini muncul dari akar-akar budaya patriarki, yang sudah terlalu lama melilit Nusantara. Segala pengetahuan terus diproduksi dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman, tidak peduli sudah seberapa majukah sekarang dunia. Alhasil perempuan menjadi objek paling rentan dari praktik budidaya pengetahuan patriarki itu.

 

Perempuan bahkan tidak dipandang pantas untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Menjadi perempuan, berarti kau siap menanggung segala kesalahan. Sementara laki-laki kerab diletakkan dalam kondisi termaklumi. Seolah jika lelaki melakukan kesalahan, itu biasa saja, karena toh dia adalah lelaki yang pantas saja melakukan kesalahan. Namun beda lagi ceritanya jika perempuan yang melakukan kesalahan.

 

Jangankan melakukan kesalahan, sesimpel memutuskan pulang malam pun perempuan akan disudutkan. Dianggap orang nakal, perempuan hina dan lain sebagainya. Diskriminasi berbasis gender seperti ini, tidak bisa kita pungkiri, memang terus menerus dan masih sering terjadi di Indonesia.

 

Lalu, apa kabar perempuan difabel di Indonesia? Menjadi difabel saja sudah menjadi tantangan besar, ia akan dikucilkan dan banyak disalahkan atas hal yang menurut orang lain tidak bisa ia lakukan. Ditambah lagi dengan statusnya sebagai seorang wanita.

 

Baca Juga: Hegemoni Cantik dan Perempuan Difabel

 

Mendekati penghujung tahun lalu, saya dan dua orang peneliti muda PerDIK bertolak dari Makassar ke Solok Selatan (salah satu kabupaten di Sumatera Barat) untuk melakukan penelitian yang ingin mencari tahu, bagaimana kondisi pekerja perempuan difabel di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di kabupaten Solok Selatan. Selain bertemu dokter Romi, dokter gigi cantik yang pernah viral karena kelulusannya sebagai abdi negara dibatalkan begitu saja, kami juga bertemu banyak pekerja perempuan difabel lainnya. Pekerja-pekerja perempuan difabel, yang membuat saya sampai pada satu titik kesadaran.

“Perempuan difabel memang sangat rentan ....”

 

Kami banyak bertemu teman-teman perempuan difabel. Mulai dari yang bekerja di tempat kerja formal, contoh seperti kantor DPR, sampai yang mendirikan usaha rumahan sendiri. Ini menunjukkan bahwa, tidak peduli dia difabel atau tidak, dia perempuan atau lelaki, ia tetap makhluk sosial. Di mana ia juga tetap ingin berkontribusi pada lingkungan sosialnya, termasuk dengan cara bekerja dan membantu perekonomian keluarga dari usaha-usaha sederhana yang mereka jalankan.

 

Solok Selatan adalah daerah yang belum terlalu berkembang. Jangankan Grab atau Gojek, angkutan umum atau yang biasa kami sebut Pete-pete di Makassar pun jarang sekali ada di jalanan Solok Selatan. Alhasil selama di sana, kami hanya jalan kaki untuk mencari makan atau paling syukur menyewa mobil untuk bermobilitas. Di sana kami bisa melihat, bagaimana kondisi perempuan difabel di daerah yang bisa disebut desa, dan bagaimana mereka berkontribusi dalam dunia kerja.

 

Pendidikan dan support dari keluarga memang adalah hal yang sangat penting, untuk mendorong perempuan difabel atau siapapun itu agar bisa berdaya di masyarakat luas. Dalam konteks perempuan difabel dan dunia kerja, mereka lebih bisa mengaktualisasikan diri jika memiliki support dan bekal pendidikan yang cukup. Setidaknya, mereka punya titel yang bisa dibawa saat mendaftar bekerja. Atau yang paling sederhana, mereka bisa menggunakan setiap pengetahuan dan kemampuan yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan, untuk menjadi pekerja yang baik.

 

Dari penelitian soal pekerja perempuan difabel itu, saya belajar banyak hal. Soal upaya bertahan hidup dan soal bagaimana perempuan difabel diciptakan begitu kuat, begitu rentan tapi kemudian bisa menguatkan dirinya sendiri. Saya salut karena mereka bisa terus berupaya, memanfaatkan segala cara yang dimiliki untuk bekerja atau mendirikan usaha. Usaha sekecil apapun, yang jelas bisa membuat mereka senang dan turut berkontribusi dalam keluarga.

 

Sebenarnya di luar dari undang-undang yang telah dibuat pemerintah soal penjaminan kesempatan bekerja bagi difabel, di luar dari cerita-cerita soal perjuangan organisasi masyarakat sipil dalam memperjuangkan hak difabel. Sesekali kita juga harus berhenti, menengok langsung upaya-upaya perempuan difabel, yang dengan naluri sosialnya bisa mandiri mencari jalan kehidupannya sendiri. Dan sesekali,, kita harus melihat, sejauh apa langkah perempuan difabel? Kemudian barulah kita melanjutkan kerja-kerja aktivisme dengan hati yang lapang. Karena dari sekian banyaknya hambatan, diskriminasi dan lain sebagainya. Setidaknya orang-orang yang sedang kita perjuangkan haknya juga sedang berjuang, dan memiliki semangat yang sama dengan kita.[]

 

Penulis: Nabila May Sweetha

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.