Lompat ke isi utama
animasi beasiswa dalam ilustrasi

Beasiswa Difabel - Beasiswa Yang Gaib

Solider.id - Beasiswa difabel adalah beasiswa paling tidak jelas, setidaknya begitulah menurut saya pribadi. Sejak SMA, saya terus mengikuti perkembangan senior-senior yang sudah kuliah, dan sedang berusaha mengurus beasiswa difabel ini. Di kampus negeri, contoh seperti UNM (Universitas Negeri Makassar), beasiswa ini sangat sulit didapatkan. Bahkan ketika kita ke pihak kampus dan berkata ingin mendaftar beasiswa difabel, pihak kampus akan menolak mentah-mentah dengan alasan kampus tidak menfasilitasi beasiswa difabel. Atau lebih parahnya, tidak tahu menahu soal adanya beasiswa itu.

 

Kak Yoga Indar Dewa, yang sekarang menjadi ketua DPD Pertuni Sulawesi Selatan masa bakti 2021-2026 adalah salah satu orang, atau bisa dibilang satu-satunya orang di UNM yang giat mengadvokasi masalah beasiswa difabel ini. Dan hingga sekarang, saat dia memasuki semester enam perkuliahan, hasil dari proses advokasi tidak kunjung mendapatkan titik terang. Dari cerita-cerita yang saya dapatkan, ternyata ada mahasiswa difabel di UNM yang menerima beasiswa difabel. Tetapi memang berbeda jurusan dengan Yoga. Asumsi awal, seorang teman itu bisa mendapat beasiswa difabel karena memiliki jalinan kekeluargaan dengan petinggi kampus. Sementara, begitulah dugaan awal saya pribadi.

 

Tetapi memang tidak hanya di UNM, beasiswa difabel ini menjadi gaib di beberapa universitas yang tetap bertahan dengan pernyataan awal, bahwa mereka tidak punya kapasitas menfasilitasi beasiswa itu. Dugaan awalku, pihak Dikti sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas beasiswa difabel ini, masih kurang melakukan sosialisasi ke pihak kampus soal keberadaan beasiswa difabel. Alhasil pihak kampus menjadi tidak tahu soal ada atau tidaknya beasiswa ini.

 

Saya sendiri, saat dinyatakan lulus dalam pendaftaran UTBK, langsung mencoba mendaftar beasiswa unggulan. Harap-harap menunggu, saya lupa memasukkan transkrip raport, dan akhirnya tidak lulus. Kemudian saya mencoba mendaftar beasiswa KIP, tetapi kondisi perekonomian keluarga tidak dalam kategori penerima beasiswa KIP Kuliah. Dengan sedikit pesimis, saya mengunjungi rektorat kampus dan membawa beberapa dokumen syarat pendaftaran beasiswa difabel.

 

Saya dikuatkan oleh seorang teman yang berkuliah di UNP (Universitas Negeri Padang). Kak Meza, begitu biasa saya memanggilnya, terus meyakinkan saya bahwa saya bisa mendapat beasiswa difabel. Awalnya saya juga sangsi. UNM saja yang katanya kampus inklusi tidak menfasilitasi mahasiswanya yang hendak mendaftar beasiswa difabel, apalagi Unhas yang jarang sekali memiliki mahasiswa difabel? Tapi dorongan dari Kak Meza menguatkan saya. Terus berkoordinasi dengan Kak Meza, akhirnya saya mendapat info dokumen-dokumen apa saja yang diperlukan saat akan mendaftar beasiswa difabel. Selain itu, saya juga mengantongi surat edaran beasiswa difabel, yang saya dapat dari Kak Yoga. Berangkatlah saya ke rektorat dengan berbekal dukungan dari Kak Meza, dan surat edaran dari Kak Yoga.

 

“Beasiswa difabel? Tunggu coba dicarikan infonya dulu. Soalnya belum pernah ada difabel di sini ...” begitu kata staf kemahasiswaan saat saya datang.

 

Agak lama mencari, akhirnya dapat. Ternyata beasiswa difabel itu masuk ke dalam golongan beasiswa afirmasi. Saya kemudian memasukkan berkas, dan beberapa bulan kemudian dihubungi untuk mengambil ATM di bank kampus. Itulah proses sederhana pendaftaran beasiswa difabel.

 

Kak Meza juga bercerita, dia awalnya begitu. Datang di pihak kampus, katanya tidak ada beasiswa difabel, tetapi setelah dicari tahu ternyata memang ada. Barulah di tahun-tahun berikutnya Kak Meza bisa membantu juniornya yang difabel untuk mendaftar. Pihak kemahasiswaan juga bilang ke saya, kalau ada teman difabel yang sedang atau akan berkuliah di Unhas, tolong berkabar dan berkoordinasi agar bisa segera diuruskan.

 

Kesimpulannya, beasiswa difabel memang ada. Tetapi seperti gaib, karena kurangnya sosialisasi. Untuk menerima beasiswa difabel kita perlu dua hal. Yang pertama, keterbukaan dari kampus, dan sejauh apa kampus ingin mengakomodir mahasiswanya yang difabel. Yang kedua, keaktifan dari mahasiswa difabel itu sendiri untuk mengadvokasi, kalau perlu mendesak kampus untuk menguruskan beasiswa difabel ini. Karena beasiswa difabel tidak bisa didaftari sendiri, melainkan harus melalui perantara kampus.

 

Penulis: Nabila May Sweetha (Mahasiswa jurusan Ilmu Politik Unhas, penerima beasiswa difabel 2021).

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.