Lompat ke isi utama
salah satu kegiatan produksi tim media Sigab

Mengenal Lebih Dekat Divisi Media Sigab

Solider.id - Di tengah-tengah keramaian kendaraan di kota Yogyakarta, saya berjalan pelan-pelan dan berusaha tetap berada di kiri jalan.  sesekali suara tak.. tuk.. tak.. tuk.. tongkat beradu dengan aspal jalanan yang keras menjadi musik tersendiri dalam hingar bingar kendaraan.

 

Tujuan perjalanan ini adalah menyambangi sebuah lembaga yang bernama   SIGAB  (Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel Indonesia). Perjalanan sepuluh menitan yang biasanya terasa lama nan terik seakan begitu singkat akibat sejuknya suasana khas pedesaan. Sesampainya disana saya langsung diantarkan ke ruangan cukup luas disana terdapat meja kerja yang memanjang dengan kursi-kursi di sekelilingnya.

 

Ajiwan Arief selaku redaktur media solider.id yang merupakan salah satu divisi yang ada dalam lembaga SIGAB memberikan jawaban demi jawabannya dengan tetap mengulum senyum. Hal tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap jalannya wawancara yang kami lakukan.

"Tugas pokok divisi media  adalah mempromosikan serta mengangkat isu-isu disabilitas kepada khalayak umum. Selanjutnya kenapa isu-isu disabilitas ini penting untuk diangkat? Seperti yang kita ketahui difabel adalah kelompok yang minoritas, terpinggirkan, termarjinalkan. Sehingga  perlu media untuk menyuarakan isu-isu tersebut.

 

“Kemudian terkait dengan apa yang telah kami kerjakan, wah banyak sekali mas," serunya dengan suara yang renyah sembari lagi-lagi tersenyum. "Di sini kami punya banyak platform yang kami optimalkan dalam mengangkat isu-isu  difabel. Salah satunya yang hingga saat ini masih eksis yaitu solider. Perlu diketahui solider ini merupakan anak dari lembaga sigab, solider sendiri sudah berdiri sejak tahun 2005. Mulanya Solider ini berbentuk media cetak, namun pada tahun 2012 atas dasar aksesibilitas dan perkembangan zaman, kami mengubah bentuk media cetak kami menjadi media online.

 

Dulu media ini bernama Solider.or.id semenjak saat itu media kami semakin berkembang  dan tetap terjaga konsistensinya," ucapnya.

 

Ajiwan juga menambahkan  tahun 2017  domain Solider.or.id telah diubah menjadi solider.id, ia menjelaskan nama domain dengan .or.id lebih terkesan seperti keorganisasian sedangkan solider sendri ingin terus berkembang, memperluas jangkauan pembacanya. Sehingga domain solider.id dirasa lebih sesuai dengan tujuan media solider sendiri.

 

Saya hanya bisa terangguk-angguk menyepakati pemikiran tersebut. Mengingat pengalaman dan pengetahuan tentang media masih sangat minim kuketahui. Obrolan terus berlanjut, Ajiwan seolah semakin semangat memaparkan dan menceritakan kiprah media solider ini di zaman ke zaman.

"Di tahun 2021 silam kami mencoba memperluas jangkauan minat baca pembaca potensial kami dengan cara membuat newsletter dan ternyata hal tersebut mampu menarik minat pembaca potensial kami hasil yang menggembirakan tersebut diimbangi dengan peningkatan subscriber di channel YouTube kami,"

 

Ajiwan juga menyinggung terkait siapa saja yang menjadi staf divisi media, siapa saja yang mendukung divisi tersebut dan apa tantangan yang dialami oleh tim media solider.

 

"Ada empat staf penting di  divisi media ini, yang pertama yaitu Muhammad Ismail sebagai koordinator, kemudian saya sebagai redaktur media solider kemudian robandi sebagai koordinator pengembangan Youtube dan podcast dan Bima Indra sebagai desainer newsletter dan manajer untuk program media respons Covid – 19.

 

Selain staf inti kami juga memiliki kontributor, kontributor ialah orang-orang yang berkontribusi menulis di media Solider.id,"

Dirinya mengaku bahwa tantangan terbesar terjadi pada tahun 2021 dimana saat itu sedang gencar-gencarnya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di bulan April tahun 2021 website sigab sempat dawn dan saat itu mereka sangat berupaya keras agar website tersebut dapat kembali seperti semula.

 

Tidak hanya cukup sampai di situ saja, Ajiwan juga menceritakan perihal akibat pemberlakuan PPKM pihaknya sampai  tidak bekerja di kantor lagi sejak bulan Juli hal tersebut tentu saja berpengaruh pada  tidak maksimalnya kinerja anggotanya.

 

Namun demikian divisi media tidak lantas vakum faktanya setiap bulannya media solider tetap memproduksi tulisan sebanyak 50 -100 tulisan per bulan. Hal tersebut adalah bukti bahwa meskipun pandemi, meskipun terbengkalai namun konsistensi Solider dalam menyuarakan isu-isu difabel tetap berjalan.

 

Setelah bertemu Ajiwan, saya juga sempat berbincang-bincang sebentar bersama Robandi.

 

Ia merupakan salah satu staf inti di divisi media.

Pasalnya selain menjadi asisten redaktur diapun menjadi koordinator Youtube dan Podcast di Solider.id.

"Pertama agar masyarakat aware terhadap isu disabilitas minimal mereka mampu mengidentifikasi jenis kedisabilitasan seseorang, kedua Solider memiliki harapan besar bahwa isu tentang disabilitas ini akan menjadi isu nasional maksudnya, hal tersebut menjadi isu prioritas bukan lagi sebagai isu yang terpinggirkan." Ungkapnya saat di tanya mengenai tugas pokok divisi media.

 

Ia juga menjelaskan apa-apa saja yang telah di hasilkan oleh divisi media diantaranya, produk pengetahuan.

Produk pengetahuan ini meliputi berita (website Solider.id), podcast (Difapod) juga channel YouTube (Solider TV).

Kedua adalah berjejaring dengan media lain. Baik itu media komunitas ataupun media arus utama.

"Dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke belakang, solider telah banyak berjejaring dengan berbagai media baik itu media komunitas maupun media arus utama, entah itu media milik difabel ataupun media milik non difabel, selain itu kami juga telah tergabung ke dalam

keorganisasian kewartawanan seperti AJI Jogja dan lain sebagainya.

 

Saya berpendapat bahwa berjejaring itu sangat penting, contohnya saja, sekarang di AJI Jogja mereka mulai  memperbincangkan terkait isu-isu disabilitas dan itulah yang saya maksudkan tadi mengapa kok berjejaring itu sangatlah penting. Semakin kita sering berjejaring, bersentuhan dengan orang lain  maka gerakan kita akan semakin luas, kemudian yang ketiga pemberdayaan teman-teman disabilitas, salah contohnya adalah memberi bekal dasar-dasar jurnalistik kepada teman-teman difabel agar mereka mampu berdaya, seperti yang sama-sama kita ketahui image difabel kalau tidak menjahit ya memijat. Oleh karena itu di sigab kami memberikan kesempatan bagi mereka yang suka menulis untuk menjadi kontributor kami," Jelasnya panjang lebar sembari sesekali menghisap dalam-dalam rokoknya. Saya hanya mendengarkan dengan seksama. satu, dua kendaraan melintas dengan suara memekakkan telinga sehingga membuat saya harus tetap fokus mendengarkan.

 

Dia menceritakan bahwa saat ini divisi media telah memproduksi beberapa produksi yang pertama adalah buku, buku ini memiliki tema besar yaitu keberpihakan media terhadap disabilitas yang kedua tulisan-tulisan yang ada di website kami (Solider.id) kemudian kami juga mengelola channel YouTube yang mana dalam channel kami ini berisi tentang hal-hal yang terkait dengan difabel, dan terakhir kami juga memiliki podcast.

 

Perbincangan yang sangat bermakna, sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi Kepenyiaran Islam, sungguh beruntung saya diterjunkan kampus ke Lembaga ini. Meski media ini masih kecil dan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan media arus utama, namun rupanya Lembaga ini sungguh bekerja dengan hati memperjuangkan mempromosikan perlindungan dan pemenuhan hak difabel.[]

 

Penulis: M. Amin

Editor   ; Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.