Lompat ke isi utama
POSTER KEGIATAN I AM SAVE

Tak Kenal Maka Tak Seru, Talksow Pengenalan Difabel Netra jadi Bikin Tahu

Solider.id Ragam hambatan pada penglihatan serta bagaimana mereka dapat mengakses fasilitas yang ada, tantangan dan kesulitan yang dialami, dan cara masyarakat umum berinteraksi dengan difabel Netra, semua isu tersebut dikemas dalam kegiatan talkshow Virtual bertajuk ‘Mengenal Ragam Disabilitas Netra,’ bersama Blindman Jack, aktivis dan komika, juga Suharto, S.S., MA, Direktur SIGAB Indonesia, pada Sabtu pagi (15/1). Kegiatna merupakan bagian dari serangkaian proyek I AM SAVE yang didanai oleh Uni Eropa, bekerjasama dengan Humanity and Inclusion dan Sigab Indonesia

 

Suharto memaparkan, difabel Netra Low Vision memiliki ragam berbeda. Mereka ada yang termasuk kategori Low Vision ringan, sedang hingga berat. Kondisi tersebut tergantung kepada berapa banyak fungsi dari sisa penglihatan yang masih dimilikinya.

“Memiliki hambatan penglihatan membuat harus ekstra hati-hati dalam bermobilisasi, terlebih saat malam hari. Low Vision biasanya, mereka jarang menggunakan tongkat sebagai alat bantu. Padahal, fungsinya untuk identitas diri dan membuat orang lain tahu hambatan kita, selain untuk membantu meraba kontur tanah yang kita injak,” kata ia.

 

Salah satu alasan para Low Vision enggan menggunakan alat bantu adalah, karena mereka merasa masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan. Meski pada kondisi tertentu mereka mengalami kesulitan yang lebih dari biasanya. Seperti di tempat-tempat yang baru mereka kunjungi, atau saat naik turun undakan tanagga yang warna lantainya senada.

“Saat naik tangga meski warna lantai senada, mungkin Low Vision masih mampu atau berani. Namun, saat turun tangga biasanya sering alami kesulitan. Upaya demikian perlu dibenahi dari sisi aksesibilitas seperti memberi warna tegas pada ujung tiap undakan tangga sebagai pembatas,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Peningkatan Kapasitas Bagi Pelaku Perlindungan Sosial

 

Menurut Suharto, masyarat belum banyak mengenal karakteristik difabel Netra, dan masih diperlukan edukasi kepada kedua pihak. Baik difabelnya itu sendiri untuk tidak malu memperkenalkan dirinya difabel netra, dan kepada lingkungan agar mereka paham bagaimana cara memberikan bantuan kepada difabel Netra.

 

Suharto dan timnya terus melakukan advokasi, baik terhadap infrastuktur maupun nonfisik atau etika lingkungan. Sasaran utama untuk bangunan fisik atau infrastuktur adalah terhadap disainernya agar menciptakan disain-disain bangunan yang memperhatikan aksesibilitas masyarakat difabel secara keseluruhan. 

 

Pemilik nama panggung Blindman Jack pun turut memaparkan kondisi hambatan penglihatan yang dialaminya. Mulai dari Low Vision hingga akhirnya Totally Blind.

“Dikondisi tertentu kita bisa melakukan sesuatu tanpa ada masalah, dan saat-saat tertentu bisa berubah atau ketergantungan. Seperti terhadap cuara, cahaya dan lainnya. Untuk difabel, deskripsi dari sesiap benda atau hal lain, itu menjadi sangat penting untuk menajamkan ingatan bahkan meminimalisir kesalahan,” ungkap pria yang akrab disapa Bang Jack.

 

Menurutnya, deskripsi atau narasi terhadap difabel Netra sudah menjadi bagian dari edukasi. Salah satu hal penting yang sering dilebelkan terhadap difabel Netra adalah tentang profesi atau pekerjaan. Umumnya difabel Netra diidentikan dengan kemampuan dibidang pijit. Padahal, tidak demikian. Tidak semua difabel Netra memiliki keahlian tersebut, dan masih banyak kemampuan difabel Netra di bidang lain dalam pekerjaan.

“Mengambil pekerjaan yang sesuai dengan kelebihan kita. Hambatnya mungkin difabel pada umumnya belum dapat keluar dari yang kebiasaan pada umumnya. Contoh, kuliah banyak difabel yang milih PLB, padahal banyak bidang studi lain yang bisa diikuti. Harus berani mengeskplor kemampuan kita. Difabel bisa jadi penulis skenario film, dosen, komedian, atau profesi lain yang diluar biasanya,” papar ia.

 

Bang Jack juga meminta pada perusahaan saat melakukan tes perekrutan calon tenaga kerja difabel, harusnya dilihat kemampuannya. Dinilai bagaimana cara dia menyelesaikan pekerjaan yang akan ditugaskan, serta menyiapkan fasilitas penunjang kerja yang dibutuhkan.  

 

Yesi Maryam, perserta webinar mengapresiasi kegiatan tersebut dan menyarankan perlu adanya kampanye atau advokasi ke Perguruan Tinggi atau Asosiasi Arsitek atau Teknik Sipil supaya bisa dibangun standar infrastruktur yang lebih ramah bagi difabel.

“Ini betul sekali, bahkan kita butuh membuat satu buku tentang aksesibilitas sebagai alat kampanye agar lebih mudah,” demikian tanggapan Suharto dari Sigab Indonesia.

Edi Susanto dari Difakama menanyakan ragam difabel Netra. “Untuk mata minus kan juga ada hambatan penglihatan. Seperti saya, jarak 2 meter sudah tidak bisa baca, soalnya mata minus saya karena kelainan jaringan syaraf lunak yang menyebabkan mata jadi minus,” katanya.

 

Direspon Suharto, untuk mata minus bukan menjadi ragam dari difabel, karena masih bisa diatasi dengan kacamata dan ada kemungkinan untuk sembuh atau fungsi penglihatannya pulih kembali. Bedanya dengan Low Vision, alat bantu yang dibutuhkan banyak dan beragam tergantung sisa penglihatan yang dimilikinya, dan sulit bahkan tidak mungkin fungsi penglihatannya pulih.

 

Baik Suharto maupun Bang Jack memiliki kesepemahaman. Difabel Netra tidak bisa terlihat dari bentuk bola matanya. Ada yang bola mata untuh atau sama dengan orang awas pada umumnya, akan tetapi ia seorang Low Vision atau Totally Blind.

 

Di kalangan difabel Netra pun demikian, ada yang bola matanya untuh padahal, ia seorang Totally Blind. Dan ada yang bola matanya sedikit berbeda padahal, ia masih memiliki fungsi sisa penglihatan atau Low Vision.

 

Kondisi tersebut juga sangat perlu untuk diketahui masyarakat umum, untuk mempermudah mereka mengenali ragam difabel Netra. Sehingga, meminimalisir bentuk-bentuk kekeliruan penilaian terhadap difabel Netra.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.