Lompat ke isi utama
poster surya sahetapy

Berbagi Cerita tentang Kampus Akses dan Hak Keagamaan Bagi Tuli

Solider.id, Surakarta - Sudah empat tahun lamanya Surya Sahetapy menempuh pendidikan di Rochester Institute Technology (RIT). Ia memperoleh beasiswa dari luar negeri. Saat pandemi COVID-19 lalu, ia belajar jarak jauh dari Jakarta. Ia sudah berdiam kembali di kampus saat BAZNAS memiliki helatan via zoom meeting bertema pemaparan hasil beasiswa riset BAZNAS sebagai rangkaian aktivitas HUT BAZNAS ke-21.

 

Surya berbagi cerita tentang pengalamannya sebagai mahasiswa muslim yang sedang menjalani ibadah Ramadan di kota Rochester. Jumlah penduduk muslim di kota Rochester, Amerika Serikat sekira 19.000-21.000 orang dan ada 20-30 orang Indonesia dan Amerika-Indonesia tinggal di Rochester. Ada layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang bisa diakses oleh mahasiswa muslim pada saat penyelenggaraan shalat Jumat. Meski personal JBI bukan pemeluk agama Islam, tapi ketersediaan juru bahasa tetap ada.

 

Surya menambahkan, sebaiknya mahasiswa yang hendak berkuliah di Rochester membekali diri dengan kecakapan memasak lebih dulu. Sebab hal ini menjamin masakan yang disantap benar-benar halal menurut akidah agama Islam. Di sana Surya memasak dan menyiapkan masakan sendiri. Ia juga memiliki tips untuk banyak mencari banyak teman baru agar bisa diajak kerja sama. Siasat ini tentu dengan meninggalkan rasa malu dan sungkan.

 

Kalau ada teman yang memberi makan, maka saat pulang ke tanah air, teman tersebut boleh menitip makanan. Untuk akses mahasiswa Islam di luar kampus, ada international food market yang berjualan makanan halal yang pemiliknya adalah keluarga muslim asal Turki. Tersedia pula aplikasi muslim pro yang bisa diunduh, termasuk ada juga alarm getar yang bisa membantu membangunkan kala sahur.

 

Saat ini ada 150 JBI di kampus RIT dan 60-70 orang typist (juru ketik) untuk mendukung 1200 mahasiswa Tuli di RIT. Mereka tidak hanya menggunakan American Sign Language (ASL).  Karena beasiswa yang diperolehnya berasal dari luar negeri, Surya menjalani berbagai tahapan yakni dari mendaftar terlebih dahulu, kemudian baru mendapat informasi dan  langkah terakhir adalah mendaftar beasiswanya.

 

Tahun lalu saya Surya menjadi asisten seorang peneliti. Dan saat menjalani S2 ini ia mengajar ASL. Di Rochester, ia tidak mendapat kesempatan belajar saja namun juga bekerja. Di kampusnya tersebut, ada seorang profesor pengajar tapi ia tidak bisa berbahasa isyarat lalu mengontak JBI  yang datang dari orang dengar yang mencari dan menghubungi JBI.

 

Surya mengenal RIT setelah terlebih dahulu mengenal kampus Universitas Gallaudet, Amerika Serikat  dan pernah mendapat beasiswa kursus pendek selama sebulan. Tahun 2016 Surya bertemu dengan seorang professor yang memberi informasi bahwa ada beasiswa di RIT. Menurut Surya, RIT adalah kampus inklusif.  Saat itu Surya mengalami kebimbangan antara mendaftar di Univeritas Gallaudet atau RIT.  Proses pendaftaran ke RIT membutuhkan rekomendasi  seorang profesor.

 

Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dan ada ujian mandiri dan harus terhubung dengan  American College Testing.  Ia mengambil kuliah di jurusan Hubungan Internasional dan Kebijakan Publik. Yang membedakan antara Tuli dan orang dengar kala berkuliah di RIT adalah kalau orang dengar ke Amerika hanya belajar bahasa Inggris saja, tetapi ketika di RIT maka dia belajar ASL juga. Profesor yang ditemui Surya berasal dari New Zealand, dan saat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan tulisan. “Kalau di RIT saya belajar ASL. Butuh waktu 1,5 tahun untuk membaca dengan cepat. Senin-Jumat saya belajar bahasa inggris. Saat saya di Jakarta, saya serasa di Amerika karena semua keluarga  berbahasa Inggris. Teman-teman, jangan takut salah. Lanjut saja. Insya Allah semua akan lancar,” ucap Surya memberi motivasi kepada ratusan pelajar penerima beasiswa BAZNAS via zoom meeting.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.