Lompat ke isi utama
peningkatan kapasitas tangguh bencana

Peningkatan Kapasitas Bagi Pelaku Perlindungan Sosial

Solider.id, Gunungkidul -Humanity and Inclusion atau HI, bersama Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel atau SIGAB, berkolaborasi dengan Dinas Sosial Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan “Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kesiapsiagaan Petugas Perlindungan Sosial Yang Lebih Inklusif dan Adaptasi Kehidupan Akibat Covid 19”. Kegiatan dilaksanakan 8 Januari 2022 dan merupakan bagian dari implementasi proyek Inclusive Access to Multi-sectoral Services and Assistance For Everyone (I AM SAFE) yang didanai oleh Uni Eropa.

 

Kegiatan pelatihan sudah digelar untuk 450 peserta dari lima kabupaten kota, dalam Sembilan kelas, dan dalam empat sesi. Untuk pelatihan kali ini diadakan di Balai Kalurahan Plembutan, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, dengan diikuti oleh sekitar 50 orang perwakilan dari masing-masing unsur Taruna Siaga Bencana. Mereka yang menghadiri kegiatan ini adalah perwakilan dari Radio Antar Penduduk Indonesia Siaga Bencana atau RAPIGANA, Difabel Siaga Bencana atau Difagana, serta para kader dari Kalurahan Siaga Bencana atau KSB.

 

Disampaikan oleh Untoro, dari Humanity and Inclusion, bahwa kegiatan   diskusi ini merupakan program layanan asistensi multi sektoral dalam rangka kesiapsiagaan keluarga, termasuk kelompok rentan dalam hal kebencanaan.

“Kegiatan ini untuk merespon dan mengakomodasi inklusi dan disabilitas menjadi salah satu topik layanan perlindungan sosial untuk mengadaptasi situasi covid 19. Sehingga mereka yang terlibat dalam perlindungan sosial, terutama yang merespon segala kegiatan pandemi bisa tetap inklusi dan adaptif dengan menyesuaikan protokol kesehatan, dan memastikan bahwa mereka yang mengalami kerentanan tidak tertinggalkan. Penguatan ini harapannya bisa memberi kontribusi bagi teman-teman yang merespon langsung dan ada di garda depan, terutama Difagana. Salah satunya bagaimana merespon langsung perlakuan pada kaum rentan dan difabel dimana pasti ada perbedaannya. Ini yang kami pastikan agar materinya menjadi perhatian dengan mencoba memasukkan unsur inklusi dan adaptasi di Perda termasuk dalam melayani teman-teman yang terdampak covid 19.” Demikian sambutan Oentoro dalam pembukaan acara pelatihan.

 

Baca Juga: Inklusi dalam Penanggulangan Bencana

Dalam harapannya pula Oentoro mengingatkan agar kesempatan dalam kegiatan yang diadakan bisa menjadi ajang diskusi dalam hal baru terkait Covid 19, karena masing-masing pribadi pasti memiliki pengalaman berbeda dalam merespon kondisi pandemic saat ini.

“Dari sinilah sharing session dari tiap-tiap kabupaten akan memiliki tantangan berbeda. Tanpa meninggalkan siapapun, akan lebih banyak kaum rentan yang mendapatkan layanan sama. Media kegiatan bisa menjadi fasilitas agar peserta bisa berbagi pengalaman dan masukan, serta berbagi pembelajaran baik apa yang sudah diberikan pada masyarakat selama masa pendemi.” Lanjut Oentoro dengan harapan agar peserta bisa memberi kesimpulan dan rekomendasi, bagaimana melakukan kerja sosial agar bisa tertuang dalam semacam tambahan atau input bagi peraturan daerah di masing-masing daerah, sehingga mereka yang ada di garis depan berkarya dengan landasan yang legal dan dapat bekerja secara nyaman, selain mendapatkan hak dan juga perlindungan.

 

Hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Giyanto, Kepala Bidang Perlindungan Sosial, menyampaikan pesan agar dari kegiatan ini semua unsur yang terlibat dalam kebencanaan saling melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, dalam rangka membantu masyarakat terkait kebencanaan, agar saling berkolaborasi, berkoordinasi dan saling memberikan informasi, sehingga apapun yang menjadi tantangan dengan perubahan cuaca dapat diatasi bersamaan.

 

Pelatihan Peningkatan Kapasitas diisi pemateri dari anggota Difagana dan dari Tagana dengan materi kebencanaan berupa Kelompok Rentan dan Inklusi Dalam Konteks Bencana. Dalam materi ini mengajarkan bagaimana mengantisipasi dan memberikan pertolongan pada kelompok rentan dan difabel, yang masing-masingnya memiliki perbedaan perlakukan tanpa meninggalkan unsur kemanusiaan, dengan pedoman Ngayomi, Ngayemi dan Ngademi (melindungi, memberi kedamaian serta memberikan ketenangan, Bahasa Jawa). Inklusi dalam kontek kebencanaan juga harus menyediakan aksebilitas bagi kelompok rentan dan difabel selama di shelter karena ini hal yang sangat penting. Oleh karenanya dalam pelatihan yang berlangsung selama dua hari, dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan praktek bagaimana memberikan tindak pertolongan dalam kebencanaan dan bagaimana memperlakukan sahabat difabel sesuai dengan ragam difabilitas mereka. Terbagi dalam lima kelompok, maka masing-masing kelompok dengan ragam difabilitas berbeda diberi tugas untuk mengakses beberapa lokasi yang ada di sekitar kantor Balai Kalurahan seperti Mushola, kantor Lurah, Toilet, Bekas Ruang Isolasi dan Gedung Serba Guna.

 

Materi selanjutnya diisi dengan Dasar-Dasar Inklusi. Dasar-dasar inklusi disampaikan karena masyarakat memiliki beberapa ragam dan kondisi berbeda, sehingga  difabel bisa tetap melangsungkan kegiatan melalui aksebilitas yang disediakan. Aksebilitas harus menjamin seorang agar bisa melakukan kegiatan dengan Aman, Mudah, Mandiri dan Tanpa Diskriminasi. Berlanjut dengan Etiket Berinteraksi Dengan Difabel, serta Manajemen Kebencanaan, materi penutup diisi dengan Tagana Masuk Sekolah.

 

Trimo, salah satu anggota Difabel Siaga Bencana yang ikut serta dalam pelatihan mengatakan bahwa kegiatan semacam ini sangat memberikan kemanfaatan.

“Melalui kegiatan ini saya berharap agar masyarakat umum makin mengerti dan memahami, bahwa sahabat difabel banyak yang sudah terlibat dalam hal kebencanaan.” Ujar Trimo yang mengaku dari kegiatan ini makin menambah pengetahuannya dalam penanggulangan resiko bencana sebagai individu dengan difabilitas, dan juga bisa menambah pengalaman bagi masyarakat umum seperti dari KSB maupun RAPIGANA.[]

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.