Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel di kelurahan

Tantangan Berkomunitas di lingkungan Kelurahan Perkotaan bagi Difabel; perlu berbagai Inisiasi

Solider.id, Surakarta- Kota Surakarta yang dikenal sebagai kota inklusi dan ramah difabel ini unik, sebab di catatan Pengurus Harian Tim Advokasi Difabel (PHTAD), Surakarta memiliki lebih dari 25 komunitas difabel dan mereka datang dari berbagai ragam difabilitas sampai komunitas pemerhati, relawan atau komunitas mahasiswa PLB. Satu komunitas yang awal dulu bentukan dari PPRBM Solo tahun 2010, untuk melaksanakan strategi twintrack approach, yakni membuat kelompok difabel di akar rumput dan membuat kelompok di tingkat advokasi kebijakan masih eksis hingga sekarang yakni Self Help Group (SHG) Solo Juara. SHG Juara telah memiliki catatan baik dalam pergerakan dan kegiatan organisasinya, bahkan beberapa kali pernah menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Namun begitu tidak banyak kelompok difabel berbasis kelurahan.

 

Mengorganisir warga difabel berbasis kelurahan dalam konteks lingkungan perkotaan seperti yang ada di Kota Surakarta ini sepertinya bukan hal mudah. Seperti yang penulis amati, sebenarnya pada tahun 2015 telah berdiri sebuah komunitas difabel tingkat kelurahan yakni Forum Gerak Difabel Kelurahan Serengan. Namun rupanya forum ini hanya eksis selama tiga tahun. Tidak ada progres pergerakan, meski secara individu ada beberapa yang masih terlibat secara aktif pada kegiatan-kegiatan terkait difabilitas di tingkat kota misalnya bersama PHTAD.

 

Forum Gerak Difabel Kecamatan Serengan pernah bekerja sama dengan PPRBM Solo sewaktu ada survei aksesibilitas pada layanan kesehatan selama tiga tahun berturut-turut dalam rangka memastikan penyediaan sarana dan pra sarana serta layanan yang aksesibel buat difabel di tahun 2015-2017.

 

Di tahun yang sama yakni 2015, juga telah terbentuk forum gerak difabel di Kelurahan Purwosari, sedang di Kelurahan Punggawan tercatat pula ada Forum Komunikasi Tuna Netra (FKTN) Surakarta namun forum ini sekarang juga tidak terlihat geliat keaktifannya.

 

Dalam beberapa dialog dan diskusi dengan berbagai elemen yang penulis ikuti, tren untuk difabel berkomunitas di tingkat kelurahan memang harus ditekan lebih keras lagi. Sebab partisipasi difabel, parameternya seharusnya tidak hanya di tingkat organisasi sektor saja, misalnya terkait ragam difabilitas mereka, yakni difabel netra dengan Pertuni, teman Tuli dengan Gerkatin, daksa dengan SHG dan Ikatan Motor Roda Tiga (IMRT), difabel mental psikososial dengan KPSI-nya tetapi keberadaan mereka di lingkup kelurahan harus diperhitungkan.

 

Baca Juga: Tim Advokasi Difabel Surakarta Selenggarakan Webinar Refleksi Gerakan Difabel

 

Jika organisasi difabel berbasis sektor/ragam difabilitas tidak mensyaratkan anggota harus warga Kota Surakarta, karena ada yang ber-KTP di luar kota Surakarta, atau di kabupaten berdekatan misalnya Karanganyar atau Sukoharjo, sebab mereka bekerja dan beraktivitas di Surakarta. Namun kelompok difabel berbasis kelurahan ini seyogyanya ada untuk bersuara di wilayahnya, terutama mainstreaming difabilitas, perspektif/paradigma, dan isu inklusi difabilitas. 

 

Partisipasi difabel sudah terlihat di tingkat kota dengan adanya komunitas dan keterwakilan mereka di PHTAD, namun perlu diperhatikan bahwa ada ribuan (dari data oleh sebuah NGO di Surakarta jumlah difabel 1.600) difabel yang hidup di kelurahan-kelurahan. Melibatkan mereka dari tingkat RW/lingkungan dalam musyawarah lingkungan hingga musrenbangkel adalah keniscayaan.

 

Momentum Kelahiran Forum Buah Hati Mojo sebagai Representasi Kelompok Difabel Kelurahan

Dilatarbelakangi kegiatan perlindungan sosial bagi difabel saat pandemi COVID-19 dengan berbagi sembako yang dilakukan oleh komunitas tingkat kota, yang tak hanya sekali dua kali, ketika di lapangan penulis bertemu dengan banyak difabel dan orangtua anak difabel kemudian muncul inisiatif. Di masa pandemi, dengan diterapkannya PPKM, anak-anak difabel banyak yang tidak mendapatkan layanan terapi karena aturan yang terbatas. Jika ada pun, layanan terapi di rumah sakit juga berkurang waktunya, kebanyakan dilakukan secara online. Ada usulan dari para orangtua ini untuk membentuk satu kelompok/komunitas agar kebutuhan mereka akan terapi terfasilitasi. Seperti yang sudah dilakukan di Kabupaten Sukoharjo dengan berdirinya sanggar-sanggar inklusi yang mengakomodir kebutuhan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Hal sama juga terdapat di Kabupaten Karanganyar dan Sragen, yang telah memiliki sebuah forum untuk mewadahi para orangtua yang memiliki anak-anak difabel. Sebenarnya di Kota Surakarta sudah ada forum buah hati namun berbasis kota, sehingga beberapa ibu yang tinggal di wilayah kelurahan seperti Mojo, merasa sulit menjangkau kegiatan di tingkat kota dengan kendala transportasi dan keluangan waktu.

 

Satu, dua orang kemudian menjadi 16 orang ibu lalu membentuk kelompok/komunitas orangtua yang memiliki anak difabel yang berangkat dari keprihatinan bersama, terkait kebutuhan terapi bagi anak-anak mereka. Maka pada September 2021, terbentuklah Forum Buah Hati Mojo, satu representasi kelompok difabel yang ada di Kelurahan Mojo. Kelompok ini juga sudah mendapat legitimiasi dari lurah dan pemangku kepentingan setempat seperti Ketua LPMK.

 

Di bulan Desember kelompok yang beranggotakan para ibu dari anak berkebutuhan khusus, telah berhasil mengakses program pemberdayaan ekonomi dari Kemenaker. Faizah, ketua forum buah hati menyatakan mulai Januari 2022, komunitasnya akan menyelenggarakan terapi bagi anak-anak difabel yang didahului dengan asesmen. Keanggotaannya masih terbuka bagi orangtua anak difabel di seluruh wilayah RW yang ada di Kelurahan Mojo. Selain persiapan penyelenggaraan sanggar untuk terapi anak-anak berkebutuhan khusus, forum juga akan mengadakan kegiatan mainstreaming difabilitas di wilayah kelurahan dengan memasukkan isu sensitivitas dan pengetahuan difabilitas pada kegiatan pertemuan PKK dan posyandu.

 

Difabel Diundang di Musrenbangkel, Meski Belum Miliki Kelompok Di Kelurahan

Evi, pegiat difabel bertempat tinggal di Kelurahan Kampung Baru selama empat tahun telah diundang di musrenbangkel, namun pelibatan tersebut tidak dimulai dari bawah yakni RT dan RW sehingga tidak dilibatkan di musling. Evi yang bergiat sebagai relawan PHTAD dan aktif di SHG Solo Juara mengakui masih sulit untuk membentuk kelompok difabel di tingkat kelurahan.

 

Didit, difabel warga Kelurahan Serengan tahun ini juga diundang di musrenbangkel, meski kelompok difabel yang dulu diikutinya sekarang sudah tidak aktif lagi. Didit diundang secara personal dan masuk di komisi sosial budaya. Sama seperti Evi, Didit pun tidak dilibatkan dalam musling. Namun begitu ia merasa gembira karena dilibatkan kembali di musrenbangkel tahun ini, mengingat di tahun 2021 ia tidak diundang.  

 

Berbeda dengan pengalaman Ratna Pramudyawati, seorang guru SLB yang memiliki anak difabel. Penduduk Kelurahan Sewu itu mengatakan bahwa di tahun 2021 sebenarnya sudah ada even atau kegiatan-kegiatan berbasis difabilitas di Kelurahan Sewu, di antaranya difasilitasi oleh mahasiswa yang sedang praktik kerja. Bahkan sebuah even “Sewu Ngrangkul Difa” menghadirkan lurah setempat dan melibatkan 15 difabel berperan aktif. Hanya saja memang belum terbentuk kelompok difabel di sana, sehingga untuk musrenbangkel tahun ini, mereka belum diundang oleh panitia musrenbangkel.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.