Lompat ke isi utama
poster ilustrasi disleksia

Disleksia, Permasalahan dan Kebutuhan Belajar

Solider.id, Yogyakarta -Belum begitu banyak orang tua yang menyadari bagaimana cara memberikan pendidikan yang tepat untuk anak berkebutuhan berbeda, disleksia. Tak jarang, masyarakat tidak menyadari adanya kebutuhan berbeda tersebut, bagi diri anak maupun orang lain yang ada di sekitar anak dengan disleksia.

 

Dalam bukunya The Science of Mind and Behaviour, John W. Santrock menuliskan bahwa, disleksia merupakan satu kategori yang ditunjukan untuk anak-anak atau individu yang mempunyai kelemahan cukup serius dalam kemampuan membaca dan mengeja. Kondisi tersebut disebabkan oleh adanya kelainan pada otak kiri yang berfungsi memproses kemampuan berbahasa dan juga mengingat.

 

Tidak ada obat untuk anak disleksia. Karena kondisi disleksia adalah sebagai faktor keturunan. Permasalahan utama anak disleksia ialah tuntutan sosial. Sebagai contoh, dalam penggunaan teknologi, ketidakmampuan anak membaca, menulis dan mengingat angka, sulit berkonsentrasi serta menjawab sebuah pertanyaan yang panjang dan lebar. Karenanya, tak jarang muncul stereotip ‘bodoh’ yang berdampak pada psikis anak disleksia dan kehidupan sosial mereka.

 

Anak disleksia sesungguhnya mempunyai rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Namun, ketidaktahuan orang tua juga masyarakat bisa menghalangi pemahaman anak atas dirinya, serta menghambat anak untuk meraih kemandirian juga kesuksesan.

 

Orang tua anak disleksia terkadang tidak paham akan kebutuhan berbeda anaknya. Sehingga tetap menyekolahkan anak disleksia ke sekolah regular atau umum. Orang tua memaksa anak mereka belajar sebagaimana anak-anak pada umumnya. Paksaan tersebut dapat menyebabkan anak disleksia sulit mengikuti proses belajar yang akhirnya tertinggal dalam belajar.

 

Baca Juga: Aqil Prabowo, Menandai Kesan Mendalam dalam Setiap Karya Lukis

 

Pendidikan tepat

UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas telah mengatur pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, anak-anak dislkesia pada dasarnya dapat bersekolag di sekolah umum. Dengan catatan, oran tua dituntut lebih peka terhadap kebutuhan berbeda anak disleksia.

 

Disleksia tidak dapat disembuhkan. Tetapi ada pendekatan yang dapat membuat anak dengan disleksia memaksimalkan potensinya. Bukan tidak mungkin anak dengan disleksia tidak mampu meraih sukses.

 

Pendekatan anak disleksia bertujuan meningkatan kemampan anak dalam membaca, menulis dan juga mengingat, terutama huruf dan angka. Orangtua anak dengan disleksia bisa mencari bantuan terapis professional. Selain itu, anak disleksia juga harus tetap diberikan pendampingan dalam belajar dengan cara memberikan motivasi, memberikan contoh tentang orang-orang dengan disleksia yang berhasil.

 

Hal itu, menurut Roy Saputro (44) orang tua seorang anak disleksia bernama Aqil Prabowo, akan berhasil meningkatkan rasa percaya diri mereka. Pada sebuah perjumpaan dengan Solider.id, Oktober 2021, Roy juga menyampaikan bahwa orang  tua juga dapat membangkitkan semangat belajar anak dengan hal-hal yang disukai oleh anak.

 

Latihan berulang, kata Roy, diterapkannya pada putra pertamanya Aqil. Selain itu, memberikan contoh nyata (visual) kata-kata yang dipelajari pun selalu dilakukannya. Kemudian, diikuti dengan memberikan latihan pada Aqil mengucapkan nama dari benda visual yang dilihat dan ditemuinya.

Aqil, juga dibiasakan menandai hal-hal yang berkesan bagi dirinya dalam karya lukis. Cara tersebut akan memudahkan anaknya mengingat apa yang pernah ditemui. Dengan demikian, Aqil dapat bercerita tentang hal-hal berkesan tersebut melalui karyanya.

 

Proses panjang dengan kesabaran tanpa batas, disadari betul harus dipersiapkan bagi orang tua anak dengan disleksia. Semakin dini, orang tua menangkap dan memahami kebutuhan berbeda anaknya yang disleksia, maka anak-anak akan semakin mungkin mencapai apa yang diinginkannya.

 

Pada usia 17 tahun, Aqil sudah mulai bisa membaca, menyampaikan peristiwa yang pernah dilaluinya. Selain belajar, hari-harinya dilalui dengan membaca novel. Ini salah satu kegemaran Aqil. Remaja dengan disleksia itu juga telah memilih melukis sebagai jalan hidupnya. Karya lukisnya tak hanya dipamerkan dan terjual di Indonesia, tetapi juga sampai ke manca negara. Eropa, Amerika, tentu saja Asia.

 

Model pembelajaran

Dalam upaya memberikan solusi belajar pada anak-anak disleksia, orang tua perlu memahami strategi dan model pemebajaran yang sebaiknya diterapkan dengan menyesuaikan kebutuhan. Terdapat 3 model strategi pembelajaran bagi anak-anak disleksia, yaitu: pertama, metode multisensori. Ialah, mendayagunakan kemampuan visual atau penglihatan anak, auditoria tau kemampuan mendengar,kinestetik atau kesadaran pada gera dan juga taktil perabaan pada anak.

 

Kedua, metode fonik (bunyi). Metode ini memanfaatkan  kemampuan visual dan auditori dengan cara menamai huru-huruf sesuai bunyi bacaannya. Sebagai contoh: huruf B yang dibunyikan eb, huruf C dibunyikan ec, dan lain sebagainya.

 

Ketiga, metode linguistik. Yakni Metode yang mengajarkan anak disleksia mengenai kata secara utuh. Metode ini menekankan pada kata-kata yag bermiripan. Penekanan inilahh yang diharapkan bias membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antar huruf dan juga bunyinya.

 

Pada dasarnya, apapun metode yang dpilih bagi anak disleksia, orangtualah yang menentukan. Karena semua itu terkait dengan tingkat pendidikan serta kemampuan mereka dalam menggali informasi.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.