Lompat ke isi utama
poster film kukira kau rumah

Kukira Kau Rumah, Film tentang Orang dengan Bipolar yang Ingin Didengar

Solider.id – Pada perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival, 27 November – 4 Desember 2021 lalu, ada sebuah film menarik berjudul Kukira Kau Rumah. Film dengan genre drama-psikologis ini mengangkat tema kesehatan mental.

 

Diceritakan Niskala yang sejak kecil di diagnosa memiliki gangguan Bipolar membuat orangtuanya, terlebih ayahnya, terlalu protektif hingga melarangnya melakukan aktivitas diluar. Sehari-hari, hanya dua sahabat masa kecilnya yang selalu menemani. Namun Niskala ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa menjadi orang dengan Bipolar pun ia bisa membuat kehidupannya bermakna. Niskala diam-diam mendaftar kuliah. Hanya ibunya yang tahu dan mendukung keputusan tersebut. Hingga perkenalannya dengan Pram membuat seluruh kehidupannya berubah.

 

Film ini adalah debut perdana Umay Shahab menjadi sutradara, sebelumnya ia terkenal sebagai artis cilik. “Melalui film ini saya ingin berpesan kepada orangtua yang mempunyai anak Bipolar, bahwa mereka punya hak yang sama dan orangtua harus belajar memahami tentang kesehatan mental.” ungkap Umay di sela sesi Q&A setelah penayangan film, Sabtu (4/12).

 

 

Mengenal Lebih Dalam Tentang Gangguan Bipolar

Menilik definisi dari Buku Panduan Mengenal Disabilitas Psikososial terbitan Alpha-I, Bipolar adalah perubahan perasaan atau suasana hati yang drastis antara episode mania dan episode depresi. Di fase mania, orang dengan gangguan Bipolar akan merasa bahagia dan terlalu bersemangat, penuh dengan ide-ide baru dan bersikap gegabah hingga gampang emosi. Sedangkan di fase depresi, mereka akan merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat dan hobi, menyakiti diri sendiri hingga memiliki keinginan bunuh diri.

 

Dalam wawancara via Whatsapp dengan Solider, Minggu (5/12), psikolog Rina Widarsih mengungkapkan mengapa disebut episode karena seseorang dengan bipolar memiliki durasi waktu tertentu mengalami depresi dan rentang waktu tertentu mengalami mania, dan terdapat periode tanpa gejala depresi maupun mania selama dua bulan. Tetapi satu periode depresi sangat bervariasi pada masing-masing orang.

 

Gangguan Bipolar termasuk gangguan yang membutuhkan ketelatenan perawatan, karena membutuhkan waktu yang cukup lama, kadang sampai beberapa tahun, untuk membaik. Mereka rentan mengalami kelelahan saat menyadari bahwa ‘sakit’nya tidak kunjung membuahkan hasil signifikan.

 

Pengalaman Rina menangani orang dengan gangguan Bipolar yang menonjol adalah ciri perubahan mood. “Pada episode mania, maka yang terlihat adalah ia bersemangat bercerita kepada sang psikolog dengan topik beragam. Namun ketika ia datang dalam episode depresif, maka wajahnya akan murung, merasa kesepian, lebih banyak menunduk, merasa putus asa, merasa diabaikan, dan merasa buruk.” jelas Rina.

 

Seperti mayoritas orangtua yang memiliki anak difabel, tak jarang yang mereka lakukan adalah memproteksi anak mereka dengan cara mengurungnya di rumah, membatasi aktivitas bahkan pergaulan. Di pikiran orangtua yang mereka lakukan adalah agar anak-anaknya tidak disakiti oleh pihak luar. Namun tak jarang orangtua juga merasa malu jika anaknya terlihat di muka umum. Yang terjadi pada Niskala, sang ayah merasa dengan mengurung Niskala adalah tindakan paling benar. Niskala hanya diminta meminum obat secara teratur agar tidak tantrum, tanpa mencari tahu bagaimana memahami keinginan anaknya. Di sisi lain, Niskala ingin tumbuh seperti remaja lainnya. Ketidaksinkronan pemikiran inilah yang tak jarang membuat perselisihan.

 

“Dinamika menghadapi orang dengan Bipolar adalah kita senantiasa menerima apa adanya, dalam arti siap menerima perubahan psikologis yang nampak pada saat kita tahu setiap episode mereka.” kata Rina.  

 

Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Didiagnosa Bipolar?

Prilly Latuconsina melakukan pendalaman karakter sebagai pemeran Niskala dengan melakukan riset dan merangkul komunitas Bipolar yaitu Bipolar Care Indonesia. Dari laman InstagramTV Bipolar Care Indonesia, Igi Oktamiasih, sang founder, memberikan beberapa kiat apa yang harus dilakukan ketika di diagnosa memiliki gangguan Bipolar. Meski ia menjelaskan bahwa respon awal setiap orang akan berbeda-beda, namun hal paling dasar adalah tentang penerimaan diri. Hal yang tidak mudah, namun dengan penerimaan diri akan memudahkan orang dengan Bipolar mendapat terapi dan penanganan yang benar. Kedua, Igi menyarankan untuk membuat jurnal mood yang berfungsi sebagai mood tracker agar tahu kapan mood mereka naik, kapan turun, sekaligus menuliskan gejala yang dialami. Ketiga, melakukan aktivitas semisal beres-beres rumah. Terdengar klise, namun menurut Igi aktivitas ini termasuk aktivitas produktif dan menyenangkan. Termasuk juga mengatur pola makan dan manajemen obat yang diminum secara teratur. Keempat, manajemen pikiran. Igi merasa mindfulness diperlukan terutama ketika di fase depresi. Dengan mengingat hal-hal yang pernah dilakukan secara positif dan merasa berguna, akan menghindarkan diri dari pikiran liar.

 

Bagian yang tidak kalah penting adalah support system yang baik. Dalam Kukira Kau Rumah, peran Dinda dan Oktavianus sebagai sahabat Niskala selain menemani, keduanya menjadi orang yang paling mengerti apa yang harus dilakukan, baik ketika Niskala mengalami episode mania atau depresi.

 

Igi menekankan bahwa di diagnosa Bipolar bukan akhir, sebaliknya merupakan awal dari segalanya karena hidupnya akan dimulai dari situ. Bagaimana menemukan treatment yang benar dan menjadi apapun yang diinginkan. Sama seperti keinginan Niskala yang tak pernah dimengerti orangtuanya karena ketidakmauan kedua orangtuanya mendengar dan memahami anaknya.

 

Isu kesehatan mental sempat menurun ketika Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi tahun 2020 lalu, tapi setelah beberapa bulan berselang isu ini mulai naik kembali di tengah masyarakat yang mengalami depresi, anxiety dan lain-lain sebagai dampak pandemi. Edukasi tentang kesehatan mental diperlukan, salah satunya melalui film Kukira Kau Rumah ini. Edukasi bukan hanya sebagai literasi kepada masyarakat tetapi juga menghapus stigma-stigma negatif yang selama ini masih selalu dilekatkan terhadap orang dengan difabel psikososial.[]

 

 

Penulis: Alvi

Editor:   Ajiwan Arief

The subscriber's email address.