Lompat ke isi utama
beberapa anak difabel Bali yang ditangani ioleh Putu

Putu Puspa Wati kula, Pahlawan Pendidikan bagi anak Difabel Bali

Solider.id - Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bisa saling membantu satu sama lain, bantuan-bantuan yang bisa diberikan pun sangat beragam tidak harus berupa materi. Setidaknya seperti apa yang dilakukan oleh sosok perempuan yang  memiliki jiwa keibuan ini.  Adalah Putu Puspa Wati kula, lahir di denpasar 14 Januari 1977. Awalnya Putu Puspa atau lebih akrab di panggil Bunda Putu ialah seorang guru yang mengajar disalah satu sekolah swasta menengah kejuruan bidang keperawatan, namun hatinya selalu merasa gundah ketika ada para siswa yang belum membayar SPP sekolah atau telat membayar yang selalu di cari ke dalam kelas saat pembelajaran. Hal tersebut membuat jiwa keibuan Putu Puspa sangat prihatin, dan karena seringnya ia menyaksikan kejadian serupa itu sering terjadi ia pun memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari posisinya yang sudah sangat nyaman tersebut sebagai seorang guru.

 

Selepas ia berhenti mengajar  di sekolah umum di tahun 2013 tak lama kemudian ia mengetahui bahwa ada sebuah sekolah yang menangani siswa-siswi berkebutuhan khusus yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu  sekolah tersebut membutuhkan seorang pendidik. Lewat sebuah pertimbangan dan rasa ingin tahu untuk mencari pengalaman baru, akhirnya Putu Puspa memberanikan diri untuk melamar sebagai pengajar di sekolah khusus tersebut walau sebenarnya dirinya tidak pernah sama sekali memiliki pengalaman di bidang pendidikan khusus. Saat pertama  datang, ia tidak tahu persis jenis kekhususan apa yang ada di sekolah itu karena secara fisik siswa-siswinya menurut pengakuannya seperti tidak mengalami gangguan apapun. “Waktu itu saya datang bekerja untuk pertama kalinya dan saya mencoba menyapa siswa-siswi yang saya temui di halaman sekolah namun mereka seperti tidak menghiraukan dan saya juga heran pakaian mereka sangat bagus-bagus serta berwajah ganteng dan cantik. Namun tidak ada satupun yang bisa saya ajak berbicara. Sebagai orang baru waktu itu saya langsung saja menuju ruangan guru dan sesampainya disana saya baru diceritakan bahwa sekolah tempat saya mengajar banyak menangani siswa-siswi berkebutuhan khusus autis yang memiliki gangguan interaksi yang rata-rata berasal dari keluarga mampu” tuturnya kepada solider.id.

 

Hari-hari pertama saat Putu Puspa mengajar, ia sering melihat beberapa siswa ada yang mengamuk atau dikenal dengan istilah tantrum. Kondisi tersebut memang sering dialami oleh anak berkebutuhan khusus autis, saat itu Putu Puspa mengaku sangat takut dan selalu ingin cepat pulang ketika sedang mengajar, “saya di hari-hari pertama mengalami syok sebab saya belum pernah mengalami kondisi seperti apa yang ada di tempat saya mengajar waktu itu berada di lingkungan yang asing bersama siswa-siswi yang special, tetapi seiring waktu berjalan saya bisa sedikit demi sedikit menerima keadaan yang saya hadapi.”

 

Baca Juga : Menggagas ULD Pendidikan Di Kalimantan Selatan

 

Lebih lanjut Putu Puspa menjelaskan bahwa suatu ketika ia mendapat tugas untuk mendata para siswa yang mendapat giliran untuk terapi individu dan konsul berkenaan dengan perkembangan belajarnya, namun setelah jadwal ditentukan ternyata para siswa beberapa ada yang tidak pernah datang dan Putu Puspa tergerak untuk mendatangi langsung para siswa-siswi yang tidak pernah datang tersebut ke rumah masing-masing siswa saat hari sabtu dan minggu ketika sekolah libur.

 

Disanalah Putu Puspa mengetahui bahwa siswa-siswi yang selama ini tidak pernah hadir saat jadual terapi atau konsul ternyata mereka adalah golongan dari keluarga tidak mampu, “saat saya melihat rumah mereka dan kondisi keluarganya, saya sangat tidak tega, janganpun untuk membayar sekolah untuk makan hari-hari saja mereka sudah kesulitan bagaimana mereka bisa membayar sekolah yang bisa dikata lumayan mahal. Waktu itu saya lagi-lagi tergugah melihat kenyataan bahwa masih banyak juga para siswa-siswi yang keluarganya tidak mampu. Terlebih mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Setelah berjalan kurang/lebih dua tahun saya kembali mengundurkan diri karena tak sanggup melihat keadaan para siswa yang kurang mendapat pelayanan karena mereka tidak mampu membayar” jelas Putu Puspa yang di wawancara oleh solider.id disela-sela perayaan Hari Disabilitas internasional 2021.

 

Dengan berbekal ilmu yang didapatkannya selama mengajar di sekolah khusus tersebut Putu Puspa mulai mencoba membuka pondok belajar di rumahnya sendiri yang khusus diperuntukan bagi para siswa-siswi autis di sekolah tempatnya pernah mengajar untuk mendapat pembelajaran smestinya tanpa harus dibebani  biaya yang mahal. Bahkan Putu Puspa tidak memungut biaya speserpun kepada mereka yang tidak mampu. Awalnya pondok belajarnya hanya melayani 3 orang siswa berkebutuhan khusus karena keterbatasan tenaga dan tempat namun setelah menyebar dari mulut-kemulut akhirnya banyak orangtua siswa yang memiliki anak berkebutuhan khusus (autis) membawa anaknya untuk belajar di pondok belajar Putu Puspa. “Sebenarnya di rumah saya, saya sudah pernah membuuka semacam tempat les untuk anak-anak reguler disekitar rumah saya sendiri namun setelah saya mempunyai pengalaman dalam pendidikan siswa berkebutuhan khusus saya pun mengubah tempat les saya menjadi pondok belajar bagi siswa berkebutuhan khusus dengan jenis kekhususan autis yang memang pernah saya tangani saat saya bekerja di sekolah khusus” terangnya kembali.

 

Baca Juga: Cerita Nur Fauzi Jadi Mahasiswa FH UI

 

Seiring berjalannya waktu pondok belajar Putu Puspa semakin ramai didatangi oleh para orangtua yang memiliki anak-anak autis dari latar belakang yang berbeda-beda untuk menitipkan anaknya belajar di pondok Putu Puspa. Akhirnya karena banyaknya siswa-siswi berkebutuhan khusus yang ada di pondok belajarnya, Putu Puspa berinisiatif menjadikan pondok belajarnya dalam bentuk yayasan. sebab dirinya merasa perlu ada sebuah payung hukum agar legalitas tempat belajar para siswa-siswinya dapat terakui. Hal ini  juga karena banyaknya siswa-siswi yang ada tentu perlu ada tenaga tambahan pendidik agar proses belajar bisa berjalan dengan efektif.

 

Sebelumnya menurut Putu Puspa ia pernah beberapa kali mempekerjakan seorang yang mau dan bisa membantunya untuk mengajar di pondoknya, namun banyak yang tidak bertahan lama karena merasa tidak sanggup untuk menangani anak-anak spesial yang ada di pondoknya. Alhasil ia sering kesulitan mencari tengaga pendidik yang benar-benar mempunyai hati yang tulus untuk mengajar di pondok belajarnya. Selama ia mempekerjakan orang, ia membayar para guru yang membantunya dengan biaya pribadi karena itu ia tidak bisa membayar upah guru terlalu besar, terkadang juga Putu Puspa dibantu oleh orangtua siswa yang ekonominya mampu untuk saling support dalam memberi upah para pengajar yang membantunya.

“Awalnya saat saya ingin membuat yayasan tidaklah mudah karena harus melalui administrasi yang begitu panjang namun karena ada salah satu orangtua siswa yang mensupport saya akhirnya dengan bantuan beberapa pihak saya berhasil melegalkan pondok belajar saya menjadi sebuah yayasan bernama Yayasan Sehati Bali yang berdiri sejak tahun 2019 yang terletak di jalan Ken Arok no. 2 Kota Denpasar Bali. Hingga kini yayasan saya sudah menangani 39 anak autis dan downsindrome serta memiliki 8 pengajar yang terbagi dalam kelas belajar dan kelas terapi. Selain itu yayasan saya juga sudah mulai mendapat support dari para donatur meski belum ada yang tetap setidaknya bantuan-bantuan yang diberikan sudah bisa membantu oprasional yayasan saya ini, dan juga para orangtua siswa yang tingkat ekonominya menengah ke atas juga sering membantu saya untuk saling tolong sehingga saya tetap bisa membayar para guru yang membantu saya dengan upah yang lebih layak dan tetap tidak memungut biaya dari para orangtua siswa dari keluarga tidak mampu” sambungnya lagi menutup wawancara bersama solider.id.

 

Saat ini Putu Puspa sangat   bersyukur karena atas pengalaman dan keputusan-keputusannya yang tidak ingin selalu berdiam diri dalam zona nyaman yang pernah didapatkannya bisa bermanfaat bagi sebagian besar orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan terlebih pada siswa-siswi berkebutuhan khusus yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Putu Puspa berharap bisa lebih banyak lagi orang-orang yang mau peduli terhadap kondisi-kondisi yang terjadi disekitarnya terlebih pada keluarga yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus agar bisa melihat disablitas bukan dari apa yang menjadi kekurangannya tetapi apa yang menjadi potensi dan kekuatannya untuk dapat dikembangkan.[]

 

Penulis: Harisandy

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.