Lompat ke isi utama
`POSTER PENTINGNYA OLAHRAGA DIFABEL

Webinar Peluang dan manfaat Berolahraga

Solider.id - Yayasan Chesire Indonesia bersama Young Voice Indonesia mengadakan webinar dengan tema “Menatap Masa Depan Atlet Disabilitas Indonesia”. Kegiatan berlangsung secara daring pada (10/12).

 

Melalui webinar ini Manajer Yayasan Cheshire Indonesia berharap agar masyarakat  difabel dapat ikut berkontribusi terhadap perkembangan keolahragan difabel menuju arah yang lebih baik dan profesional.

“Harapan dari kegiatan ini bisa menyerap aspirasi stake holder mengenai konsep dan program yang dapat mendorong profesionalisme dan menjamin atlet difabel Indonesia.” Begitu kata sambutan Sando. P. Sardi selaku Program Manajer Yayasan Cheshire Indonesia.

 

Menghadirkan lima pembicara utama yang kompeten di masing-masing bidang, seperrti Muhamad Subhan, atlet peraih medali Bulutangkis Peparnas XVI Papua 2021, Dr. Tedi Cahyono, M.Pd, Kepala Bidang Pengembangan Olah Raga Dinas Pemuda dan Olah Raga DKI Jakarta, Puji Sumartono, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Kota Depok, dan Rusharmanto Sutomo Sekjen Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia. Hadir pula satu narasumber yang juga Peneliti dan Pegiat isu difabel, Dr. Bahrul Fuad.

 

Baca Juga: Lima Atlet Jawa Barat Siap Bertarung di Paralimpiade Tokyo 2020

 

Sebelum memulai paparannya, Tedi Cahyono, lebih berharap agar olahraga selain memberi kebutuhan kebugaran dan kesehatan juga bisa menjadi lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat, baik bagi difabel maupun nondifabel.

“Untuk mengembalikan kondisi tubuh agar kembali prima kita perlu melakukan olahraga, sehingga baik difabel maupun nondifabel perlu berolahraga dalam dua hari sekali.”

Memiliki tiga pilar utama, olahraga bisa sebagai sarana rekreasi, olahraga juga bisa menjadi ajang  kompetisi dan sebagai ajang berprestasi. Menurut Tedi olahraga bagi difabel bisa menjadi ajang berprestasi yang perlu didukung dengan adanya pelatih serta sarana prasarana yang memadai.  

“Namun dengan banyaknya tantangan dalam hal keolahragaan difabel, kita berharap agar lewat medio olahraga bisa dijadikan alat pemahaman pada masyarakat untuk lebih menerima difabel dengan sebuah kekhususan yang justru memberikan peluang dan berprestasi dalam olahraga.” Demikian Tedi menyampaikan.

 

Oleh karenanya untuk perkembangan dunia olahraga difabel, Tedi lebih berharap agar lebih diprioritaskan dan dipublikasikan melalui medsos dan SKPD terkait proses mekanisme rekrutmen.

“Masih adanya orangtua yang menyembunyikan anak-anak dengan prestasi membuat kami harus melakukan kolaborasi dengan Dinas Sosial karena mereka memilliki panti. Kami juga melakukan kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kominfo terkait sosialisasi kemasyarakatan.” Hal ini disampaikan Tedi mengingat masyarakat masih banyak yang belum tahu apa itu NPC ataupun SOIna yang bisa menjadi wadah bagi anak-anak difabel.

 

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Tedi  Bahrul Fuad mengatakan perlunya olahraga bagi difabel karena memiliki fungsi penting.

“Yakni untuk mengembalikan fungsi gerak tubuh atau sebagai fisioterapi. Karena tanpa berolahraga kondisi difabilitas seseorang akan menjadi lebih buruk ketika mereka tidak melakukan terapi fisik. Tentunya dengan olah raga akan menjadi salah satu cara menjaga agar kondisi difabilitas seseorang tidak menjadi semakin buruk.” Demikian Cak Fu mengatakan, bahwa pada awalnya dalam pandangan masyarakat awam olah raga bagi difabel menjadi sesuatu yang aneh, karena selama ini selalu dikaitkan dengan superioritas fisik. Namun dalam perkembangannya olahraga mulai menyertakan sahabat difabel, atau sahabat difabel mengadakan sebuah even.

Berolahraga, menurut Bahrul Fuad selain memberi manfaat fisik bagi difabel juga menjadi cara agar bisa berinteraksi di masyarakat.

“Olahraga sebagai media bersosialisasi agar difabel tidak terjauh dari dinamika sosial atau interaksi sosial. Melalui olahraga difabel bisa bersosialisasi dengan sesama, baik itu mereka sesame difabel maupun nondifabel. Dan untuk fungsi ketiga, olah raga bagi difabel bisa menjadi sarana pendidikan publik. Dimana dengan adanya Paralympic orang bisa melihat bahwa difabel juga mampu berprestasi dan berkegiatan yang menurut mereka sesuatu yang tidak mungkin. Dengan kondisi ini akan membantu pemerintah untuk melakukan perbaikan, diantaranya memperhatikan fasilitas olahraga agar lebih mengakomodir kebutuhan olahraga sahabat difabel.” Lanjut Cak Fu yang menyampaikan harapan agar ke depan olahraga antara difabel dan non difabel tidak perlu lagi dibedakan, karena ada beberapa jenis cabang olahraga yang bisa dipertandingkan bersama tanpa memisahkan antara difabel dan non difabel.

“Dari sini bagaimana kita bisa membangun sebuah olahraga yang inklusif, melalui beberapa cabang olahraga tanpa membedakan difabel dan non difabel.” Memberikan contoh olahraga catur dan bridge yang lebih memerlukan olah fikir, Cak Fu berharap lahir system olahraga inklusif sehingga tidak lagi membedakan antara difabel dan non difabel. Karena hanya dengan kesempatan sama yang diberikan difabel juga bisa menorehkan prestasi.[]  

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.