Lompat ke isi utama
diskusi museum sonobudoyo

Aksesibilitas Musuem Sonobudoyo Terbuka Dikritisi

Solider.id, Yogyakarta. Keterbukaan terhadap masukan atau kritik yang membangun dilakukan Museum Sonobudoyo, terkait aksesibilitas kunjung museum bagi para pengunjung difabel. Hal itu dilakukan untuk menuju museum yang aksesibel, ramah bagi semua pengunjung, spesifik pengunjung difabel. Dengan demikian museum dapat dinikmati dan menjadi salah satu sarana edukasi, bahkan sumber belajar bagi siapa saja, tanpa kecuali.

 

Dalam upaya membuka masukan, agenda seminar pemanduan difabel yang dihelat pada Selasa (30/11/2021), dilanjutkan denga survei aksesibilitas. Seminar menghadirkan dua narasumber. Keduanya tak lain, Arief Wicaksono, difabel tuli dan Sukri Budidharma (Butong) difabel fisik. Den Baguse Ngarsa bertindak sebagai moderator.

 

Kedua narasumber satu kata bahwa Museum Sonobudoyo masih harus melengkapi diri dengan beberapa aksesibilitas. Khususnya aksesibilitas nonfisik bagi tuli, demikian juga bagi blind total atau difabel netra. 

 

Menurut  Arief, selama ini belum banyak difabel tuli yang tertarik mengunjungi museum. Meski dirinya sudah mencoba mengajak kawan-kawannya untuk berkunjung ke museum. Ketiadaan informasi tertulis dan juru bahasa isyarat, adalah salah satu sebab. Berbagai informasi yang ada yang menggunakan bahasa jawa, juga tidak bisa dipahami tuli.

 

Sedang Butong menekankan pada perlunya museum menyediakan guide atau pemandu khusus bagi pengunjung yang mengalami hambatan penglihatan. “Jika tidak ada guide  yang menjelaskan, difabel netra tidak akan tahu apa yang ada di museum tersebut,” ujarnya.

Sedang seorang peserta bernama Martha, guru Sekolah Tumbuh mengapresiasi agenda pemanduan museum tersebut. Menurutnya, itu adalah langkah baik dan keterbukaan yang dibangun museum menerima saran. Satu masukan disampaikan, agar sosialisasi terkait museum dan agenda pentas, workshop, dapat tersampaikan dengan baik kepada seluruh khalayak. Serta dipastikan sampai pada masyarakat.

 

Peserta lain, mengajukan permintaan agar ada sistem jemput bola ke sekolah-sekolah luar biasa (SLB). Hal ini disampaikan mengingat tak semua SLB mampu memobilisasi seluruh siswanya menuju museum. Selain juga adanya jalan pemandu (guiding block) di beberapa ruas jalan di Museum Sonobudoyo.

 

Masukan lain dari Ketua Kelompok Perspektif Yogyakarta, menyoroti toilet bagi difabel yang perlu dilengkapi dengan pegangan atau hand rail. Disarankannya juga, agar lantai kamar mandi dibuat bertekstur atau dengan keramik yang tidak licin. Hal ini menghindari pengguna, khususnya pengguna tongkat penyangga tubuh atau krug tergelincir.

 

Menanggapi semua masukan, Kepala Musuem Sonobudoyo Setyawan Sahli, SE, MM, mengatakan dengan senang hati akan semaksimal mungkin menyediakan aksesibilitas sesuai kebutuhan yang beragam.

Sedang untuk jemput bola ke sekolah-sekolah, sudah dilakukan Museum Sonobudoyo, sejak beberapa tahun sebelumnya. Berhenti pada 2020 hingga saat ini, karena situasi pandemic.

 

Usung konsep mall

Setyawan juga menyampaikan bahwa, Sonobudoyo mengusung konsep mall di musueumnya. Dengan konsep itu, pengunjung museum akan mudah untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan.

“Museum Sonobudyo, mengusung konsep mall. Dengan konsep ini, pengunjung selain bisa menyaksikan benda-benda koleksi, bisa juga berbelanja makanan, minuman, souvenir, dan lain sebagainya. Pengunjung juga bisa belajar, workshop membatik, sebagai contoh. Bahkan museum juga bisa digunakan  sebagai ajang atau tempat pertemuan,” ujar Setyawan Sahli.[]

 

Reporter: harta nining Wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.