Lompat ke isi utama
Trimo saat ditemui solider.id

Trimo; Organisasi Membuat Saya Merasa Lengkap

Solider.id, Gunungkidul - Gedung bekas SD Rejosari I yang terletak di Jalan Rejosari-Glagah KM 1, Ngreco, Rejosari, Kapanewon Semin, Gunungkidul, nampak sepi. Namun gedung yang sudah beralih fungsi menjadi sekretariat terpadu bagi organisasi kemasyarakatan di wilayah Semin tersebut kegiatannya tak pernah henti.

Bersama Kelompok Pemberdayaan Disabilitas Desa “Mitra Handayani”, nampak seorang laki-laki kurus tengah serius. Menunduk dan sibuk di depan sebuah mesin tenun, ia tengah asik mengolah perca. Duduk di antara benang-benang, ia sedang membuat keset tenun dengan warna beragam.

 

Dijumpai di tengah kegiatan rutin yang diadakan, adalah Trimo, bungsu dari enam bersaudara pasangan almarhum Tomoredjo dan almarhumah Parini. Trimo lahir  dan besar di ujung timur wilayah Gunungkidul, Semin, yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Yogya. Kondisi geografis tersebut,  membuat Trimo tumbuh menjadi pria sederhana. Keceriaan dan semangat belajarnya menghadirkan sikap ringan tangan. Dan dengan kebiasaannya membuat Trimo lebih suka membantu teman yang sedang mengalami kesulitan. Maka tak heran Trimo dipercaya menjadi ketua Kelompok Pemberdayaan Disabilitas Desa “Mitra Handayani”, Kapanewon Semin.

 

Membangun kerjasama, mengeratkan tali saudara, maka selama mendampingi kelompoknya, Trimo selalu berusaha meyakinkan anggota. Menyuntik semangat dengan candanya, Trimo hanya berharap agar mereka terus meningkatkan keterampilan.

“Karena saya melihat masing-masing dari mereka sudah punya keahlian. Jadi tinggal mengasah dan mengembangkan. Saya ingin  dengan kemampuan yang sudah dimiliki, teman-teman bisa mengembangkan dan menyalurkan keterampilannya menjadi sumber penghasilan yang bisa menunjang kehidupan. Untuk itu teman-teman harus lebih sering diberi semangat, karena kalau kita lupa memberikan support, bisa-bisa hilang lagi semangatnya” Kalem, sambil tersenyum Trimo mengatakan.

 

Baca Juga: Hardiyo Bergerak dan Beri Harapan Baru untuk Sejahtera Bersama

 

Berbekal pengalaman 20 tahun merantau di Jakarta, Trimo merasa lebih mudah beradaptasi dan diterima lingkungan.

“Dalam kegiatan apapun saya sering dilibatkan. Tetangga tidak ada yang menganggap atau melihat saya sebagai difabel.” Tutur Trimo yang mengalami difabilitas pada kedua lengan bawahnya sejak dilahirkan.

 

 

Aktif mengikuti bermacam kegiatan kemasyarakatan, Trimo mengisi waktunya dengan terlibat dalam kelompok pelestari kebudayaan. Di lingkungan tempat tinggalnya, Dusun Ngreco, Desa Rejosari, bersama kelompok kesenian “Ngesti Budaya”, Trimo aktif bermain ketoprak. Menjadi pelatih bagi para pamong desa Rejosari untuk belajar karawitan, Trimo memiliki jadwal melatih setiap Senin dan Rabu. Maka tak heran semua jenis alat musik dengan fasih ia mainkan.

“Dari gambang, demung, saron dan slenthem, semua saya bisa. Kalau seperti kendang dan gender saya kurang begitu suka dan memang tidak bisa.” Terkekeh laki-laki yang hobi mendengarkan musik campursari berjenis langgam dan tayub ini menambahkan.

Berkat kelihaiannya dalam bermain ketoprak dan karawitan, Trimo tak segan menjajal kemampuan. Dalam tiap kesempatan ia sering diminta menjadi pranatacara atau mc berbahasa Jawa.

 

Menerima diri dalam semua keadaan dan menjadikannya sebagai sebuah kesyukuran. Setelah bergabung dalam organisasi difabel yang menjadi tempatnya mengolah keterampilan, Trimo bisa merasakan adanya perbedaan.

“Menjadi bagian dari organisasi dan direkrut menjadi anggota Difagana DIY, Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) Gunungkidul, dan Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB) membuat  ilmu dan pengalaman saya bertambah. Itu membuat saya menjadi bangga.” Ujarnya  tanpa nada kesombongan.

Sebuah arti yang ia dapatkan setelah terlibat dalam organisasi dan aktif di beberapa kegiatan.

“Sebelum ikut kegiatan saya suka malu dan masih sering terkesan ragu. Takut-takut untuk bergabung dalam kegiatan.” Ujar Trimo tersipu mengatakan.

“Awalnya hanya mengantar teman berkegiatan di organisasi difabel. Waktu ditawari dan diajak bergabung, yang pertama kali saya rasakan itu ada rasa takut. Karena saya hanya benar-benar mengantar jadi tidak ingin masuk, dan begitu masuk hanya duduk diam di pojokan.” Trimo berkisah kenangan awal yang ia dapatkan.

Tentu Trimo yang dulu sudah jauh berbeda dengan yang sekarang. Trimo kini tampil dengan banyak canda. Lebih  percaya diri  dengan bermacam keterampilan yang sudah ia dapatkan.

 

 

Yang masih menjadi ganjalan dan impiannya adalah  mewujudkan Mitra Handayani menjadi wadah pemberdayaan.

“Karena harapan saya dan harapan kami semua, tentunya nanti setelah Mitra Handayani berhasil memproduksi keset tenun dari perca, kami ingin melibatkan semua warga di lingkungan sekitar. ” Sebuah harap yang disampaikan Trimo dengan penuh keyakinan.

 

“Organisasi membuat saya merasa lebih lengkap. Senenglah pokoknya. Bahagia.” Tersenyum penuh arti, Trimo kembali menekuni alat tenun dengan bergulung-gulung benang.

Bersama “Mitra Handayani” dan keluarganya, Trimo menenun harapan masa depan. Merangkai perca dan benang dengan beraneka penampilan, untuk diolah menjadi sebuah keset sederhana nan menawan[]

 

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.