Lompat ke isi utama
POSTER KEGIATAN WEBINAR hdi

Webinar Series ke 2 Jelang Hari Disabilitas Internasional Aksesibilitas Berkendara

Solider.id, Bandung – Kegiatan lanjutan webinar rangkaian Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2021 kembali digelar Senin pagi (22/11). Pada seri ke 2 ini antusias peserta sangat tinggi hingga lebih dari enam ratus orang peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh wilayah di tanah air.

 

Mereka yang hadir dalam webinar tersebut adalah: Kepala Balai Rehabilitasi Sosial, Kepala Dinas Sosial dari mulai tingkat Provinsi hingga Kabupaten/Kota, Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (LKSPD), Ketua Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD), Pendamping Rehabilitasi Sosial dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (TKSPD) dari seluruh Indonesia.

 “Salah satu implementasi dari Indonesia Inklusi, Tangguh dan Tumbuh yang menjadi tema nasional HDI 2021, pada seri ke dua kali ini akan dibahas tentang aksesibilitas berkendaraan bagi penyandang disabilitas. Ini sangat penting, karena akan mempengaruhi kemandirian masyarakat difabel dalam menjalani kehidupan kesehariannya,” ungkap Yustitia Arief mewakili pihak Kementerian Sosial sebagai penyelenggara.

 

Ia menambahkan, sangat disadari betul kemandirian dalam bermobilitas bagi masyarakat difabel akan membawa banyak dampak positif. Mereka dapat menjangkau dan bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas. Mereka juga dapat mencari nafkah dengan kendaraan yang dimilikinya. Intinya akan lebih memudahkan bagi mereka.

 

Baca juga: Webinar Series Jelang Hari Disabilitas Internasional

Rachmita M Harahap dari Sehjira, mewakili masyarakat difabel khususnya difabel Tuli yang masih merasakan kendala dalam mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), menyampaikan harapannya agar ada regulasi khusus bagi difabel Tuli untuk mengakses layanan SIM.

“Hak difabel Tuli sebagai pemohon SIM sering kali terabaikan. Padahal, mereka mampu berkendara baik roda dua maupun roda empat,” terang ia.

 

Sementara dari pihak kepolisian sebagai instansi berwenang yang mengeluarkan SIM juga memaparkan, tidak ada perbedaan bagi siapapun sebagai penohon SIM, termasuk bagi masyarakat difabel. Hanya saja, syarat penentu kelayakan seseorang untuk mendapatkan SIM sangat tergantung kepada hasil tes kesehatan dokter.

“Keterangan dokterlah yang menentukan apakah mampu atau tidak seseorang membawa kendaraan, termasuk kepada masyarakat difabel,” kata AKBP Roby Septiadi dari Korlantas Polri.

 

Aksesibilitas berkendara juga menjadi salah satu bahasan yang disampaikan dalam webinar. Suharto, Direktorat Jenderal Lalu lintas dan Angkutan Jalan Dinas Perhubungan turut memaparkan, syarat pelayanan masyarakat dalam mengakses kendaraan umum adalah keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan.

“Kegiatan di lingkungan Ditjen Perhubungan Darat yang mendukung orang berkebutuhan khusus antara lain dengan adanya bus disabilitas atau bus umum yang ramah difabel. Pada kendaraan umum tersebut dilengkapi Wheelchair Lift pada bagian pintu belakang mobil,” terang ia.

 

Dalam tema tentang aksesibilitas berkendaraan bagi penyandang disabilitas ini memberikan anternatif solusi berkendara bagi masyarakat difabel. Ada mereka yang telah mampu memiliki kendaraan pribadi dan masih membutuhkan akses layanan perolehan SIM. Ada juga kendaraan umum yang ramah difabel sehingga memudahkan untuk diakses semua ragam kedifabelan.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.