Lompat ke isi utama

Pendekatan Medis dan Sosial dalam Memandang Difabel di Indonesia

Solider.id – Dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro Semarang beberapa waktu yang lalu, Costrie, salah seorang narasumber mengungkapkan bahwa terdapat dua model pendekatan yang kontradiktif tetapi masih digunakan di Indonesia. Yakni pendekatan medis dan pendekatan sosial.

“Dalam pendekatan medis difabel adalah sumber masalah, sehingga saat mereka memilliki hambatan, maka problemnya ada pada individu tersebut dengan penyebab yang menyatu dengan dirinya. Akibatnya individu yang mengalami difabilitas harus diperbaiki melalui treatmen atau dicari penyebab gangguan yang dialami, supaya kembali berfungsi  “normal” berdasar kacamata orang-orang sekitar.” Terang Costrie yang menyampaikan bahwa pendekatan medis atau pengobatan harus melalui identifikasi, sehingga saat satu individu dirasa sakit maka harus mendapat penanganan atau intervensi.

 

“Sayangnya dengan label yang dilekatkan justru menjadi alat untuk mendefinisikan difabel bukan karena kapasitasnya, tetapi malah membuat difabel menjadi tidak berdaya. Disinilah peran profesional menjadi sangat penting karena sebenarnya bisa membantu memberikan layanan yang baik.” Lanjut Costrie yang menerangkan implikasi model medis lebih berorientasi pada charity base karena fokusnya ada pada individu yang mengalami difabilitas. Sehingga individu dengan difabilitas harus diperbaiki.

 

Baca Juga: Panggil dengan Istilah Tepat, Cara Ubah Pandangan Masyarakat

 

“Sebenarnya lingkungan yang membatasi difabel lah yang harus diperbaiki. Karena hambatan difabel lebih terletak pada lingkungan yang menjadikan mereka sebagai orang yang tidak berdaya dan bergantung pada orang lain.” Inilah yang dijelaskan Costrie yang kemudian disebut dengan pendekatan sosial. Dalam pendekatan itu, lingkungan yang mendukung tidak akan menjadikan difabel sebagai hambatan.

 

Dalam paparannya pula Costrie menyampaikan bahwa lingkungan yang tidak mengakomodasi dan tidak memadai, mengakibatkan difabel mengalami hambatan.

“Sehingga yang menjadi problem terbesarnya ada pada perubahan pola pikir, yang tidak bisa dilakukan dalam waktu satu dua hari, atau satu dua tahun selesai karena melibatkan konsistensi yang harus terus menerus dilakukan.” Terang Costrie yang menyampaikan salah satu upaya penting yang perlu dilakukan antara lain melalui phsyko edukasi seperti webinar  kali ini. Karena melalui acara semacam ini bisa membantu membuka konsep pemahaman masyarakat terhadap difabel.

“Dengan pemahaman inilah akar dari semua asumsi dan perilaku yang selama ini muncul bisa dihapuskan. Salah satunya dengan pemberian informasi yang benar terkait difabilitas beserta isu yang menyertainya.” Jelas Costrie yang menyayangkan bahwa keberadaan difabel saat ini belum sepenuhnya dilihat sebagai individu, mengingat masih ada banyak hak dasar mereka yang belum dipenuhi. Sementara untuk memenuhi dan melindungi hak   difabel sudah menjadi tugas dan tanggung jawab negara.

 

“Realita di Indonesia menunjukkan beberapa kondisi yang masih harus terus diperjuangkan. Salah satunya adalah perlunya pendidikan berkualitas  melalui pendidikan inklusi dan ramah difabel yang menjadi sentral dalam upaya pemberdayaan difabel.” Untuk itulah menurut Costrie, diperlukan adanya pengembangan pola pikir dan sistem yang menekankan pada keterlibatan seluruh individu di dalamnya, terlepas dari bagaimanapun kondisi mereka.

 

”Sehingga dengan makin banyaknya interaksi akan membuahkan pengertian, dan akan menambah pembelajaran untuk mengurangi asumsi tidak tepat. Inilah alasan pentingnya pendidikan inklusi didorong supaya menciptakan pembelajaran yang ramah terhadap keberagaman. Hal ini dikarenakan perbedaan individu dalam inklusi sangat ditekankan, sehingga melahirkan konsekuensi dimana masing-masing kebutuhan harus dikenali dan dipenuhi, menggingat kebutuhan masing-masing individu tidaklah sama. Lalu muncul strategi bagaimana agar individu-individu yang berbeda bisa belajar dengan kualitas yang sama optimalnya dengan memfasilitasi perbedaan individu tanpa membuat seragam.” Demikian Costrie menyampaikan, dengan tidak lupa menjelaskan bahwa inklusi adalah membiarkan atau mewadahi seluruh perbedaan untuk saling mewarnai, melengkapi dan memperkaya perbedaan. Namun Costrie juga mengingatkan, bahwa masih diperlukan satu proses panjang untuk mengatasi hambatan yang mendorong prestasi peserta didik untuk difasilitasi supaya dapat berpartisipasi dengan ekspektasi yang diharapkan.

 

“Menjadi pembahasan yang saling terkait dan tidak bisa dilepaskan, maka antara difabel dan inklusi melahirkan dampak pada upaya dan strategi tanpa melihat difabel sebagai objek, melainkan sebagai subjek dengan kapabilitas untuk ikut terlibat dan berpartisipasi penuh dalam aktivitas sehari-hari. Karenanya semua implikasi dan aturan harus selalu menyertakan difabel, agar tidak menimbulkan asumsi atau ilmu kira-kira. Untuk itulah seluruh pemangku kebijakan harus melibatkan difabel dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. ” Kata Costrie di pungkasan materinya.

 

Dan menutup acara webinar, Muhammad Khadafi Rhamdani, ketua BEM Sekolah Vokasi Undip  menyampaikan harapan.

“Sebagai makhluk sosial yang perlu bersosialisasi, kita harus bisa membantu memfasilitasi difabel agar bisa menggapai impian mereka, dan meraih apa yang mereka cita-citakan. Hal ini   karena sebagai manusia kita memiliki hak yang sama. Namun sayangnya kebanyakan dari kita masih menutup diri dan sahabat difabel tidak diberikan fasilitas untuk mengembangkan diri. Karenanya melalui webinar kali ini, harapan kami bisa memberi support pada sahabat difabel dimanapun mereka berada.”[]   

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.