Lompat ke isi utama
poster webinar bersama BEM Universitas Diponegoro

Panggil dengan Istilah Tepat, Cara Ubah Pandangan Masyarakat

Solider.id - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro  Semarang menyelenggarakan sebuah webinar dengan tema Inspirasi Dari Keterbatasan. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan awareness dan kepedulian kepada mahasiswa dan masyarakat luas pada umumnya ihwal difabilitas. Acara berlangsung secara daring pada (20/11).

 

Kegiatan webinar secara daring ini merangkul Difabel Community Indonesia (DFCI). Acara berfokus pada isu kesetaraan untuk memberi motivasi dan semangat baru bagi  difabel, sehingga webinar digelar untuk masyarakat awam.

 

Menghadirkan dua pembicara, salah satunya Costrie Ganes Widayanti, Ph.D., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, yang mengangkat tema tentang Pola Pikir Positif Difabel. Dalam pembahasannya Costrie mengupas konsep-konsep difabel, pendekatan difabel di Indonesia, inklusi dan tantangannya, serta upaya yang harus dilakukan sebagai sarana pemberdayaan difabel.

 

Sementara narasumber kedua, Laninka Siamiyono, mencoba berbagi kisah inspiratifnya setelah mengalami kondisi difabel melalui Lisptick Untuk Difabel atau LUD. Yakni sebuah kegiatan kampanye yang menerima dan membagikan donasi lipstick baru pada semua perempuan difabel, sehingga mampu membuat perempuan difabel agar tampil dengan lebih bangga dan penuh rasa percaya diri. Alasan Laninka mengadakan kampanye ini adalah sebagai sarana sosialisasi di dunia difabel dengan cara yang sederhana, yakni melalui apa yang disukainya (berbagi lisptick) sehingga masyarakat bisa melihat secara langsung hasil yang ia lakukan.

 

Mengawali materi paparannya, Costrie menjelaskan beberapa konsep yang masih banyak berkembang dalam masyarakat terkait masalah difabilitas. Konsep yang masih banyak digunakan diantaranya istilah cacat yang lebih banyak digunakan untuk benda yang rusak, tuna, kelainan, penderita dan berkebutuhan khusus. Seiring pekembangan jaman, maka masyarakat mulai mengenal istilah difabel dengan pengampuan internasional yang memiliki arti orang dengan kemampuan berbeda, karena difabel disarikan dari kata different ability.

“Penggunaaan kata difabel ini sebagai upaya menghapus stigma yang cenderung dilekatkan pada difabilitas, sehingga menjadi istilah yang umum karena masing-masing individu memiliki kemampuan yang berbeda.” Jelas Costrie. yang menambahkan bahwa sesungguhnya tidak ada pendekatan yang seragam karena masing-masing individu memiliki different ability.

 

Sayangnya, menurut Costrie pendekatan seragam yang tidak tepat diterapkan kadang masih dipilih karena tidak perlu memikirkan atau mencari strategi lain untuk memfasilitasi difabel sehingga dinilai lebih gampang. Di sinilah pemerintah melakukan perannya untuk berproses bagaimana memperbaiki istilah yang dikenakan pada difabel agar tidak memberikan citra negatif.

“Dari istilah yang muncul dan dilegalkan inilah, kemudian banyak digunakan dan mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan dan memahami difabel yang akan ikut mempengaruhi perilaku kita. Istilah cacat kemudian diubah, karena saat kita melihat individu dengan negatif, maka perlakuan pun  akan mengikuti seperti yang ada dalam beberapa pendekatan difabel.” Lanjut Costrie yang sudah aktif menjadi relawan di Pertuni Jawa Tengah sejak kuliah.[]

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.