Lompat ke isi utama
lambang pondok berkah

Rumah Berkat Kemanusiaan

Solider.id - “Konsep yang kami miliki adalah kita sebagai makhluk hidup telah berhutang pada Tuhan. Kita telah diberiNya kesempatan untuk bisa saling mengenal. Maka tidak ada pilihan lain bahwa kita telah berhutang kepada-Nya. Untuk itulah kita, difabel, harus menjadi berkat bagi sesama. Meski sering berbeda, namun dalam upaya mencintai-Nya, semua kita lakukan dengan  berbuat kebaikan. Bagi orang lain, juga bagi sesama.” Ronald Tambunan, Koordinator Relawan Pondok Berkat, mengawali obrolan yang dikirim melalui beberapa pesan.

 

Meski masih harus berpindah-pindah tempat karena belum memiliki sekretariat tetap, namun dengan bernaung di bawah Jakarta Local Conference, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, beralamat di Jl. Dr. Saharjo 48, Manggarai, Jakarta Selatan, pelayanan Pondok Berkat tetap dilakukan.

 

Berdiri sejak Maret 2013, Pondok Berkat diprakarsai oleh dua orang  difabel, yakni almarhum Paruhum dan almarhum Joriko. Meski keduanya telah tiada, namun perjuangan mereka terus dilanjutkan oleh bibit-bibit unggulan yang telah dilahirkan Pondok Berkat selama melakukan pelayanan.

“Kami memberi nama komunitas kami dengan nama Pondok Berkat, karena kami ingin rumah ini bisa menjadi rumah bagi para difabel dan relawan agar menjadi berkat bagi sesama.” Begitu Ronald menambahkan.

 

Sebagaimana yang terlukis di lambangnya, Pondok Berkat digambarkan dalam bentuk sebuah rumah berwarna ungu, tanda kepedulian, yang merangkul dan menaungi siapapun yang membutuhkan. Mengayomi dan memberi perlindungan, begitulah Pondok Berkat digambarkan. Lebih diharapkan.

“Pondok Berkat hadir untuk mendukung difabel menjalankan peran dan fungsinya sebagai aset bangsa yang bisa ikut berperan aktif. Sehingga bersama para relawan, kami berharap bisa ikut memberi kontribusi bagi diri sendiri, lingkungan, dan keluarga terutama bagi Nusa dan Bangsa.” Ronald melanjutkan.

 

Dikelola dan diasuh langsung oleh para difabel yang berkompeten di masing-masing bidang, Pondok Berkat mengajak 43 anggotanya yang datang dari bermacam difabilitas untuk mengolah bakat dan potensi yang ingin mereka kembangkan. Bermusik dan olah vokal. Memberi pelatihan membaca huruf Braille, melakukan hal-hal kemanusiaan seperti donor darah rutin dan memberi layanan kerohanian, Pondok Berkat  juga berupaya memberikan edukasi melalui beberapa kegiatan siaran.

 

Masih terbatas dalam memberikan pelayanan, Pondok Berkat saat ini lebih berfokus pada layanan pendampingan.

“Terutama di masa pandemi seperti sekarang. Kami bersama para relawan akan memberikan pendampingan khusus dan siap dipanggil untuk membantu teman-teman difabel yang mengalami kondisi tertentu.” Ronald mengungkapkan kegiatan yang akhir-akhir ini lebih banyak mereka kerjakan.

“Karena dalam kondisi seperti sekarang, tidak mudah bagi kita yang terkena covid, apalagi jika mereka mengalami kondisi kekhususan seperti teman-teman difabel. Makanya kami bersama para relawan akan siap membantu kapanpun kami dibutuhkan.” Ronald kembali mengisahkan.

 

Karenanya ia membuka kesempatan bagi para orangtua difabel maupun para pendamping yang ingin ikut bergabung dalam kegiatan Pondok Berkat.

“Siapapun mereka, dimanapun mereka tinggal dan berdomisili, selama mereka menolong teman-teman difabel, mereka adalah bagian dari komunitas Pondok Berkat.” Terang Ronald sambil menjelaskan bahwa mereka yang terlibat bersama Pondok Berkat tidak selalu berarti tergabung dalam organisasi keagamaan yang selama ini telah mereka lakukan.

 

Selama dalam perjalanan pelayanan yang diberikan, Ronald membeberkan Pondok Berkat juga telah berhasil mengadakan Konser Musik dan pertemuan melalui beberapa kegiatan kerohanian. Diantaranya The Journey of Love, Keajaiban Kasih dan Keabadian Kasih yang keduanya merupakan kegiatan pertemuan akbar bagi sesama difabel. Selain itu Pondok Berkat dengan misi pelayanannya juga memberikan kegiatan dampingan di Lapas Gunung Sindur.

 

Tetap menjadi berkat bagi sesama yang membutuhkan, begitulah Pondok Berkat dilahirkan. Tak hanya dalam layanan fisik yang bisa diberikan, maka bagi siapapun yang butuh dampingan kerohanian, Pondok Berkat juga siap memberikan layanan. Semua dilakukan tak lain hanya karena misi pelayanan yang harus mereka emban. Sebuah misi yang sengaja diwariskan oleh para pendahulu Pondok Berkat untuk melanjutkan pengabdian, meski para pencetus idenya telah berada di alam kelanggengan.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, maka Tuhan yang akan membalas perbuatannya itu.” Dari Raja Sulaiman bin Daud, Ronald Tambunan mengisahkan.[]

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.