Lompat ke isi utama
salah satu berita peparnas di media arus utama

Media dan Resonansi Prestasi Atlet Difabel

Para pebulutangkis disabilitas memanggungkan resistensi luar biasa untuk menaklukkan keterbatasan. Hari itu mereka utuh menjadi pahlawan yang sebenarnya.

 

Solider.id - kalimat di atas dikutip  dari lead atau kalimat pembuka berita surat kabar Kompas 11 November halaman 15, di bawah judul Semangat Kepahlawanan Taklukkan Keterbatasan. Pilihan judul yang atraktif dan bertenaga, itu kiranya sesuai dengan momentum Hari Pahlawan 10 November 2021.

 

Melalui berita tersebut, ada sesuatu yang hendak dibangun oleh media, terkhusus mengenai makna kepahlawanan. Selama ini khalayak dikenalkan arti kepahlawanan lebih pada tokoh-tokoh yang berjuang secara fisik, terutama pada masa peperangan melawan kolonialisme, mempertahankan kedaulatan negeri. Dengan demikian, kepahlawanan hanya dikenali sebagai seseorang yang berjuang secara fisik, dalam arti lain bertempur dalam peperangan. Maka, kepada para pelajar di sekolah, kemudian diajarkan untuk menghafal nama-nama para tokoh yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Beberapa nama kemudian menjadi populis.  

 

 Ketika media mengangkat peristiwa perjuangan atlet difabel setara dengan kepahlawanan, bisa dikatakan ada pesan khusus yang hendak dikenalkan kepada khalayak. Artinya, dalam konteks ini, kepahlawanan tidak hanya dipahami sebagai seseorang yang telah berjuang dalam peperangan mempertaruhkan jiwa dan raga demi negara. Tetapi juga mereka yang berjuang mempertahankan hak atas kesetaraan hidup. Dan di sanalah para difabel itu bertaruh. Dengan berbagai kondisi berbeda yang dimiliki, mereka membuktikan bahwa hak untuk hidup setara dan  hak untuk  mendapatkan kesempatan sama, adalah keniscayaan yang mesti diiperjuangkan.     

 

Demikianlah, berita tentang perhelatan olahraga tingkat nasional untuk para difabel itu begitu penting diketahui pembaca. Berita itu memang seakan tenggelam di tengah banjir lautan informasi era digital ini. Tidak segegap-gempita dibanding berita politik, ekonomi atau gosip artis. Yang terakhir itu sampai kini banyak bertebaran di berbagai media. Di televisi, misalnya, dikemas dalam rubrik infotainment. Demikian pula di media online muncul berita soal gosip orang-orang populis dengan berbagai ragam. Lebih utama justru menonjolkan persoalan privat. Untuk saat-saat ini, sekadar menyebut contoh, yang sedang marak terutama soal pesohor yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur awal November 2021. Seolah tak ada habisnya fakta atas peristiwa itu dieksploitasi. Semua sisi kehidupan sang pesohor dikulik. Dikupas sampai tandas. Bahkan tak memberi ruang privasi bagi keluarga yang ditinggalkan. Sampai  kondisi kuburan yang porak poranda  sekali pun. Sungguh, sebuah pengabaian etika telah dilakukan oleh media. Pertanyaannya kemudian adalah, untuk apa sebenarnya informasi semacam itu? Bukankah sang pesohor sudah tiada? Kalau pun masih menyisakan perkara berkait kecelakaan yang merenggut dua nyawa manusia, itu tentunya sudah menjadi urusan pihak berwajib. Makna apa yang bisa diperoleh khalayak atas pemberitaan yang terus berekor dari peristiwa itu?  Jangankan memberi makna publik. Hak privat korban dan keluarga pun telah dilanggar. Masyarakat terus dicekoki dengan fakta-fakta privat melalui pemberitaan yang tiada henti dan tentu saja tak bermakna bagi kehidupan publik. Alih-alih membangun empati. Tak jarang justru kenyiniyiran yang tersaji, melalui berita penuh sensasi.

 

Baca Juga: Fakta Sejarah Baru dari Peparnas XVI Papua

 

Bergema dan bergetar

berita peparnas di koran nasional

Bandingkan dengan media yang konsisten memberitakan prestasi para difabel yang berlaga pada pesta olahraga tingkat nasional itu. Klahayak, telah dibawa kepada sebuah pemahaman tentang kesetaraan dalam kehidupan. Harian Kompas diamati, selain sebagai media arus utama, surat kabar cetak terbesar di negeri ini, tapi juga atas konsistensi pelaksanaan  kebijakan redaksi mereka. Di dalam news room tentu sudah disiapkan, dirancang, kemudian diwujudkan dalam olahan ragam informasi atas fakta di lapangan.  Dengan judul Cahaya Kesetaraan dari Langit Papua dan sub navigasi “Peparnas Papua 2021”, Kompas memastikan memberi pemahaman itu dengan bernas. Pada edisi Sabtu 6 November 2021 di halaman pertama, dilaporkan, antara lain dikutip sebagai berikut: Pembukaan pesta olahraga nasional terbesar kaum disabilitas ini, ditandai dengan kemeriahan pertunjukan cahaya dari 500 pesawat nirawak. Gemerlap dari langit Papua itu menyiratkan rasa setara semua anak bangsa.

 

Masih di halaman etalase, ditampilkan pula head line (foto utama) berukuran empat kolom, saat kontingen  DI Yogyakarta mengikuti defile pada pembukaan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Papua 2021 di Stadiun Mandala Jayapura Jumat (5/11). Dalam keterangan foto tersebut dijelaskan pula bahwa acara yang dihadiri Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin itu berlangsung semarak. Selain itu, disajikan informasi dalam bentuk infografis  tentang pesta olahraga bagi kaum difabel itu. Antara lain, soal nomor pertandingan, berjumlah 617, jumlah atlet 1.985 dan ofisial 740 orang. Sedangkan medali yang diperebutkan 861 emas, 861 perak dan 1.090 perunggu. Cabang olahraga yang dipertandingkan ada 12, yakni renang, panahan, atletik, boccia, menembak, catur, judo, tenis meja, bulu tangkis, angkat besi, sepak bola dan tenis lapangan kursi roda.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  arti kata resonansi seperti yang dipakai dalam judul tulisan ini adalah dengungan (gema, getaran) suara.  Arti lainnya  adalah peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar. Dalam topik penulisan ini, yang dimaksud  adalah publikasi media atas fakta para atlet difabel yang berlaga dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2021 di Papua, itu digemakan dan didengungkan kepada khalayak.

aksi atlet peparnas 2021

 

Konsekuensi dan apresiasi

Tidak banyak media pers yang memberitakan peristiwa tersebut. Barangkali dalam news room banyak media, isu difabel masih dianggap sebagai topik yang “tidak seksi” atau tidak “menjual”. Maka pilihan media atas konsistensi mewartakan isu difdabel dalam konteks peristiwa olah raga nasional itu, pastilah melahirkan konsekuensi di satu pihak. Namun, di pihak lain juga melahirkan apresiasi. Konsekuensi karena harus selalu meng-up date informasi seputar peristiwa tersebut. Sedangkan apresiasi layak diberikan, karena telah memberi informasi atas realitas dunia difabel yang selama ini mungkin jarang diketahui khalayak. Maka, beragam realitas itu pun kemudian disajikan kepada publik melalui beragam berita. Ada straight news (berita langsung), soft news (berita ringan) maupun artikel khusus (feature) juga publikasi berita foto yang langka sekaligus menawan.

 

Banyak informasi bermakna diberikan surat kabar itu, terutama tentang olahraga dan difabel. Misalnya tentang keberanian dan pengorbanan Hijrah Yanti (30) pebulutangkis kursi roda (klasifikasi WH1). Atlet asal Jawa barat itu bertarung tanpa kenal lelah untuk menyabet 2 emas dan 1 perak kelas nasional. Dia katakan, dengan bulu tangkis dirinya menemukan jalan baru. Sebelumnya tidak tahu bisa melakukan hal itu. “Setelah berusaha keras, ternyata bisa kok, “ ujar atlet difabel yang sejak usia 2 tahun tidak bisa berjalan akibat terserang polio itu (Kompas 11/11 - hal 15). Ia bertarung menggunakan kursi roda sewaan, Rp 300 ribu sebulan. Untuk membeli kursi roda standar internasional seharga Rp 60 juta, belum terjangkau olehnya.

 

Selain itu, ada pula kisah tentang pebulutangkis klasifikasi SL3 (difabel fisik bagian bawah) bernama Bambang Usiyan Purwito (41). Atlet asal Jawa Barat itu menyabet emas setelah menaklukkan atlet unggulan pertama yang sudah tampil di Peparnas. Demi emas pertamanya Bambang sudah melewati berkali-kali keram di kakinya, hingga tidak sanggup berjalan usai pertandingan. Sedangkan dari klasifikasi SS6 (keterbatasan tinggi badan)  atlet Jawa Tengah  Subhan (27)  dengan tubuh “kurcaci”, sama sekali tidak menghalangi mimpi besarnya . Dia meraih emas dari ganda campuran bersama Kustanti dan lolos ke final tunggal putra.  “Masyarakat jadi lebih tahu siapa kami. Tubuh kami kecil, tetapi tekad kami tidak kalah dengan yang lain,”ujar Subhan, seperti dilaporkan Kompas. Para penakluk keterbatasan itu juga akan menjadi pahlawan “Merah Putih” di masa depan. Mereka calon penghuni baru pemusatan latihan nasional.

 

Di bagian lain, disajikan pula kisah orang-orang yang berperan di belakang para atlet difabel. Mereka adalah para pelatih. Mendampingi atlet difabel, tentu sangat berbeda. “Jangan sampai marah kalau tidak dapat medali. Kalau tidak, malah isa down. Kami harus menjadi tempat mereka berteduh,” ujar Reviora, pelatih renang, (Kompas 10/11 - hal 1). Selain perenang tunanetra, Reviora juga mendampingi atlet klasifikasi tunarungu hingga tunadaksa. Setiap klasifikasi butuh pendekatan berbeda.

 

Adapun sajian foto yang menawan, juga memberi kesemarakan atas pemahaman informasi tentang atlet difabel. Foto utama edisi Selasa  9 November 2021, misalnya. Di sana ditampilkan dua pelari tunanetra ada babak final nomor lari 100 meter putri klasifikasi T11 (disabilitas netra). Dua pelari yang berlaga masing-masing disertai pendamping. Tangan sang atlet diikat bersama tangan sang pendamping yang juga ikut berlari. Kedua mata sang atlet ditutup rapat. Di foto lain adalah gambar tentang aksi atlet loncat tinggi klasifikasi tunadaksa bernama Nasib dari Riau (Kompas 7 November 2021 - hal 1). Sang atlet meraih medali emas setelah berhasil meloncati mistar setinggi 1.6 meter.

 

Aneka berita tentang banyak hal seputar Peparnas 2021 di Papua kiranya telah memberi ragam informasi di tengah infodemik saat ini. Selain itu, tentu saja telah memberi pengetahuan bagi khalayak. Di sinilah peran media dalam meresonansi fakta-fakta itu.[]

 

 

Penulis adalah :  penghayat jurnalisme dan isu disabilitas. Tinggal di Yogya

 

Penulis : agoes widhartono

Editor   : Ajiwan Arief

 

Yogya, 11 November 2021

Gambar : dokumentasi kompas

Lompat tinggi: Kompas, 7 November 2021

Lari: Kompas, 9 November 2021

Bulutangkis: Kompas, 11 November 2021

 

The subscriber's email address.