Lompat ke isi utama
Hardiyo saat ditemui solider sedang duduk di kursi roda

Hardiyo Bergerak dan Beri Harapan Baru untuk Sejahtera Bersama

Solider.id - Kursi rodanya meluncur begitu saja dari atas sespan, (motor modifikasi bagi mereka yang menggunakan kursi roda) yang menemaninya melakukan aktivitas. Dengan kumis melintang, senyumnya selalu mengembang. Sosoknya  yang berperawakan sedang dengan penampilan begitu sederhana, sangat khas mencirikan gambaran masyarakat pedesaan. Duduk santai di kursi roda biru dengan penuh keramahan, kakinya bersilang. Begitulah ia dalam keseharian.

 

Hardiyo, ayah dua anak ini sehari-harinya tinggal di Nglipar Kidul RT 04 RW 01, Nglipar, Gunungkidul. Rumahnya juga  berfungsi sebagai sekertariat organisasi tempatnya bergiat. Kesibukan menjadi Human Resource Department di CV. Deschino Sport yang bergerak dalam usaha membuat sarung tangan dan membawahi sekira 80 orang karyawan, tak membuatnya abai pada organisasi yang telah berhasil ia besarkan.

 

Menginisiasi lahirnya Pusat Pemberdayaan Disabilitas “Mitra Sejahtera”, atau lebih dikenal dengan PPD MS, Hardiyo merangkul  difabel yang tinggal di 18 wilayah kecamatan Gunungkidul untuk bersama melakukan pemberdayaan.

“Awalnya PPD MS dibentuk dengan dampingan dari Yakkum. Saat itu kami dipertemukan dengan sejumlah teman difabel yang lain di Gedangsari, hingga tercetuslah ide dan lahirlah PPD MS ini. Bila semula anggotanya hanya 25 orang, sekarang sudah lebih berkembang menjadi sekitar 450 orang, yang menyebar di seluruh wilayah Gunungkidul sebagai anak binaan.” Papar Hardiyo mengawali obrolan di terik siang, di sela jam kerja yang masih harus ia lakukan.

 

Hardiyo lebih memilih pulang saat jam rehat datang. Dan  ia akan menggunakan waktunya hanya untuk sekedar makan siang. Lalu melepas penat yang ia rasakan, tersebab kondisinya yang mengalami paraplegia saat saraf tulang belakangnya pada ruas 17 mengalami kerusakan.

 

Baca Juga: Menepis Stigma Orang dengan Disabilitas Psikososial Melalui Karya Seni

Berbagi kisah hidup yang sarat pengalaman Hardiyo menuturkan, bahwa dalam perkembangannya PPD MS yang memiliki anggota antara 450 orang ini menyebar di masing-masing wilayah kecamatan. Terbagi dalam Kelompok Pemberdayaan Disabilitas, kelompok-kelompok ini merupakan anak binaan PPD MS.

“Nama kelompok yang dibentuk pasti memiliki keterkaitan dengan PPD MS. Atau paling tidak nyrempet-nyrempet sedikit dengan PPD MS.” Ujarnya dalam tawa nan riang.

“Ada sekitar 20 kelompok pemberdayaan disabilitas yang telah terbentuk. Masing-masing kelompok ini memiliki hasil karya yang khas, menyesuaikan sumber daya yang sudah ada di lingkungan dan sesuai dengan kemampuan teman-teman.” Papar Hardiyo dengan senyum yang tak pernah ketinggalan.

 

Lalu pria yang akrab disapa dengan panggilan Papi oleh anggotanya seolah mengabsen nama-nama kelompok binaan. Ia menyebut satu demi satu nama kelompok yang telah mengalami perkembangan setelah melalui berbagai pemberdayaan. Mitra Karya Sejahtera, Mitra Ananda, Mitra Manunggal, Mitra Mandiri, Mitra Dadap Ayu Sejahtera, Mitra Sehati, Mitra Handayani, Mitra Mulia, Mitra Sejati dan masih ada beberapa lainnya lagi.

 

Tak hanya menjadi Ketua PPD MS, dari kebesaran hatinya pula Hardiyo ikut mencetuskan ide lahirnya Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) Gunungkidul yang kegiatan anggotanya mendalami masalah kebencanaan.

“Jadi mereka yang tergabung di FDTB juga seperti di PPD MS. Hanya saja keterampilan dan pembekalan ilmu yang mereka peroleh lebih cenderung dalam hal kebencanaan. Seperti bagaimana mengantisipasi bencana, bagaimana menangani saat kejadian bencana dan langkah apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana.” Terang Hardiyo sambil tak lupa menyampaikan bahwa Gunungkidul adalah wilayah yang rawan dengan bencana beragam.

 

Mengisahkan masa mudanya yang tak kenal pada tetangga, Hardiyo bercerita bahwa ia selalu ragu saat disertakan dalam satu acara atau kegiatan. Menyimpan segudang rasa takut yang menyerang hatinya, Hardiyo muda tak pernah terpikir bisa seperti sekarang.

“Dulu saya itu ibarat katak dalam tempurung. Hanya diam di rumah. Kalau mau bepergian selalu diantar Bapak. Kemana-mana selalu sama Bapak. Ya karena tidak bisa pergi sendiri, kalau mau pergi juga mikir dulu bagaimana.” Kata Hardiyo sambil tertawa mengenang.

 

Baca Juga: Perempuan yang Tegar Meski Diterpa “Ombak”

 

Merangkul mereka yang jadi anggota dengan rasa kekeluargaan, Hardiyo bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

“Setelah sering keluar dan berkegiatan, melihat kondisi teman-teman lain saya malah tidak tega. Karena saya bisa merasakan bagaimana rasanya orang-orang seperti mereka. Seringkali kami merasa begitu sedihnya. Mengakses kursi roda saja tidak bisa, pindah dari kursi roda tidak bisa, cari duit tidak bisa, mau ngapain saja tidak bisa.” Kenang Hardiyo menggambarkan hari-harinya yang harus diam di rumah karena tak pernah tahu dunia luar.

“Bahkan saat dikunjungi pak RT saja saya sudah merasa sangat bahagia karena sama sekali tidak pernah keluar.” lanjutnya dengan tawa kecil disematkan.

 

Rasa prihatin kembali menggugah hatinya terdalam, saat Hardiyo mendengar rata-rata anggota berkeluh tidak bisa ikut kegiatan karena mobilitas menjadi kendala yang mereka sampaikan.

“Kadang untuk ikut kegiatan karena jaraknya tidak terjangkau mereka harus menjual ayam, sementara mereka tidak bisa memiliki penghasilan.” Demikian Hardiyo mengemukakan alasan. Itulah sebab pemberdayaan ekonomi menjadi andalan kegiatan selama PPD MS memberikan bekal pelatihan.

 

Sekarang telah banyak instansi pemerintah maupun instansi swasta yang menjalin kerjasama dengan PPD MS, sehingga keterampilan anggota yang ada di masing-masing kelompok mengalami peningkatan.

“Bagi mereka yang sudah mandiri secara ekonomi akan kita lepaskan. Tetapi kalau masih ingin bergabung dalam kegiatan tentu saja kami tidak keberatan.” Begitu Hardiyo menuturkan.

 

Kini bersama keluarga kecilnya, Hardiyo boleh berbahagia menikmati hasil kerja keras yang telah dia lakukan. Bersama istri tercinta yang juga aktivis difabel di Gunungkidul, Puji Lestari, Hardiyo berhasil membesarkan PPD MS dengan beragam pemberdayaan. Membawa dan mengenalkan produk-produk kreasi anggota, PPD MS telah memiliki aneka jenis hasta karya yang sudah layak dipasarkan.

Ada aneka asesories etnis dari kayu dan rajutan, ada pula daur ulang perca dan olahan makanan. Bermacam perabot rumah tangga dari bambu, sampai usaha meubel juga dikembangkan. Semua produk yang ditawarkan sudah menjadi sumber penghasilan bagi anggota yang terlibat dalam pemberdayaan.

“Saya berharap dari apa yang telah mereka kembangkan, anggota bisa mandiri secara ekonomi. Karena dengan bisa menghasilkan uang sendiri, maka mereka bisa melakukan semua kegiatan dengan kemudahan. Tak perlu bingung lagi tentang kendala mobilitas seperti yang selama ini mereka rasakan.”  Pungkas Hardiyo saat waktu menunjukkan bahwa ia harus kembali melanjutkan pekerjaan.

 

Dan perlahan sespan biru dengan logo kursi roda besar itu meluncur di jalanan. Mengantar Hardiyo dalam membuka dan memberi harapan baru bagi difabel Gunungkidul untuk bersama meningkatkan kesejahteraan.

 

“Bila tidak bisa jadi yang terbaik, maka jadilah kita yang pertama.” Begitu prinsip yang ia pegang, hingga Hardiyo tetap konsisten membersamai organisasi yang kini telah memiliki banyak anak binaan.[]

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.