Lompat ke isi utama
ilustrasi kesehatan mental

Mental Health First Aid, Apa Saja yang Mesti Dipelajari?

 

Solider.id, Surakarta - Isu kesehatan mental menjadi hal penting saat ini di Indonesia. Namun pendataan tentang kesehatan mental dan kasus-kasus bunuh diri di Indonesia masih belum ada. Dari angka saja, masih susah mengetahui sebenarnya ada apa dengan masalah kesehatan jiwa. Dengan kondisi pandemi COVID-19, beberapa masalah mental di Indonesia secara spesifik menunjukkan angka kenaikan misalnya depresi tinggi dan juga burn out  tinggi. Pandemi sudah berjalan dua tahun dan banyak orang merasa hampa.

 

Kemudian muncul pertanyaan kapan seseorang merasa sudah sangat perlu untuk pergi ke profesional?  Menurut dokter Jiemi Ardian, psikiatri di RS Siloam Bogor, dalam sebuah siaran langsung di IG live, ada empat hal yang jadi tolok ukur seseorang sebaiknya segera datang ke profesional yakni adanya 4D : Distress, Disability, Danger, dan Deviance. Distress, ada penderitaan besar sedang dialami yang ada penyebabnya dan ada yang tidak ada penyebabnya.

 

Stress dari problem rasisme misalnya, atau sebagai minoritas, kadang tidak dilihat sebagai problem sebab orang melihatnya biasa saja. Kedua adalah Disability atau ketidakmampuan, entah itu ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari seperti belajar, belanja, bersosialisasi dan beraktivitas seperti biasa. Kalau seseorang merasa malas sehari, mungkin itu yang disebut malas, tetapi kalau malas sebulan itu bukan lagi malas. Danger, misalnya seseorang ingin mengakhiri hidup. Mereka pikir itu tidak berbahaya.

 

Bahwa sekalipun ada pemikiran intens untuk bunuh diri, kadang orang berpikir bahwa itu hal biasa. Lalu ada yang bisa mengalami banyak hal sekaligus, tidak bisa mengkotak-kotakkan diagnostik.

 

Perubahan mood misalnya, terjadi secara sistemik berupa lemas, gelisah, berdebar, sensasi bergoyang, lalu takut pingsan. Kemudian bagaimana jika orang yang kita sayangi seperti teman, orangtua, yang kita tahu ada yang berubah darinya dan apa yang harus kita lakukan?

 

Baca Juga: Yayasan Satunama Launching Mental Health Disability Institute (MHDI)

 

Dokter Jiemi menyampaikan bagaimana memberikan concern kita kepadanya, dengan mengucap kalimat “aku peduli denganmu” atau “saya conect denganmu”. Lebih baik memberikan respek concern kepadanya daripada menyalahkan. Mungkin dengan berbagi, bercerita dahulu, lalu menyampaikan perhatian kepada orang yang kita sayangi tersebut.

 

Dokter Sandersan Onie, PhD atau biasa dipanggil Dokter Sandy, Founder Emotional Health for All (EHFA) adalah penulis buku Mental Health First Aid, yang bekerja sama dengan Kemenkes dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Australia. Ia menambahkan bahwa sebaiknya kita menciptakan suasana bahwa kita dibutuhkan untuk didengarkan. Menurutnya fondasi di psikologi dan psikiatri adalah Heart. “Kita hadir di sana. Saat kita siap mendengar curhat. Kalau kita nggak sabar, lalu teman kita bilang, “saya nggak apa-apa kok”, itu yang bahaya,” ia memberi contoh.

 

Stigma ‘Kalau Depresi, Berarti Kurang Iman’

Dokter Jiemi menuturkan bahwa seseorang tidak hanya bisa dikatakan baik saja dalam intensi atau perhatian, tetapi juga baik dalam pengetahuan, keterampilan dan hukumnya wajib ada adalah being empaty, being compassionate, sebab kadang ketidaksabaran memunculkan amarah. Being empaty bisa dilakukan dengan menyatakan “saya mengerti apa yang kamu rasakan.” Menjadi catatan bahwa being empaty tidak harus mengiyakan perilakunya.

 

Dasar dari semua hal tentang intensi adalah empati. Empati itu yang paling mendasari. Di buku Mental Health First Aid disebutkan ada 10 hal yang bisa dilakukan antara lain : Be Watch, karena individu di Indonesia tidak terbiasa terbuka. Be Ask, ambil waktu, lalu duduk bersama. Dokter Sandy menceritakan kasus yang ia pegang, anak-anak yang tidak mau sharing kepada orangtua mereka. Jika mendapati hal demikian maka kita yang menjadi temanlah yang harus aktif. Be Listening dengan mendengar saja bisa untuk terapi. Kemudian dengan merespon, “terima kasih sudah bercerita.”

 

Lalu bagaimana jika kita merasa memiliki masalah hidup banyak banget namun mau cerita takut mendapat stigma? Dokter Sandy menjawab bahwa ada beberapa hal saat ini kondisi tidak baik-baik saja. Ada ketakutan yang banyak sekali. Memang ada orang yang suka men-judge, namun ada juga yang tidak. Benarkah sih dengan curhat meringankan? Jangan-jangan ketakutan itu membuat takut curhat. Apalagi di Indonesia, terkait stigma kesehatan mental parah. Ada orang yang takut berbagi cerita tapi sesungguhnya orang lain juga takut berbagi cerita.

 

Tanggung jawab seseorang sebagai teman, saudara atau keluarga kepada orang-orang itu adalah untuk mendengar. Sebab jika dimulai dari tidak ada orang yang diajak sharing, kemudian ia datang ke profesional, dokter Jiemi yakin profesional itu akan menyuruh untuk mencari orang guna mendengarkan. Ia menyampaikan sebuah quote, “jangan diam di pinggir jalan kalau ada rasa takut, tapi gunakanlah rasa takut dengan kehati-hatian sambil berjalan.”

 

Ada satu kata ‘time’, itu artinya seseorang perlu waktu istirahat dengan baik. Semula banyak orang berpikir Work From Home (WFH) lebih baik, tetapi orang semakin sadar ada benarnya menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat. Di Indonesia ada dua hal yang ekstrem : yang baru merasakan gejala, sedikit-sedikit datang ke profesional. Satunya, ada yang sudah bergejala berat baru ke profesional. Ibarat jangan sampai seperti mobil sudah berasap baru dibawa ke bengkel.

 

Kondisi mental di Indonesia buruk sehingga ada anggapan rasa takut untuk bercerita-cerita. Dengan adanya komunitas, tidak hanya healing tapi juga mencegah depresi parah atau suicidal. Kesehatan mental menjadi tanggung jawab tidak hanya pemerintah, psikiater, psikolog, tapi di setiap individu. Sebab intensi saja tidak cukup.

 

Dokter Sandy telah memberikan insight yang sangat penting di buku Mental Health Firs Aid bahwa kita tidak bisa hanya copy paste, pendekatan dari internasional atau budaya barat untuk sekadar dilakukan begitu saja, tetapi harus ada pengaturan, atau dengan membuat riset sendiri pada budaya lokal bagaimana pendekatan ini bisa maksimal.

 

Menurut data saat ini jumlah penduduk Indonesia 270 juta, tetapi di tahun 2020 psikolog dan psikiater hanya 3000. Jika seseorang harus bertemu profesional, mau menunggu berapa lama? Maka buku Mental Health First Aid ditujukan untuk orang yang tidak memiliki latar belakang psikolog dan isinya simple tentang apa itu depresi, cemas, dan alasan supaya orang-orang memiliki keterampilan dasar.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.