Lompat ke isi utama
poster kegiatan literasi digital

Pentingnya Literasi Digital bagi Difabel

Solider. Id - Literasi digital sangat diperlukan bagi difabel terutama untuk mencegah berita hoax. Literasi digital juga bisa membantu  difabel untuk  pemasaran produk atas usaha yang mereka lakukan.” Demikian Nanang Kosim, Ketua DPC PPDI Kabupaten Karawang mengatakan.

Hal tersebut disampaikan Nanang dalam acara Webinar Pengabdian Masyarakat yang diselenggarakan melalui ruang zoom oleh Universitas Singaperbangsa, Karawang. Kegiatan berlangsung pada (9/10).

 

Mengusung tema “Cakap Bermedia Digital bagi Penyandang Disabilitas” acara ini menghadirkan Ade Kurnia, S. Kom., Kepala Bidang Penyelenggara Informasi Publik Diskominfo Kabupaten Karawang selaku perwakilan Pemerintah Kabupaten Karawang. Sebagai narasumber lain adalah M. Fakhrudin, S.I.P., M.Si., Redaktur Harian Republika dan Weni Arindawati, S.I.P., M.A., Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang.

 

Sayangnya menurut Nanang, masih banyak  difabel yang terkendala dalam menggunakan media digital. Selain masih banyak fitur yang belum akses, masih banyak pula informasi atau pesan yang belum bisa menjangkau  difabel. Hal ini dikarenakan publik atau pemerintah belum sepenuhnya sadar akan kesetaraan dalam memfasilitasi kebutuhan  akses informasi bagi difabel.

 

Dituntut untuk menjadi orang yang mandiri dan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, bagi Nanang hal ini masih menjadi persoalan karena banyak keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan difabilitas yang cenderung protective, dan menghindar dari interaksi sosial.

“Sehingga banyak  difabel yang tidak diberi kebebasan berinteraksi, beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan. Hal ini membuat  difabel menjadi terkungkung dan tidak dikenal lingkungan, bahkan menjadi gaptek (gagap teknologi). Karenanya dengan berbagai hambatan yang dimiliki, literasi digital bisa menjadi alat kampanye atau promosi untuk mengenalkan diri sendiri, sekaligus sebagai sarana interaksi, promosi dan sosialisasi, sehingga  difabel tidak menjadi masyarakat yang terpinggirkan, dan secara umum bisa melakukan kegiatan bersama masyarakat.” Lanjut Nanang kemudian.

 

Baca Juga : Cara Cerdas Literasi Digital, Bangkitkan Sensitifitas Difabel

 

Karenanya Nanang berharap, agar ketika menyajikan satu informasi maka pemerintah harus menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan  difabel.

 

Menyambut harapan tersebut, Ade Kurnia, S. Kom., Kepala Bidang Penyelenggara Informasi Publik Diskominfo Kabupaten Karawang, menyampaikan materi tentang Perlunya Cakap Bermedia Digital Bagi Difabel.

Ade menjelaskan hal tersebut karena media digital memiliki banyak kelebihan yang berguna bagi difabel. Adapun beberapa manfaat yang bisa didapat dari literasi digital secara umum antara lain menambah wawasan individu melalui kegiatan mencari dan memahami informasi. Dapat meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir dan memahami informasi. Menambah penguasaan kosa kata dari semua sumber informasi yang dibaca. Meningkatkan kemampuan verbal individu dan meningkatkan daya fokus serta konsentrasi. Menambah kemampuan dalam membaca dan merangkai kalimat serta menulis informasi.

 

Sementara dalam konteks difabel sendiri makna media digital memiliki arti sebagai sarana aksebilitas, sarana inklusifitas dan sarana fleksibilitas, yang beberapa dari masing-masing kondisinya memberi banyak manfaat bagi  difabel. Yakni meningkatkan informasi, sebagai penunjang kemandirian, sebagai ekspresi diri, sebagai sarana interaksi sosial, sebagai kesempatan belajar dan sebagai peningkatan kemandirian dalam orientasi mobilitas.

“Melalui budaya digital  difabel juga akan memperoleh peluang-peluang seperti peluang wirausaha yang bisa berupa kursus online, online shop atau jasa pembuatan desain. Peluang bekerja di sektor pemerintah atau swasta dengan menjadi digital content writer, copy writer, atau customer operator. Peluang untuk melakukan social campaign dan peluang berkarya, hingga peluang untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan.” Sayangnya dari beberapa peluang yang tersedia, Ade menemukan tantangan yang masih harus dihadapi mengingat saat ini belum tercapai pemerataan teknologi informasi. Masih adanya media digital yang tidak bisa diakses  difabel, dan kurangnya pengetahuan tentang media digital turut menjadi tantangan yang harus dihadapi. Hingga kurang memadainya keterampilan digital dan rasa percaya diri yang juga ikut mempengaruhi. Karenanya dengan perubahan budaya literasi di era digital diharap turut mempengaruhi difabel agar lebih bisa eksis di dunia digital. Hal inilah yang membuat M. Fakrudin, Redaktur Harian Republika membawakan materi terkait Budaya Literasi, dengan mengatakan bahwa di era 4.0, satu era yang istilahnya diciptakan untuk memadukan praktik manufaktur dan industri tradisional dengan dunia teknologi, akan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

 

Era 4.0 ini memberi peluang bagi difabel untuk dapat muncul dalam berbagai kesempatan yang sama untuk menfaatkan kecanggihan teknologi untuk berbagi hal, mulai meningkatkan kapasitas, bersosialisasi dengan orang banyak dengan berbagai laterbelakang, hingga berkreasi dan memasarkan hasil kreatifitasnya.

“Difabel juga punya komunitas yang harus didengar suaranya untuk diketahui dunia luar. Difabel harus menunjukkan bahwa mereka itu ada atau eksis. Karenanya dengan komunitas dan prestasinya, melalui literasi digital akan membantu  difabel agar lebih diketahui dunia, sehingga bisa tampil di ruang digital, untuk kemudian akan muncul di ruang pencarian.” Tutur M. Fakhrudin yang menjelaskan bahwa dengan munculnya nama komunitas difabel bersama kegiatan mereka di ruang pencarian akan memudahkan dunia luar menemukan dan mengenal mereka lebih mendalam.

 

Fakhrudin juga menyampaikan bahwa melalui literasi digital,  difabel dapat memahami bahwa mereka punya peluang yang sama dengan warga lainnya, karena semua kegiatan di era 4.0 tidak dilakukan secara manual sehingga   difabel tidak memiliki hambatan.

“Era industri 4.0 atau era digital ditandai dengan signal atau jaringan wireless, dimana diharapkan semua orang bisa mengoperasikan alat produksi dengan satu klik tangan. Artinya era digital bisa dimanfaatkan oleh difabel untuk melakukan kegiatan ekonomi dan produksi yang  bisa eksis di era digital tanpa perlu menggunakan alat atau tubuh kita untuk bekerja.” ujar Fakrudin sambil mengingatkan bahwa dulu meskipun mampu, keterampilan sahabat difabel masih sering dimarginalkan. Namun dengan era digital yang mempengaruhi perubahan budaya, maka kesempatan bagi sahabat difabel semakin terbuka nyata.

“Era sekarang adalah kesempatan bagi difabel untuk membangun keterampilan. Dengan perubahan budaya literasi di era digital ini dapat meningkatkan awarness isu difabel bahwa difabel mampu menyuarakan isu difabel untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dengan begitu masyarakat bisa menyediakan sarana-sarana yang layak dan baik untuk difabel, yang didalamnya sudah termasuk sarana psikologis dan tidak berupa sarana fisik.” Pungkas Fakrudin dengan harapan agar melalui teknologi digital   difabel mampu mendorong dan meningkatkan kinerja dengan kemajuan teknologi yang telah ada.

 

Sosialisasi ihwal literasi digital perlu terus dilakukan. Selain meningkatkan kesadaran bagi difabel, peningkatan kapasitas bagi difabel untuk bisa “melek” teknologi perlu pula dilakukan. Selain itu, penjangkauan dan kesetabilan jaringan internet di berbagai daerah di Indonesia perlu terus digalakkan. Meski pemerintah telah gembor-gemborkan pemerataan  akses teknologi, namun nyatanya, masih banyak daerah, terutama di pedesaan belum dapat mengakses internet secara proper dan stabil.[]

 

 

 Reporter: Yanti

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.