Lompat ke isi utama
sosialisasi terapi tumbuh kembang  anak

Pentingnya Terapi untuk Tumbuh Kembang Anak

Solider.id – Indikator tumbuh kembang anak Indonesia masih belum memenuhi standar global. Menurut WHO atau badan kesehatan dunia, perbandingan tinggi badan, berat badan dan usia anak menjadi tolok ukur status gizi serta kesehatan populasi sebuah negara.

 

NLR Indonesia dalam rangkaian kegiatan BILIK Disabilitas Tangguh, sesi penutupnya mengangkat materi tentang ‘Tumbuh Kembang,’ dengan tema ‘Tumbuh kembang anak yang mengalami kusta dan disabilitas melalui terapi selama pandemi.’

 

Disampaikan oleh S. Novy Hikmah M.R., S.ST, FTr, RPT, Mpsi dari Unit Fisioterapi Instalasi Rehabilitasi Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, terapi menjadi penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Terlebih pada anak-anak yang mengalami kusta dan anak dengan kedifabelan.

“Setiap anak dengan pertambahan usianya memiliki tingkatan atau fase pertumbuhan secara fisik dan kemampuan dari sturuktur tubuhnya. Ini menjadi momentum yang penting untuk diketahui para orang tua, termasuk bagi mereka yang memiliki anak dengan kedifabelan,” papar Novy Hikmah yang menjadi narasumber kegiatan NLR Indonesia.

 

Ia menjelaskan, setiap anak memiliki hak yang sama yang harus didapatkan dari orang tua dan lingkungan keluarganya. Peran orang tua sangat penting dalam memperhatikan pertumbuhan serta perkembangan anak dari usia nol hingga balita dan seterusnya.

 

Baca Juga: NLR Indonesia Gelar Edukasi Kusta pada Anak dan Difabel

 

Penyebab tumbuh kembang anak kurang optimal

Kedifabelan pada anak juga dapat terjadi karena kekeliruan pola asuh atau cara menjaga anak sejak lahir atau pada fase tumbuh kembang diusia balita. Aktivitas gerak motorik masih sangat rawan, sehingga perlu diperhatikan.

 

Pelibatan peran orang tua dan pengasuh memiliki makna yang besar bagi proses perlingdungan dan tumbuh kembang anak dengan kedifabelan. Peran tersebut akan sangat berdampak pada cara merawat, memelihara, mendidik serta meramu bakat dan potensi yang ditemukan pada anak difabel.

 

Penyebab lain, karena ibu hamil   tidak mendapatkan cukup nutrisi yang memadai pada masa kehamilannya. Lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat juga akan mempengaruhi, selain minimnya tingkat pengetahuan tentang kesehatan serta faktor sosial ekonomi.

“Tiap tingkatan usia pada anak ada masa tumbuh kembang dengan mempelajari hal baru. Seperti bayi ketika lahir langsung terdengar suara tangisannya itu baik, ketimbang yang harus dirangsang agar menangis. Contoh: di tepuk-tepuk dulu baru menangis, juga pada tahapan usia selanjutnya,” Novy menerangkan demikian.

 

Menjaga kehamilan dengan baik dan mengoptimalkan penjagaan selama fase pertumbuhan anak, dapat meminimalisir risiko gangguan pada tumbuh kembang anak.

 

Perkembangan kemampuan dan keterampilan anak

Beberapa fase tumbuh kembang anak dapat diperhatikan dari perkembangan berdasarkan kemampuan dan keterampilannya. Misalkan: (1) Pada kemampuan sensoriknya, anak dapat mendengat, melihat, dapat menggunakan indera raba, indera rasa atau cium. (2) Pada kemampuan motoriknya, membedakan gerak kasar yang cenderung lincah dan halus yang cenderung pelan. (3) Pada kemampuan kongnitifnya, anak akan bertambah pengetahuannya dan kecerdasannya. (4) Kemampuan dalam komunikasi atau berbahasa. (5) Kemampuan mengolah emosi dan sosialnya. (6) Kemampuan untuk kemandiriannya.  

 

Fese tumbuh kembang anak berdasarkan tingkat usia

Pada bayi usia nol bulan atau bulan pertama sejak kelahirannya, ia hanya mampu tidur, menangis dan belum banyak bergerak. Usia satu hingga dua bulan, ia mampu tidur telungkup serta mulai mengangkat kepala. Usia tiga bulan mampu terlentang dan menggerakan kaki serta tangan.

 

Memasuki usia empat bulan, bayi mampu duduk dengan dibantu dipegang atau dijaga. Kemampuan motoriknya sudah lebih kuat. Usia lima bulan mampu duduk lebih kokoh dan mulai peka terhadap obyek atau benda di sekitarnya. Usia enam bulan mampu duduk di bangku bayi dan lebih tertarik pada obyek yang ditemuinya. Pada usia tujuh bulan, ia dapat duduk sendiri tanpa dibantu.

 

Menginjak usia delapan bulan mulai berdiri dengan dibantu. Usia sembilan bulan, aktif berdiri merambat pada benda sekitar seperti furniture sebagai sanggahan berpegang. Usia sepuluh bulan berjalan merangkak. Sebelas bulan berjalan dengan dibantu. Usia dua belas bulan atau genap satu tahun, anak mulai berjalan merambat biasanya pada furniture.

 

Usia tiga belas bulan, anak bisa merambat hingga pada undakan tangga. Empat belas bulan, ia mampu berdiri tegak tanpa dibantu. Dan pada usia lima belas bulan sudah dapat berjalan.

“Bila ditemukan kelambatan pada fase tumbuh kembang berdasarkan tingkat usia anak, orang tua atau pengasuh tidak perlu langsung panik. Beri kesempatan anak beberapa waktu dengan tetap diperhatikan secara konsisten. Sebab, perkembangan anak tidak semua sama,” terang Novy.

 

Pentingnya terapi dalam tumbuh kembang anak

Ketika ditemukan fase perkembangan kemampuan dan keterampilan pada anak yang tidak wajar dalam tenggat waktu yang telah diberikan, maka lakukanlah konsultasi kepada dokter. Kondisi serupa juga bisa terjadi pada anak dengan kusta dan kedifabelan sejak lahir. Mereka pun harus tetap mendapatkan perhatian dalam tumbuh kembangnya, sehingga kondisinya tidak terus menurun kedifabelannya bisa berkurang atau tidak meningkat lagi.

“Semua tingkat risiko bisa diminimalisirkan. Terapi bisa dilakukan selama masa pertumbuhan anak berlangsung, bahkan tidak ada batasan usia bagi mereka yang mengalami kedifabelan,” kata Novy Hikmah.

 

Fungsi terapi memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh anak dengan kedifabelan. Selain menjaga kondisi keterampilan dan kemampuan stuktur tubuh tetap stabil, juga dapat meminimalkan kedifabelan agar tidak bertambah.

 

Bahkan, kemungkinan kedifabelan yang akan terjadi pada bayi yang terdeteksi sejak dini dapat dihindari dengan melakukan terapi secara tepat. Misal, terlihat stuktur tubuh pada kaki, tangan atau bagian lain yang tidak sebagaimana mestinya dapat diterapi dengan berbagai cara atau langkah yang tepat.

“Stuktur tubuh dan motorik pada bayi masih lunak, masih bisa dimaksimalkan agar dapat berfungsi secara baik,” pungkas ia.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.