Lompat ke isi utama
ilustrasi bipolar

Mengenal Gangguan Bipolar

Solider.id - Dokter Satti Raja Sitanggang, Sp.KJ., salah satu narasumber dalam siaran RPK fm bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan Bipolar Care Indonesia (BCI) menyatakan bahwa bipolar adalah salah satu gangguan jiwa serius. Bipolar memiliki ciri khas dua kutub, yakni kutub atas dan bawah dan bukan gangguan kepribadian. Gangguan suasana perasaan yang berubah, di kutub atas manic dan bawah depresi. Hal ini menganggu fungsi. Tegaknya diagnosa bipolar apabila memenuhi indikasi minimal dua minggu mengalami kondisi ini. Bipolar memiliki gejala-gejala : kalau lagi manic, bisa dalam kondisi euforia, semangat berapi-api. Kegembiraan baginya bisa menjadi sesuatu hal yang berbeda dan aneh. Disebabkan perasaan gembira sehingga bisa banyak ide, banyak berbicara, atau berbicara secara belibet (tidak terstruktur). Kadang ketika manic (gangguan suasana hati), timbul emosi tak terduga seperti marah tanpa sebab. Pun demikian jika mereka sedang depresi, mereka dapat saja berubah sikap. misalnya yang biasanya tidak memakai make up, lalu tampak menor, besok-besok tidak mau mandi.

 

Penyebab bipolar multifaktor meski sebenarnya ada faktor genetik dari tubuhnya. Pencetusnya psikososial, psikologis, dan bisa karena penyakit terkait hormon tyroid, epilepsi dan gangguan tumor di kepala. Penyakit lupus bisa membuat gangguan mood, yang utama adalah lupusnya diobati terlebih dahulu. Kalau bipolar, murni gangguan genetik.

 

Igi Oktamiasih salah seorang founder BCI dalam siaran menceritakan awal dulu bersama teman-temannya mengadakan pameran seni bagi orang-orang dengan gangguan mental. Lalu terbentuklah BCI di tahun 2011. Akun media sosial yang dimiliki oleh BCI adalah di facebook, IG, youtube dan twitter. Anggota BCI tidak semua penyintas. Dulu awal-awal berdiri, masih banyak orang-orang yang bingung untuk mengidentifikasi dirinya apakah bipolar atau tidak. Seiring berjalannya waktu, sudah banyak orang yang pergi ke profesional. Anggota BCI sekarang khusus penyintas dan caregiver. Igi mengaku untuk menjadi pengurus tidak mudah, apalagi ia pekerja di sebuah perusahaan.

 

Baca Juga: Cerita Dua Penyintas Mental Health berjuang Kikis Stigma

 

Sebuah pertanyaan mencuat bagaimana membadakan bipolar dan gangguan mood bagi anak remaja misalnya ketika PMS (pre-menstruasi)? PMS terkait hormonal, pada saat itu ada ketidakseimbangan hormonal yang memperbaiki kondisi mood seorang perempuan. Hal ini biasa terjadi dua minggu sebelum menstruasi. Di luar itu dia normal, jadi murni masalah haid. Kalau bipolar apakah sedang menstruasi atau tidak, gangguan itu ada tetapi memang harus dipastikan pada anak remaja, misalnya apakah ada tantrum, apakah itu suatu kondisi yang perlu diwaspadai, yang mungkin itu gejala awal bipolar yang akan muncul di masa dewasa.

 

Gangguan bipolar biasanya ada di usia berapa? Apakah bisa dialami oleh anak? Jawabnya bisa. Karena bisanya hanya dikaitkan dengan tantrum, apakah tantrumnya ini berhubungan atau tidak. Apakah itu gangguan regulasi mood atau ada yang lain maka perlu pemeriksaan lebih lagi jadi tidak serta merta anak yang tantrum bipolar meski bipolar bsa dimulai dari anak remaja, dan mungkin nanti menginjak dewasa atau oleh orangtua.

 

Lalu apa perbedaan bipolar dan skizoafektif? Skizoafektif gejalanya mirip bipolar, gabungan antara skizofrenia yang berkolaborasi dengan bipolar. Pada skizoafektif, ada gejala skizo yang dominan, sedangkan di bipolar murni gangguan mood, tidak ada halusinasi dan waham.

Pada bipolar, cenderung di luar relaps (kambuh) dia normal seperti orang biasa, tetapi kalau skizoafektif kondisi semakin menurun. Beberapa pengalaman disampaikan Igi, di BCI ada diagnosa dinamis, tadinya bipolar jadinya Post Partum Depression (PPD), atau semula depresi, lalu jadi bipolar.

 

Tidak semua orang mengerti atau memiliki empati. Untuk menepis stigma, berbagai upaya dilakukan oleh komunitas. Sebagai Orang Dengan Bipolar (ODB) harus membuktikan dua kali lebih dari orang lain, bahwa mereka tidak seperti yang orang-orang pikirkan, misal orang dengan isu kesehatan mental tidak bisa produktif, hanya jadi beban keluarga, atau tidak bisa melakukan sesuatu yang berarti. Kalau kita dengerin stigma akan depresi orang.

 

Dalam bipolar dibutuhkan obat obatan untuk menstabilkan neurotransmitter sebab mereka butuh stabilizer, di tengah, dan ada hipomanik, yang pengobatanya untuk menstabilkan. Juga antipsikotik   dosis kecil dan terapi keluarga yang tujuannya bagaimana memperbaiki lingkungan sekitar yang bisa mentriger/memicu.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.