Lompat ke isi utama
berfoto bersama staf Sigab, rombongan Yayasan Ate Keleng

Belajar Inklusi dan Difabilitas, Yayasan Ate Keleng berkunjung ke Sigab

Solider.id, Yogyakarta – sejumlah pengurus Yayasan Ate Keleng Gereja Kristen Batak Karo dan Yayasan Alfa Omega berkunjung ke kantor Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) Indonesia pada rabu (3/10). Rombongan disambut  oleh sejumlah staf Sigab yang terdiri dari manajemen, divisi program Rintisan Desa Inklusi, dan staf media.

 

Pendeta Yusuf Tarigan selaku direktur Yayasan Ate Keleng mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja datang ke Sigab Indoenesia untuk belajar tentang bagaimana melakukan advokasi difabel. Dalam kunjungannya, Yayasan Ate Kaleng membawa  tim dari divisi sosial politik yang pada tiga tahun kedepan berfokus melakukan kerja-kerja mengorganisir difabel setempat untuk dapat melakukan advokasi terhadap hak-hak mereka.  Saat ini, program tersebut sudah berlangsung selama satu semester.

 

Pendeta menambahkan bahwa advokasi yang diupayakan oleh kelompok dampingannya adalah advokasi kebijakan di tangkat desa. Sebab difabel di desa masih sering mendapatkan pengabaian dan diskriminasi. “kami ingni belajar lebih lanjut ihwal apa yang sudah dilakukan oleh Sigab Indonesia dalam hal advokasi dan pendampingan difabel yang ada di desa. Kami memang masih baru dan ingn belajar. Harapannya kami dapat melakukan program yang baik pula di daerah kami nantinya”.

 

Sementara itu, Rohmanu Sholihin, perwakilan dari Sigab Indonesia mengungkapkan bahwa sejauh ini, Sigab telah menjalankan program yang bernama Rintisan Desa inklusi sejak tahun 2015. Awalnya, Sigab hanya mendampingi beberapa desa saja untuk piloting, namun kini banyak desa sudah melakukan replikasi desa inklusi. Berbagai hal yang sudah dilakukan, mulai dari melakukan loby ke desa untuk membangun infrastruktur yang ramah difabel, membentuk kelompok difabel desa, hingga beberapa desa saat ini sudah punya peraturan desa tentang perlindungan dan pemenuhan hak difabel. Dengan demikian, upaya penghormatan pemenuhan hak difabel di tingkat desa telah punya payung hukum.

 

Usai berdialog dengan beberapa staf Sigab Indonesia, tim Ate Kaleng dan Alfa Omega melanjutkan kunjungan ke Desa Wahyu Harjo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo. Mereka ingin belajar tentang bagaimana upaya pemberdayaan difabel yang dilakukan oleh kelompok difabel desa setempat.  

 

Nuryanta, ketua Kelompok Difabel Desa Wahyu Harjo mengungkapkan bahwa jumlah difabel di wilayahnya terdapat 28 orang. Jumlah ini terdiri dari berbagai ragam difabel dari mulai difabel fisik, netra, bahkan di desa tersebut memiliki 8 anggota difabel psikososial.

 

Nuryanta mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, Sigab telah melakukan berbagai pendampingan. Pada awalnya mereka melakukan pendataan di desa terssebut, selanjutnya mengundang beberapa difabel untuk mengikuti sebuah pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, banyak yang belum kenal satu sama lain, padahal mereka sama-sama tinggal di desa Wahyu Harjo.

 

Peningkatan  kapasitas anggota juga tak luput dilakukan oleh kelompok difabel desa tersebut. Nuryanta menjelaskan bahwa pada awalnya, perspektif difabel Ketika diundang oleh pihak desa hanya akan menerima bantuan, namun seiring pendekatan dan pemahaman, perspektif mereka berubah. Bahkan sudah mulai mengarah ke pemberdayaan. Beternak kambing, pemasaran makanan, dan berbagai upaya lain adalah bentuk pemberdayaan yang dilakukan oleh kelompok difabel desa Wahyu Harjo.

 

Advokasi ke pihak pemerintah desa juga tak luput dilakukan. Nuryanta mengungkapkan beberapa tahun terakhir, kami merasa  “di uwongke”, diakui keberadaannya. “kami telah diundang dalam berbagai ajang musyawarah di desa. Dengan demikian aspirasi kami sebagai warga difabel desa dapat kami sampaikan kepada yang berwenang dan harapannya pemerintah desa setempat mulai aware dengan hak-hak kami” pungkas Nuryanta.

 

Selain berkunjung ke Sigab dan desa dampingan rombongan Yayasan Ate Keleng dan  Alfa Omega juga mengunjungi sejumlah lembaga dan organisasi difabel lain di Yogyarta. Mereka juga berkunjung ke Yakkum, SAPDA, dan Ciqal.

 

Reporter: Hendra D

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.