Lompat ke isi utama
ilustrasi kegiatan Jogja International Disability Art Biennale 2021

Daya Hidup dan Nyali Seniman Difabel

Solider.id - BERKARYA seni merupakah hak setiap orang. Tidak dibatasi oleh keadaan fisik. Demikian pula bagi mereka yang terlahir sebagai difabel. Dalam hal berkesenian, difabel tidak selayaknya hanya dipandang sebagai obyek. Namun justru harus menjadi subyek.

 

Dengan berasumsi bahwa setiap individu menguasai media seni, maka berdasar proses pembelajaran yang dilakukan, akan menghasilkan sebuah proses dialog batin. Setiap pembelajaran tentu akan melahirkan keyakinan pada diri. Muncul dan menguatnya rasa percaya diri pada setiap subyek atau individu, itu kemudian diekspresikan dalam karya seni

 

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa proses merupakan kata kunci dari sebuah aktivitas dalam berkarya. Artinya, hasil bukan menjadi tujuan utama. Dalam setiap proses yang dilakukan, karya seni yang tercipta tentu saja bersifat sangat personal. Tidak bisa dikatakan seperti halnya membahas hasil pembelajaran di sekolah formal yang bersifat seragam. Karena, ekspresi perasaan dalam seni hanya dapat terjadi dalam suasana perasaan “sekarang” yang santai bahkan dalam suasana kegembiraan dalam mencipta. (Jakob Sumardjo- 2000).

 

Sebuah perhelatan seni rupa istimewa yang saat ini sedang digelar di Yogyakarta, telah memberi warna berbeda bagi khalayak. Acara itu adalah “Jogja International Disability Art Biennale 2021”. Seluruh peserta pameran seni rupa itu adalah difabel. Sebanyak 56 seniman difabel terlibat dalam acara itu. Mereka menampilkan 120 karya seni rupa, berupa karya lukis dan karya olah digital. Dalam pameran seni rupa berskala internasional itu, peserta berasal dari 11 negara. Indonesia menjadi tuan rumah dengan menyertakan 35 seniman difabel yang berasal dari 15 kota. Maka, pantas dicatat, pameran seni rupa semacam itu, baru kali pertama digelar di Yogyakarta. Bahkan di Indonesia. Pameran tersebut direncanakan sebagai agenda dua tahunan. Sebuah upaya berani dari pihak penyelenggara.  Pada gelaran perdana, pameran berlangsung 18 – 30 Oktober 2021, bertempat di Art Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

 

Apresiasi layak diberikan pada penyelenggara acara, Jogja International Disability Arts (JDA). Dinamika trivial dalam mengorganisasikan kepanitiaan demi menggelar acara tersebut, pasti beragam dan memiliki kesulitan yang tidak sederhana. Namun, pada kenyataannya, pameran tersebut mampu menyedot atensi khalayak. Selain itu, memberi pemahaman kepada masyarakat tentang betapa luasnya medan seni rupa bisa dikerjakan oleh siapa pun. Apalagi dihasilkan oleh para seniman difabel yang hadir dari banyak negara di dunia. Harus dipahami, meng-conduct hal itu tentu bukan pekerjaan mudah, di tengah situasi sosiologis atas masih terus diproduksinya stigma bagi difabel hingga kini.

 

Baca Juga: Ruang Karya Seni yang Menyingkirkan Sekat

 

Hak dan kesempatan

Para difabel pelaku seni, di mana pun mereka berada dan terutama peserta pameran tersebut, tentu hanya membutuhkan kesempatan dan aksesibilitas. Dengan demikian mereka berdaya, setara dan mampu melakukan apa saja. Dukungan dan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga dan masyarakat, sangat berpengaruh terhadap perkembangan seorang difabel. Apresiasi juga harus diberikan terhadap sekecil apapun yang telah dilakukan.  Jika ada pertanyaan, adakah pengaruh bagi seorang difabel dengan berkarya seni? Maka, jawabannya: tidak berlebihan jika kenyataan kemandirian mental yang terbangun membuktikan semua itu. Sebanyak 120 karya yang dipamerkan dalam gelaran seni rupa itu, merupakan jawaban empirik.

 

Mengutip pernyataan Sukri Budi Dharma, selaku ketua JDA, selama ini masih banyak ruang yang belum mengakomodir penyandang disabilitas pelaku seni. Mereka seolah hanya sebagai pemenuhan wacana dalam bernegara. Di Indonesia masih jarang diadakan agenda seni secara khusus yang melibatkan difabel. Berbeda dengan negara lain.

 

Dengan semangat positivisme yang dibangun pihak penyelenggara, bisa disebut biennale para difabel berskala internasional di Yogya ini, telah menyibak kebekuan sekaligus menyingkirkan stigma. Harus disadari, bahwa pada hakikatnya seni adalah manifestasi setiap kehidupan manusia.

 

Banyak alasan dan latar belakang difabel pelaku seni melakukan kegiatan seni. Ada yang digunakan untuk mengasah dan menggali potensi bertumpu pada talenta yang dimiliki. Ada pula yang digunakan demi pemenuhan hidup. Atau sebagai media ekspresi, dan ada pula sebagai terapi. 

 

Pada kenyataannya, sejauh ini wadah yang bisa mengakomodasi dan memberi ruang seni dan kesempatan setara bagi   difabel, masih sangat kurang. Kiprah mereka masih bersifat individu. Hanya mendapatkan dukungan dari lingkungan keluarga. Difabel pelaku seni hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan ruang secara proposional. Dengan  demikian, biennale seni rupa difabel pelaku seni di Yogya ini, diharapkan meneguhkan kepada khalayak bahwa difabel pelaku seni berdaya. Mereka bisa mengaktualisasikan diri. Tidak lagi memunculkan enigma atas kemampuan dalam berkarya seni yang memberi manfaat bagi diri sendiri maupun sesama. Setiap kesempatan dan kesetaraan menjadi hak bagi kehidupan mereka.

 

Baca Juga: Aqil Prabowo, Menandai Kesan Mendalam dalam Setiap Karya Lukis

 

Proses berbicara

Jika pada pameran itu, penyelenggara lebih mengedepankan karya seni untuk dapat diapresiasi publik, kiranya sebagai bukti atas terjadinya sebuah proses panjang. Apapun hasil yang diperoleh. Namun, pada  realitasnya, 56 seniman dan 120 karya itu telah lolos seleksi.  Bagaimana pun, setiap individu yang berkarya dalam pameran itu, telah membangun daya hidup dan memantik nyali pada setiap helaan nafas mereka.  Hidup di dunia nyata dengan pembuktian karya, menjadi cara untuk menjaga daya hidup itu.

 

Dalam gedung pameran memang tidak ditampilkan keterangan tentang jenis difabel para seniman. Akan tetapi, menilik ratusan karya tersaji, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka telah berproses lama. Bukan sebagai pelaku seni yang berkarya hanya demi sebuah proyek besok pagi. Beberapa nama seniman difabel yang sudah memiliki reputasi atas karya mereka, mengikuti pameran ini. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara lain.  Di sana hadir berbagai difabel pelaku seni. Ada seniman difabel fisik, difabel mental, difabel Tuli, penyandang autis, asperger, dan cerebral palsy. Ada pula difabel ganda.

 

     Dari Indonesia nama-nama Faisal Rusdi dan Agus Yusuf, sudah dikenal sebagai pelukis mulut dengan prestasi mengagumkan. Juga Anfield Wibowo, difabel Tuli dan mild autism yang karya lukisnya kadang membuat kejutan. Belum lagi nama Dwi Putro Muljono, difabel mental, tak bisa mendengar dan berbicara itu. Selama ini Dwi Putro menyentak perhatian jagat seni rupa dengan karya art brut-nya.  Dari Filipina hadir Jason Cora Lejo. Ada pula nama Ayla, gadis difabel fisik asal Wales Inggris, yang sudah dikenal luas dan berpengaruh di negerinya itu.

 

Pameran berskala internasional di tengah situasi pandemi yang sampai kini belum dinyatakan usai, itu memang telah memberi warna berbeda bagi khalayak di Yogyakarta. Pembuktian atas kemandirian, kesetaraan dan kesempatan bagi para difabel, khususnya di bidang seni rupa, telah menorehkan catatan tersendiri. Selain itu juga makin meneguhkan Yogyakarta sebagai Kota Budaya.[]  

 

Penulis adalah Jurnalis, Pemerhati Seni dan Isu Disabilitas di Yogyakarta 

 

Penulis: Agoes Widhartono

Editor : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.