Lompat ke isi utama
Dani sedang meraba relief arca dipandu oleh Ade, mahasiswa UI yang magang di BPCB

Jelajah Aksesibilitas Candi Sukuh Bersama Difalitera

Solider.id, Surakarta- Markus Andrea Eri Praditya seorang difabel netra mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di hari Minggu kedua Oktober lalu ia tandem bersama saya untuk melakukan perjalanan menuju Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar yang berjarak sekira 30 km.

 

Tidak hanya kami berdua, kami bersama 14 pasang lainnya. Mereka, masing-masing seorang kawan netra dan relawan Teras Baca Difalitera. Kami berangkat dari Asrama Urici, asrama khusus putra bagi difabel netra milik Yayasan Kesejahteraan Anak-anak Buta (YKAB) yang beralamat di Kampung Wonosaren, Kelurahan Jagalan. Dua armada minibus Elf dan sebuah mobil Avanza menjadi moda transportasi yang membawa kami menuju lereng Gunung Lawu.

 

Suasana minibus Elf yang saya tumpangi -diiringi dengan canda antar teman. Ya, memang saya dan beberapa teman netra dahulu sebelum pandemi setiap Minggu sore bertemu untuk membaca novel di teras Sekolah YKAB. Ada Ira yang sejak mulai naik di dalam mobil, ia tak berhenti bercerita. Ada Songsong, relawan yang berprofesi sebagai dosen dan sering dijuluki sebagai juru kamera.

 

Saya yang duduk di deretan kursi paling belakang dan asik mendengarkan senda gurau kawan netra lainnya, seperti Faisal dan Shobirin. Prapto, yang oleh kawan netra lainnya dipanggil dengan sebutan gedek tiba-tiba bertanya.

 

“Apa ada yang membawa kantong plastik?” ternyata dia mabuk darat.

 

Sepuluh menit menuju Candi Sukuh, jalan berkelok tajam dan curam sempat menggoyahkan kegembiraan Ira. Dia yang semula ceria dan riang gembira tiba-tiba merasa pusing.

 

Baca juga: Bepergian ala Difabel Netra Secara Mandiri di Tengah Pandemi

 

“Aduh, aku pusing banget!” teriak Ira yang tidak tahan hamper di akhir perjalanan. Dia juga mabuk darat. Ira merasa lega ketika mobil yang kami tumpangi masuk ke area parkir. Satu persatu para penumpang turun. Sebelum melangkah pertama kali, beberapa orang memilih pergi ke kamar mandi yang disediakan di area tempat wisata candi.

 

Suasana parkir cukup lengang pagi itu. Hanya ada tiga armada kami. Sekilas saya melihat bangunan candi yang berada di sisi kanan. Oleh Indah Darmastuti, pendiri Difalitera dan Teras Baca, kami diajak berjalan sekira 100 meter menuju Pendapa. Di situ sudah ada petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Wiwin, Gun dan Ade, seorang mahasiswa UI yang sedang magang di BPCB.

 

Wiwin menjelaskan terkait aturan apa saja yang harus diperhatikan saat rombongan memasuki area candi. Dia menjelaskan, Candi Sukuh memiliki tiga pelataran. Dan kali itu, sedang ada peraturan larangan untuk menaiki candi yang berbentuk trapesium. Selain menerangkan aturan-aturan, Wiwin juga mengajari kami gerakan dengan tangan atau lebih tepatnya tepuk sorak dan yel-yel tentang pelestarian candi, mengajak semua yang hadir pagi itu untuk bersama-sama mencintai candi dan menjaganya.

 

Candi Sukuh ditemukan oleh arkeolog saat masa pemerintahan Gubernur Raffles pada tahun 1815. Usaha pelestarian candi sudah dilakukan sejak tahun 1917. Konon Candi Sukuh didirikan pada abad 15 Masehi pada zaman kerajaan Majapahit dipimpin oleh Ratu Suhita yang memerintah pada tahun 1429-1446 Masehi dengan ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut. Candi ini merupakan candi terakhir peninggalan umat Hindu dan biasa disebut The Last Temple. Candi Sukuh adalah candi yang sederhana, jika dilihat dari kesederhanaan yang mirip dengan suku Maya dan Inca di Meksiko, dengan ciri khas punden berundak sebagai tempat pemujaan.

 

Rombongan memasuki candi di pagi itu lewat pintu timur yang langsung diperhadapkan dengan arca-arca dan relief. Wiwin dan teman-teman dari BPCB Jawa Tengah memperkenalkan arca-arca tersebut kepada satu-persatu teman netra. Tak hanya bercerita, namun mereka diperkenankan untuk turut meraba relief arca.

 

Baca juga: Menilik Aksesibilitas kebun Binatang Bukit Tinggi bagi Difabel

 

Arca-arca di Candi Sukuh terdapat unsur lingga atau alat kelamin laki-laki dan yoni atau alat kelamin perempuan. Kali ini rombongan khusus difabel netra memang mendapat perlakuan istimewa untuk mendapatkan akses dengan cara meraba, sebab ada arca yang memang tidak boleh diraba untuk menjaga kelestariannya.

 

Menurut literatur, lingga adalah penggambaran maskulinitas, pilar cahaya yang memiliki energi penciptaan jika dipersatukan dengan yoni. Sedangkan yoni adalah simbol feminin, yang saling berlawanan dengan lingga tetapi saling melengkapi. Bisa disebut, arca-arca ini adalah lambang atau simbol seks atau ritus kesuburan. Ada pemaknaan yang filosofis terkait alam semesta bahwa simbol lingga dan yoni adalah pengharapan dan permohonan agar alam semesta senantiasa subur, gemah ripah loh jinawi.

 

Dani, salah seorang netra yang mendapat penjelasan dari Ade, mahasiswa Universitas Indonesia tentang arca tampak antusias ketika meraba arca tersebut. Ade menjelaskan tentang relief seorang pande besi yang bekerja membuat keris dan senjata lainnya di zamannya. Sedangkan Markus dan Faisal asik merapa arca dua bulus besar yang berada di depan pelataran utama candi yakni teras paling tinggi.

 

Teman-teman netra juga meraba relief burung garuda dalam posisi membentangkan sayap atau terbang. Pada kaki kiri mencengeram kura-kura dan kaki kanan mencengkeram gajah yang bisa diartikan itu adalah bagian dari kisah saat garuda mencari alat kehidupan air kehidupan yang ditemani oleh kura-kura dan gajah. Gajah penjelmaan dari Supratikta, dan kura-kura jelmaan panglima Wibhastu.

 

Tidak semua teman netra Teras Baca Difalitera mendapatkan semua seluk-beluk pengetahuan secara utuh tentang Candi Sukuh. Skenario awal dari Indah Darmastuti, 30 orang nanti akan dibagi menjadi tiga kelompok yang dipandu oleh seorang pemandu wisata buyar. Sebab pada praktiknya, hanya seorang pemandu yang aktif, dan untuk menghindari kerumunan sebab masih ada penerapan PPKM Level 2, konsentrasi para wisatawan netra dan pendampingnya ini tidak bisa hanya di satu tempat saja. Hal Ini menjadi catatan sendiri bagi Indah untuk penyelenggaraan even membaca candi yang akan datang. Pada rapat evaluasi, Indah juga mengatakan bahwa perlu membangun perspektif difabilitas netra pada para pemandu. Ia juga akan membuat semacam panduan bagi relawan.

 

Untuk memenuhi dan menggenapkan pengetahuan tentang candi Sukuh, para difabel Teras Baca menginginkan ada sesi membaca buku versi PDF yang diberikan oleh pemandu untuk menggenapkan imajinasi mereka tentang sejarah situs Candi Sukuh. Ini tentu sangat menggembirakan, sebab sejak pandemi, tidak ada kegiatan membaca buku yang diselenggarakan di Teras Baca.

 

Kegiatan membaca candi yang baru pertama kali ini dilakukan oleh Teras Baca Difalitera dan juga pertama kali BPCB Jateng kedatangan wisatawan netra secara rombongan sangat berkesan bagi Joko. Warga Panti Bakti Chandrasa Pajang Surakarta ini mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa tatkala mengikuti rangkaian acara, termasuk ketika sesi istirahat di taman. Dia merasa sudah tidak ada batas lagi atau sekat saat berinteraksi antara difabel netra dan relawan dan berharap kegiatan semacam dilakukan lagi dengan mengambil tema dan wahana yang berbeda.[]

 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.