Lompat ke isi utama
Salah satu karya Dwi Putra Mulyono Jati yang dipajang di pamerannya

Menepis Stigma Orang dengan Disabilitas Psikososial Melalui Karya Seni

Solider.id, Yogyakarta- Pameran seni rupa DPNT bertajuk Abnormal Baru digelar selama sepuluh hari (12-22 Oktober 2021), di Jogja Gallery. Ratusan karya seniman orang dengan disabilitas psikososial (ODDP) dipamerkan di seluruh ruang pamer lantai I dan II, sebuah gedung pameran yang berada di. Jl. Pekapalan Nomor 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta.

 

Ia biasa disapa Pak Wi. Tak hanya karya lukisnya yang dipamerkan, tapi juga karya tulisnya pada puluhan lembar kertas manila dapat ditata apik disana. Sebagian besar juga lukisan yang ditulisi kata-kata yang sama antar satu karya dengan karya lainnya. Tulisan ibu, adik, nowo, wening, soto babi, sekolah, alu-alun, Bandung, teteh, Jakarta, Yogyakarta, ditulis berulang-ulang pada beberapa karya.

 

“Kata-kata atau tulisan itu adalah kenangan yang melekat di hati dan pikiran Pak Wi. Tentang orang-orang dekat maupun peristiwa yang lekat dalam ingatannya,” Hasta Wening, adik Pak Wi menjelaskan kepada solider.id, Jumat (22/10).

 

Pak Wi, dengan segala kondisi yang menyertai, bukan tak bisa apa-apa. Dia mulai berkarya sejak 36 tahun usianya. Ratusan karya yang dibuat sejak tahun 2000 itu, tak hanya menggunakan cat warna dan kanvas saja. Berbagai media digunakan sebagai bahan melukisnya. Ada batu arang, tanah liat yang dibentuk dan ditempel pada papan dan diwarnai, juga kertas dengan berbagai bahan pewarna lain.

 

Baca juga: Widji Astuti, Bergulat dengan Karat Ciptakan Karya Memikat

 

Dwi Putra Mulyono Jati, ialah nama panjang Pak Wi. Lahir di Yogyakarta pada 10 Oktober 1963. Saat kelas 3 Sekolah Dasar, Pak Wi kecil mengalami hambatan pendengaran. Karenanya proses belajar menjadi terganggu. Ia tidak naik kelas dan harus mengulang. Ternyata di tahun berikutnya, ia tidak naik kelas lagi. Pihak sekolah menyarankan agar Pak Wi berpindah ke sekolah luar biasa (SLB) khusus Tuli.

 

Dari sana pergolakan batin Pak Wi dimulai, kata Wening. Ia yang sebelumnya riang bermain bersama dan bersekolah, sesunguhnya tak mau pindah sekolah di SLB. Satu tahun, ia tidak mau sekolah. Ia lebih suka menyendiri. Sampai akhirnya mau dibujuk dan sekolah di SLB Kalibayem jurusan “tunarungu” hingga tamat SMA.

 

Setamat SMA, ternyata pak Wi bersikukuh tetap masuk sekolah. Setiap hari selalu hadir dan masuk sekolah. Ini cukup mengganggu proses belajar dan mengajar di sekolah itu. Ia yang lulus sekitar tahun 1983 dinyatakan tidak boleh bersekolah lagi. Di sinilah lahir manifestasi gangguan mentalnya. Ia sering uring-uringan.

 

Dukungan dan kesempatan

 

Kemudian, sepeninggal ayah (1996) dan ibu (1997), Pak Wi menjadi kurang teperhatikan. Bahkan, pada 2001 adiknya yang bernama Nawa pernah menjumpainya di jalanan membawa banyak puntung rokok di kantung celananya. Dari peristiwa itu Nawa terusik batinnya. Dia berseru dalam hati untuk bisa membantu kakaknya setelah dia dewasa dan bekerja.

 

Benar saja, tak ada yang tak bisa, ketika dukungan dan kesempatan itu diberikan. Dua adiknya Nawa Tunggal dan Hasta Wening memfasilitasi Pak Wi dengan berbagai media untuk karyanya. Dengan maksud agar ia tidak keluar lagi.  Dimulai dari memberikan kertas HVS, arang yang ada di sekitar rumahnya, juga pensil warna.

 

Dari sana pak Wi, mulai mencipta karya sesuai imajinasinya. Kegemarannya menonton pergelaran wayang kulit pada masa kecil, memengaruhi karya lukisannya. Berbagai wajah tokoh berhasil dilukis dan dipamerkannya. Selain juga lukisan manusia, binatang, bunga, yang hampir seluruhnya dibubuhi tulisan atau kata-kata.

 

Baca juga: Ruang Karya Seni yang Menyingkirkan Sekat

 

DPNT pada tema pameran tuggal Pak Wi, ini kependekan dari Dwi Putro – Nawa Tunggal.  Keduanya adalah kakak beradik. Nawa Tunggal, ialah adik yang menyutradarai pelaksanaan pameran lukisan Dwi Putro atau Pak Wi, yang tak lain adalah kakak kandungnya.

 

Stigma negatif kerap dilekatkan pada orang dengan gangguan mental (psikososial), Pak Wi salah satunya. Karena kondisi yang menyertai, tak jarang mereka diabaikan, ditelantarkan oleh keluarga.

 

Tapi Pak Wi, dengan dukungan yang diberikan dua adiknya, ia mampu menyibak stigma negatif ODDP melalui karya yang dihasilkan. Sebelum pameran tunggalnya yang pertama kali ini, ia telah memamerkan karyanya di berbagai ajang pameran yang digelar di Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung, dan Jepang. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.