Lompat ke isi utama
Seoang perempuan difabel pengguna kursi roda sedang memandangi salah satu lukisan di Pameran

Ruang Karya Seni yang Menyingkirkan Sekat

Solider.id, Yogyakarta- ADA yang berbeda di Gallery RJ Katamsi, ISI Yogyakarta. Pada dinding sebelah dalam pintu gerbang, terdapat karya seni rupa gigantik. Berukuran  3,5 meter dan lebar 6 meter. Sebuah karya kolaborasi Jogja Disability Art (JDA) dengan seniman Inggris dan seniman ISI Yogyakarta.

 

Pada karya itu terpampang sosok Ayla, perempuan warga Wales, Inggris. Da berdiri dengan wajah ceria, salah satu kakinya palsu, ditopang besi.  Perempuan itu adalah seniman difabel yang dikenal luas dan berpengaruh di negerinya.  Karya tersebut selalu menyapa siapa pun yang hadir di gedung itu.

 

Di sana sedang berlangsung perhelatan seni rupa bertaraf internasional, Jogja International Disability Art Biennale 2021. Pameran dibuka Senin 18 Oktober hingga 30 Oktober 2021. Sebanyak 120 karya seni lukis dan olah video dipamerkan. Seniman yang berpartisipasi berjumlah 56 orang, seluruhnya adalah penyandang disabilitas. Mereka berasal dari 10 negara, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Sebanyak 35 orang seniman berasal dari Indonesia, 10 orang dari Inggris, dua orang dari Brasil. Selebihnya masing-masing satu orang dari Filipina, Korea, Mesir, Brazil, Colombia, Afrika Selatan, Australia dan Kroasia.

 

Di dalam gedung, dipamerkan ragam karya seni rupa. Sebuah karya olah video berjudul 3D Art Face Painting  memberi warna tersendiri. Tiga bingkai foto disandingkan dengan video yang terus menyala. Pada video itu, ditampilkan proses karya seni lukis wajah yang hasilnya ada pada tiga bingkai foto di sebelah televisi yang menayangkan video tersebut.

 

Sang seniman, seorang perempuan bernama Arih Lystia, tidak melukis dengan tangan, tetapi menggunakan kanvas yang dijepitkan erat pada lututnya yang ditekuk. Dia adalah difabel daksa, tangan. Untuk mendapatkan hasil sesuai kreasi, wajah Lystia harus bergerak ke kanan, ke kiri, ke atas atau ke bawah. Kadang memutar mengikuti kuas di wajahnya yang berfungsi sebagai kanvas. Maka, wajah Lystia berubah penuh polesan cat menawan. Wajah itu seolah pecah dan harus dijahit. Ada pula karya Lystia yang menampilkan bibir merah menyala, seakan bertumpuk menjadi dua bagian, tapi  dalam posisi berbeda.

 

Baca juga: Mengenal Didon Kajeng, Seniman Difabel Netra Asal Bali

 

Pameran itu telah memberi warna tersendiri pada jagat seni rupa di Yogyakarta. pameran semacam itu baru kali pertama digelar di Yogyakarta yang rencananya diagendakan dua tahunan.

 

Menurut Sukri Budi Dharma, selaku ketua JDA, selama ini masih banyak ruang yang belum mengakomodir difabel pelaku seni. “Mereka seolah hanya sebagai pemenuhan wacana dalam bernegara. Di Indonesia masih jarang diadakan agenda seni secara khusus yang melibatkan difabel,” ujarnya.  Hal itu, tambah Sukri, “tidak seperti yang terjadi di negara lain. Inggris, misalnya. Negara tersebut memiliki acara untuk seniman disabilitas yang bertajuk DaDaFest, dan sudah berlangsung secara konsisten sejak 1984.”

 

Maka, tidak berlebihan jika dikatakan biennale para difabel berskala internasional di Yogyakarta ini, telah menyibak kebekuan dan menyeruak sekat keterkungkungan. Sebab, pada hakikatnya seni adalah manifestasi setiap kehidupan manusia.  Dengan berkesenian, setiap individu mengalami banyak hal, meliputi penginderaan dan perenungan jiwa. Kemudian, secara terpadu diwujudkan dalam ekspresi seni secara lisan, gerak, musik, maupun gambar.

 

Banyak disabilitas pelaku seni melakukan kegiatan seni untuk mengasah dan menggali potensi, demi pemenuhan hidup. Sebagai media ekspresi, dan juga sebagai terapi.  Namun kenyataannya, wadah yang bisa mengakomodasi dan memberi ruang seni dan kesempatan setara bagi difabel, masih sangat kurang. Kiprah disabilitas pelaku seni masih bersifat individu. Biasanya hanya mendapat dukungan dari pihak keluarga.

 

Secara faktual difabel hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan ruang secara proporsional. Maka, biennale seni rupa internasional bagi difabel ini, diharapkan meneguhkan kepada khalayak bahwa mereka berdaya. Mereka bisa mengaktualisasikan diri melalui kegiatan dan kemampuan berkarya seni yang memberi manfaat bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Mereka berhak atas setiap kesempatan dan kesetaraan.

 

Kedepankan karya

 

Pada pameran itu, penyelenggara lebih mengedepankan karya seni untuk dapat diapresiasi publik. Maka, selain nama, tidak ada keterangan tentang jenis disabilitas yang disandang sang seniman. Menurut Sukri Budi Dharma, setelah melakukan seleksi, dipilih peserta untuk mengikuti pameran itu. Sebanyak 35 seniman difabel Indonesia berasal dari 15 kota.  Beberapa peserta sudah dikenal publik memiliki reputasi. Karya mereka sudah sering dipamerkan. Misalnya Anfield Wibowo, Dwi Putro, Faisal Rusdi maupun Bagaskara.

 

Sebagai penyandang cerebral palsy, Faisal Rusdi dikenal sebagai pelukis mulut. Dia melukis di kanvas dengan cara “memegang” kuas menggunakan mulutnya. Dalam gelaran ini, dia memamerkan dua karya. Salah satu berjudul Jembatan Rusak, sebuah potret sosial yang diangkat ke dalam lukisan dengan gaya realis. Para pelajar yang hendak pergi ke sekolah dan harus berjibaku bertaruh nyawa melalui jembatan gantung yang ambrol, berlubang di sana-sini. Peristiwa itu nyata, dan diberitakan media pada 2018.  Bahkan sebagai head line  di media arus utama.

 

Baca juga: Membongkar Sekat Eksklusif Hadirkan Galeri dengan Perspektif Baru

 

Sedangkan Anfield Wibowo, diabel tuli dan mild autism hadir dengan No Fear #2 berukuran 100 x 120 sentimeter yang impresif. Dia menorehkan gambar manusia dan pepohonoan dalam silhouette sebagai latar depan. Di belakang ada dua gajah besar, menjadikan lukisan itu multi tafsir. Sekaligus ada kesan magis lantaran torehan silhoutte atau warna hitam pada foreground.

 

Seniman Jason Cora Lejo  dari Filipina, menampilkan karya berjudul The City (2021) dengan obyek yang mirip dengan situasi sehari-hari di Yogyakarta. Ada andong dan suasana keramaian rang-orang pada sebuah pasar dan toko.  Di bagian lain, Brenton Swartz, memberi warna berbeda pada karyanya. Dia melukis dengan cat air, menampilkan obyek sebuah kursi kosong di tengah taman yang sepi dan kering. Suasana ngelangut hadir dari lukisan penuh impresi itu.

 

Sama seperti Brenton Swartz, cat air digunakan pula oleh Bagaskara dalam lukisan sketsa berjudul Makam Raja Imogiri (2020). Lukisan berukuran 21 x 29 sentimeter itu, hadir dengan detil obyek dan membawa publik ke dalam alam penuh misteri.  

 

Merespon situasi aktual atas suasana mencekam akibat pandemi, ditangkap oleh Rofita Sari Rahayu. dia membuat karya lukisan mengunakan acrylic di kanvas berukuran 120 x 80 sentimeter, berjudul Kabar Duka (2021). Pilihan warna muram, dengan dominasi hitam, mampu membawa pada situasi kelam akibat pandemi.   

 

Peserta lain, juga dari Indonesia, Dwi Putro Muljono Jati, menampilkan karya berjudul Kasih Ibu, berukuran 90 x 140 sentimeter - 2021, Bagi mereka yang sudah mengenal pelukisnya, karya ini seakan memberi jawaban atas perkembangan mental Dwi Putro. Pria berumur 58 tahun itu, adalah seorang dengan gangguan mental, pendengaran dan bicara, meski memiliki kekhususan, belasan tahun terakhir ini, dia terus aktif melukis. Beberapa kali menggelar pameran. Di Jakarta dan kota lain.  Lukisan Kasih Ibu merupakan letupan Dwi Putro sebagai seorang manusia yang merindukan dan hendak berdialog dengan sang ibu sebagai muara jiwanya. Dengan pilihan warna cerah, bisa disebut lukisan itu cerminan suka cita jiwanya ketika mengerjakan karya itu. 

 

Rasanya waktu satu atau dua jam tidak cukup untuk menjelajah seluruh karya yang dipamerkan. Dengan beragam cara, penyandang disabiltias pelaku seni telah membuktikan pada publik.  Ratusan karya seni rupa yang dipamerkan itu, memang sudah selayaknya diapresiasi, tanpa perlu membubuhkan atribut lain atas diri dengan kekhususan yang mereka miliki.[]

 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi         

 

The subscriber's email address.