Lompat ke isi utama
Winarsih sedang menjahit beberapa pesanan

Perempuan yang Tegar Meski Diterpa “Ombak”

Solider.id, Yogyakarta- Ditempa keras kehidupan sedari usia kanak-kanak, Winarsih (45) tumbuh menjadi perempuan kuat, tak mudah menyerah. Bungsu dari empat bersaudara itu kini tinggal di sebuah rumah kontrakan, Nogosaren Lor RT 8/23 Notirto Gamping. Bersama keluarga kecilnya, ia bertahan hidup dengan menjadi produsen berbagai makanan kecil. Ada onde mini, nuged tempe, gethuk frozen, cireng, sempol, es lilin juga es krim.

 

Ibu satu orang putra berusia 9 tahun itu, biasa disapa Wiwin. Ia memasarkan produknya melalui komunitas yang digelutinya. Ada Himpuan Wanita Difabel Indonesia (HWDI), Forum Inklusi Intas Iman (FILI) dan berbagai komunitas lain. Selain itu produk juga dipasarkan melalui media dalam jaringan atau online marketing, dengan mengandalkan berbagai platform. Ada Instagram, facebook juga WhatsApp.

 

Namun demikian, memproduksi makanan bukan sumber kegiatan utamanya. Membuat berbagai makanan kecil dilakukan disela pekerjaan utamanya sebagai penjahit. Sebagai perempuan yang berjuang sendiri dalam menghidupi keluarga, ia akan melakukan yang terbaik dengan kemampaunnya. Demi putra semata wayangnya Muhammad Hirma Adib, bertumbuh dengan layak, sebagaimana anak-anak seusianya.

 

Perempuan yang diperistri Budi Santoso (36) sepuluh tahun silam ini (2011), usaha jahitannya sempat melambung. Itu terjadi pada 2009 – 2012. Bahkan dia pernah mempekerjakan sembilan orang karyawan, semuanya difabel. Usaha jahitan ini menerima pesanan membuat sarung bantal, sprei, taplak dengan bahan khusus. Hasilnya diambil atau akan diekspor ke Jepang.

 

Baca juga: Bangkit dan Berkembanglah Difabel Pelaku Usaha!

 

Seiring berjalannya waktu, kehamilan anak pertamanya berdampak pada tubuh Wiwin yang mengharuskannya banyak beristirahat. Kondisi ini, meski sudah ada karyawan, ternyata berpengaruh pada menurunnya hasil produksi. Tak bertahan lama, orang Jepang yang sudah selama tiga tahun bekerja sama itu, tidak bisa mentolerir kondisi turunnya jumlah produksi.

 

Tidak memutuskan demikian saja hubungan kerja sama, melainkan mencari penjahit lain untuk menutup kekurangan jumlah produksi yang dipesan dari Wiwin. Tak lama bertahan, akhirnya kerja sama itu harus dihentikan. Mengapa?

 

Bangkit dan berjuang

 

Bagaimana pun bisnis menuntut profesionalisme. Hal ini sangat disadari Wiwin. Dirinya yang tak sanggup lagi memenuhi permintaan karena hamil, melahirkan dan fokus merawat buah hati. Ia harus merelakan apapun yang terjadi pada usaha yang dirintisnya dengan sepenuh jiwa.

 

Kini ia bangkit dan berjuang lagi. Meski tidak dari nol, karena Wiwin memiliki berbagai keterampilan. Tak lagi memperkerjakan karyawan, diantara merawat anak dan mengurus rumah tangga, ia melanjutkan usaha menjahitnya. Berjuang lagi untuk tegak berdiri. Jiwanya tak biasa berpangku tangan dan mengandalkan orang di sekitarnya. Ia, layaknya karang yang tetap tegar meski diterpa ombak.

 

Hari berjalan ke minggu, minggu berjalan ke bulan, dan seterusnya. Pada 2013, anak lelakinya sudah memasuki taman bermain (play group). Sang anak sekolah dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Dengan sendirinya ia menjadi punya lebih banyak waktu. Selain itu, kebutuhan anak sekolah memaksanya harus memiliki pendapatan yang cukup. Karenanya, ia memanfaatkan waktu senggang itu, selain menjahit, juga mulai membuat makanan kecil.

 

Baca juga: Kiki Lovly, Usaha yang Membuat Pemuda ini Belajar Mandiri

 

Pelan tapi pasti, usaha membuat makanan kecil terus dipertahankan. Binis olahan makanan mulai digelutinya dari 2016 hingga sekarang. Tak main-main, ia sudah mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT) sendiri. Sehingga produk makanan hasil olahan tangannya sudah mulai bertengger di beberapa toko di Indomaret dan beberapa toko lain.

 

Bagi Wiwin, hidup ini memang harus berjuang. “Tanpa kaki, saya masih punya tangan yang bisa saya optimalkan untuk bekerja. Maka saya tidak bisa bermanja kepada siapa pun, melainkan harus bergerak dan terus berusaha,” pungkasnya dengan penuh semangat.

 

Saat pandemi seperti ini, pendapatan menurun juga dialami perempuan berhijab itu. ia melakukan inovasi produk dengan menambah jenis produk olahan pangan.

 

Siapa dan bagaimana?

 

Wiwin, adalah putri pasangan petani Trisno Sumarto (78) dan Suyati (74). Dia terlahir dengan kelainan kongenital atau bawaan. Kedua kaki hanya sebatas pantat. Kondisinya yang tanpa kaki, tak lantas membuat hidupnya dimanja oleh kedua orang tuanya. “Bukan tidak disayang,” demikian ujarnya saat mengenang masa kanak-kanaknya. Tapi cara kedua orang tuanya yang demikian yang senyatanya membuat Wiwin paham betul bahwa hidup itu harus diperjuangkan.

 

Wiwin kecil, sangat jarang digendong. Tanpa kaki, ia berjalan menggunakan kedua tangannya. Hingga usianya 9 tahun, Wiwin tidak mengeyam bangku sekolah formal. Selain jarak sekolah yang jauh, juga kedua orang tuanya harus bertani.

 

Namun, dengan kasih cintanya, di waktu senggang sang ayah yang seorang petani di daerah tandus Wonogiri, telaten mengajari dan membimbing putri bungsunya membaca, menulis dan berhitung. Alhasil, meski tak sekolah, kecerdasannya melesat jauh di atas usia rata-rata. Ia bahkan sudah mampu membaca surat kabar harian (koran). Koran bungkus makanan atau apa saja yang ia dapatkan, adalah barang berharga baginya.

 

Wiwin yang tanpa kaki dengan seluruh perjuangan, mempertemukannya dengan seorang petugas lapangan dari Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY). Sebuah lembaga di Yogyakarta yang bergerak melakukan pendampinangan pada difabel untuk bisa berdaya dan mampu.

Singkat kata, petugas PRY yang bertugas di daerah Wiwin tinggal, Kedungleri, Saradan, Baturetno, Wonogiri itu membawanya ke Yakkum untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan.

 

Baca juga: Mengorelasikan Sektor Usaha dan Difabel Melalui JBDI

 

Wiwin mulai bersekolah di sekolah Yakkum, Meski usianya sudah sembilan tahun, dia tetap dimasukkan di kelas 1 setingkat Sekolah Dasar (SD). Saat yang lain belajar dengan memperhatikan guru, ia justru memilih duduk di bawah meja.

 

Gurunya pun bertanya, “Mengapa tidak mau belajar? Kamu belajar apa di bawah situ?” ujarnya menirukan pertanyaan gurunya ketika itu.

 

“Saya membaca koran bu guru,” jawab Wiwin.

 

“Loh sudah bisa membaca?” pertanyaan kagum sang guru.

 

Wiwin kecil pun diminta menunjukkan kemampuan membaca. Hanya satu bulan Wiwin di Sekolah Yakkum. Selanjutnya ia dimasukkan ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) yang berada di Solo. Di tempat ini ia hanya belajar selama enam bulan.

 

Wiwin sudah percaya diri dan pintar, ia dianggap tak lagi harus belajar di Yakkum maupun YPAC. ia harus dipulangkan ke daerah asalnya, Wonogiri. Tak paham mengapa hanya sebentar diberikan kesempatan belajar di kota Yogyakarta maupun Solo, ia yang berusia 10 tahun itu hanya bisa menurut.

 

Ternyata Wiwin disekolahkan oleh Yakkum atas perintah pimpinan Yakkum kala itu, Mr Chollin. Tak perlu belajar formal di kelas 1 dan 2, Wiwin langsung masuk kelas 3 SD.  Paska lulus SD, ia lagi-lagi diminta ke Yogyakarta. Di sana ia meneruskan pendidikan di SMP Kanisius Kenthungan, dengan biaya dari Yakkum. Pulang sekolah, ia membiasakan diri belajar berbagai keterampilan di Yakkum, Jl.Kaliurang Km. 13,5 Yogyakarta.

 

Melalui setiap tantangan

 

Lulus SMP usia Wiwin sudah 16 tahun. Mr. Chillin mengembalikannya lagi ke daerah asalnya. “Kamu sudah mandiri. Jadi harus berada di daerahmu. Harus sekolah di sana, harus bisa membantu keluargamu,” tutur Wiwin menirukan ucapan mister dari belanda itu.

 

Saat itu, kepulangan Wiwin tidak diantar. Tapi diharuskan naik bus, dari terminal Umbuharjo Yogyakarta menuju ke tempat asalnya di Wonogiri. Sedih, merasa aneh, ingin marah, dan semua rasa ditahannya. Remaja yang seumur hidup tak pernah pergi sendiri dengan kendaraan umum itu menurut saja. Ia menangis sedih dan marah yang tak tertahankan sepanjang perjalanan Yogyakarta – Wonogiri.

 

Terbayang pula di mata Wiwin, bagaimana sulitnya mengakses sekolah di Wonogiri. Wilayah bebatuan dan bebukitan itu, yang membuat Wiwin ingin sekali menggapai seluruh mimpinya di Yogyakarta. Remaja itu tidak melanjutkan ke SMA melainkan mengaplikasian bekal keterampilan membuat kristik, menyulam dan menjahit. Ia mulai mencari nafkah dengan membuka usaha menjahit. Satu bulan satu kali ia harus ke Yakkum mengantar jahitan dan mengambil bahan. Demikian dilakukan selama kurang lebih tiga tahun, pulang dan pergi akhirnya ia terbiasa menggunakan transportasi bus.

 

Keinginan kerasnya untuk tetap belajar dan menamatkan bangku SMA tak bisa dibendungnya. Wiwin yang sudah mulai dewasa memutuskan memilih berada di Yogyakarta, untuk memenuhi segenap cita-citanya. Di kota itu, baginya adalah kota yang mudah untuk menggapai semua.

 

Namun, setibanya di Jogja, tak begitu saja dia bisa sekolah SMA. Wiwin mengisi waktunya dengan menjahit, tinggal di rumah sewaan, di dekat Yakkum. Pada usianya 31 tahun, bekerja sambil menempuh pndidikan paket Paket C baru dapat dilaluinya. Setelah tiga tahun belajar, di usianya 34 tahun, ia lulus Paket C dan memegang ijazah kesetaraaan.

 

Di usianya 45 tahun kini, Wiwin masih menggenggam bara. Menjadi seorang sarjana adalah cita-citanya. Karenanya, kegelisahan ingin kuliah diantara kondisinya saat ini yang sudah berkeluarga berkecamuk dalam batinnya.

 

“Jika masih memungkinkan saya tetap ingin sekali bisa kuliah. Meski di usiaku yang tak lagi muda, menyelesaikan jenjang starta 1 adalah sesuatu buat aku,” ujarnya kepada Solider.id saat dikunjungi di rumah kontrakkannya awal Oktober.

 

Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, ia terus-terusan dihantam “ombak”. Ia hanya menerima, tak kuasa. Meski keras hantamannya, ia rela dan tetap bertahan. Karena, ini bukan tentang seberapa sakit, melainkan tentang seberapa kuat menerimanya. Itulah Winarsih.[]

 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.