Lompat ke isi utama
ilustrasi menaklukkan pandemi

Para Difabel Berjuang Menaklukkan Pandemi

Solider.id, Yogyakarta - PANDEMI Covid 19 telah memorak-porandakan hampir seluruh sendi kehidupan. Pandemi akibat virus tak kasat mata itu benar-benar nyata berdampak buruk pada hidup manusia, nyaris di seluruh muka bumi ini.

 

Ombak dan badai kehidupan juga menimpa para difabel. Dampak pandemi bahkan lebih keras dan terasa lebih “kejam” bagi kehidupan mereka. Berjuang keras mempertahankan hidup harus dilakukan dengan cara mereka sendiri. Tak berharap bantuan, alih-alih dari negara. Jumlah  hasil atas jerih payah yang dilakukan mereka, merupakan berkah sekaligus keajaiban hidup. Di luar batas logika matematika atau hitungan angka belaka. Para difabel itu membuktikan, mereka berada di jalan pedang kehidupan. Semua dijalani semata bertumpu pada keyakinan, semangat dan harapan membuncah demi memuliakan keberlangsungan hidup.

 

Demikianlah yang terjadi pada lima difabel yang ditemui Solider. Mereka adalah Andika Indra Saputra (34) difabel cerebral palsy, warga Boyolali, Jawa Tengah.  Kemudian pasangan suami istri difabel netra, Atik Susilowati (38) dan Sadimin (41), warga Yogyakarta. Dua difabel warga Yogya yang lain, Aris Wahyudi (41) difabel daksa dan Marsudiyati Pratamaningsih (54), difabel tuli. Dengan keunikan dan cara mereka masing-masing menyelesaikan persoalan, hidup menjadi penuh warna.   Inilah kisah mereka: 

 

Hidup mandiri

 

andika dengan motor roda tiganya

LELAKI itu berjalan dengan tubuh bertumpu pada kedua lutut. Ia sedang membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel lantai. Kedua tangannya kaku, sulit digerakkan. Bicaranya pun terbata. Dialah Andika,  difabel cerebral palsy (CP). Jenis difabel  ini adalah gangguan pada bagian otak.  Cerebral palsy atau lumpuh otak, adalah kelainan kongenital pada gerakan, otot atau postur. CP disebabkan oleh perkembanggan otak yang tidak normal.

 

Selama pandemi melanda sekitar 18 bulan terakhir sejak Maret 2020,  Andika berjuang dalam senyap bertahan hidup. Tak pernah dia mengandalkan bantuan datang dari mana pun. Dia harus bekerja, demi bertahan hidup mandiri dan tidak menjadi beban bagi siapa pun.  Hal itu yang menjadi prinsip hidup ayah seorang putri itu.

 

Sehari-hari, dia berdagang dengan menjual makanan mentah, karak (kerupuk berbahan beras), rengginang (kerupuk berbahan beras ketan), dan tisu. Menggunakan sepeda motor jenis bebek yang sudah dimodifikasi beroda tiga, berkeliling menawarkan dagangan. Media online juga dia manfaatkan. Berapa pun pesanan (order) yang diterima, dia akan mengantarkan  hingga sampai pada alamat pemesan, tanpa meminta ongkos kirim. Andika telah memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) D.

 

Berjualan penganan kering telah dilakukan sejak 2018, sebelum pandemi melanda. Sejak menikah dengan Yuni Lestari (31), pada 30 Agustus 2018, dia memutuskan berjualan demi bertahan hidup. Kini lelaki asal Prambanan Yogyakarta itu, tinggal di rumah mertuanya, Desa Kongklangan, Tawangsari Teras, Boyolali, Jawa Tengah.  Setelah menikah, ia mempunyai kartu tanda penduduk (KTP) Boyolali, juga kartu keluarga (KK) sendiri. Ia tinggal di rumah mertuanya. Sang istri, Yuni, juga penyandang cerebral palsy. Kedua tangan dan kakinya lemah, tak bisa digerakkan, alih-alih berjalan. Hidupnya mengandalkan kursi roda untuk bergerak. Pada 22 Februari 2020, pasangan itu, dikarunia anak perempuan. Sang putri tumbuh sehat, tak ada yang kurang, fisik maupun mentalnya. Namun, sang ibu, tak mampu menggendong putrinya. Tangannya tak kuat untuk menyangga dan menimang putrinya. Dia harus meminta bantuan orang lain.

 

Kondisi tangan dan kaki orang dengan cerebral palsy  kaku. Demikian pula dengan Andika Dia berjalan bukan dengan telapak kaki, melainkan menggunakan lututnya. Dengan tubuh bertumpu pada lutut, dia bisa menjalankan berbagai aktivitas rumah tangga. Menyapu, mengepel lantai, mencuci, menyeterika pakaian, serta berbagai aktivitas lain. Termasuk mengendarai sepeda motor roda tiga.

 

Selain menafkahi istri dan anaknya, Andika juga harus menanggung biaya rumah tangga mertuanya. “Saya tak ingin menjadi beban. Saya juga tak mengandalkan bantuan. Harus terus bersemangat dan punya harapan menjalani hidup,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara, kelahiran Cirebon, 5 Oktober 1987 itu. Kedua mertuanya tidak bekerja. Sang ibu berusia 60 tahun dan ayah 80 tahun. Istri Andika anak bungsu dari tujuh bersaudara. Kehidupan kakak-kakaknya tak lebih baik dari keluarga pasangan ini. Karenanya, Andika merasa harus bertanggung jawab atas kebutuhan hidup orang tua istrinya itu. Keluarga kecil itu harus tinggal bersama di rumah seluas 100 meter persegi, dengan dinding batako, beratap genting dan berlantai semen. Air sumur menjadi satu-satunya sumber yang diandalkan. Memang, di rumah itu, tidak ada aksesbilitas untuk keluarga CP.

 

Pendapatan menukik

Andika mendapatkan dagangan di Boyolali, kemudian dipasarkan di wilayah Yogyakarta. Dua minggu satu kali, dia harus bersepeda motor dari Yogya ke Boyolali. Dia tak bisa memacu sepeda motor yang dikendarainya kencang. Kedua tangannya yang kaku itu, mesti berhati-hati mengendalikan laju kendaraan. Jika sedang berada di wilayah Yogya, ia tinggal di rumah neneknya. Di kawasan Prambanan.  Ia datang bawa dagangan dari Boyolali, kemudian dipasarkan di wilayah Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta. Pekerjaan itu sudah dijalani selama hampir tiga tahun terakhir.  “Kalau harus kulakan langsung, bayar di muka, terasa berat buat saya. Tak cukup modal,” ujarnya. Ia mengaku bersemangat berjualan demi bisa membelikan susu bagi anak balitanya.

 

Sebelum masa pandemi, dia bisa mendapatkan keuntungan bersih berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta tiap bulan. Penghasilan tersebut digunakan untuk menghidupi istri, anak, juga membantu mertuanya.

 

Namun, sejak pandemi melanda, penghasilannya menurun drastis. Selama sebulan bekerja keras, hasil yang dia peroleh hanya berkisar Rp 200 ribu – Rp 300 ribu. Dengan pendapatan itu Andika tetap berusaha membayar rekening listrik Rp 100 ribu per-bulan.  Penghasilan itu, memang terasa ajaib bisa menghidupi keluarga Andika selama sebulan. Di dalam rumah mertuanya, berdiam tiga keluarga. Keluarga ibu dan ayah, keluarga Andika, dan keluarga kakak Yuni, atau kakak ipar Andika. Rumah itu berlangganan listrik PLN dengan daya 450 watt.

 

Akibat penerapan kebijakan pembatasan sosial, dia tak leluasa berdagang. Geraknya terbatas. Ia tak bisa bertransaksi atau bertemu langsung dengan pembeli. Salah satu cara adalah mengandalkan aplikasi percakapan WhatsApp. Jika order datang ia mengantar pesanan dan meletakkannya pada pagar rumah si pemesan. Setelah memberitahu konsumen, pembayaran dilakukan dengan cara transfer melalui rekening bank.

 

Demikianlah hidup ayah satu anak itu saat ini. Andika bukan difabel sejak lahir. Saat berusia tiga tahun, tiba-tiba badannya  panas tinggi, lalu kejang-kejang. Tidak pernah dibawa ke dokter. Orang tuanya  menganggap hanya butuh dukun. Diurut atau diberi jampi-jampi. Dengan kondisi tubuh yang sesungguhnya adalah penyandang cerebral palsy, Andika juga tidak pernah mengenal terapi. Hanya dipijat oleh tukang urut. Alhasil tangan dan kaki semakin kaku. Lafal bicara juga tidak begitu jelas.  Ia bersyukur, hingga usia 34 tahun kini, masih sanggup berjuang dan berusaha.  

 

Meski pendapatannya berdagang turun drastis, ia terus menyalakan asa hidup. Untuk menambah penghasilan, ia kadang mengikut sahabatnya, berkeliling ke berbagai wilayah, berdagang. “Sudah enam bulan ini, saya ikut sahabat saya, Joko, berkeliling di sekolah-sekolah di Yogyakarta, Bantul, dan Sleman,” tuturnya. Kawannya menjual mainan dan alat peraga edukatif, Andika menawarkan dagangannya, aneka kerupuk tradisional itu.  

“Saya ingin pandemi ini cepat berakhir. Difabel yang punya usaha bisa bangkit dan berkarya lagi. Hidup bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan,” ujar Andika yang mengatakan dia sudah mendapatkan vaksin dua kali.

Rahasia rezeki

 

Atik dan suami saat berjualan di SPBU

Lain lagi dengan kisah pasangan suami istri Atik Susilowati (38)  dan Sadimin (41). Mereka berdua adalah difabel netra. Kedua mata mereka buta. Sama sekali tidak bisa melihat. Bertempat tinggal di rumah berukuran empat kali tiga meter, yang mereka kontrak. Sebuah rumah kecil berada  di kampung Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi dan sebuah ruang tamu, sekaligus untuk meletakkan mesin cuci, kulkas, serta perlengkapan makan dan minum. “Satu kamar untuk tidur, satu lagi untuk menyimpan dagangan,” ujar Sadimin.

 

Delapan bulan terakhir di masa pandemi, Sadimin dan Atik memilih mengais rezeki dengan menjual aneka camilan, makanan kecil.  Ada kerupuk tengiri, kerupuk amplang, ceriping sale pisang dan ceriping singkong. Setiap hari pasangan itu menjajakan dagangan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU), di  Jalan Godean, Yogyakarta. Semula, selama beberapa tahun mereka mengamen di pinggir jalan raya Malioboro.

 

Di area SPBU itu, keduanya duduk di beton pembatas taman rumput, dekat jalan pintu keluar. Untuk menarik perhatian, Sadimin membunyikan terompet yang selalu dia bawa. Sedangkan Atik memangku kontainer plastik ukuran 80 kali 40 sentimeter, berisi dagangan. Di plastik itu ditempeli kertas, hasil cetak digital, bertulisan “Dijual krupuk ikan tengiri dan aneka camilan, Hp/SMS/WA 085728625382”.

 

Untuk menuju ke lokasi jualan, tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan. Selain waktu dan tenaga, juga biaya yang tidak sedikit. Dari rumah kontrakan dengan tempat berjualan, berjarak sekira 18 kilometer. Mereka berlangganan transportasi online roda empat. Dijemput dan di antar kembali, dengan biaya Rp 50 ribu. Menurut keduanya, jika menggunakan aplikasi biasa satu kali jalan bisa lebih dari itu. 

 

Pasangan itu berjualan mulai pukul 15.00 WIB, hingga 20.00 WIB.  Setiap hari, kurang lebih 40 bungkus camilan dijajakan. Tak semuanya laku. Paling banyak hanya sekitar 20 hingga 25 bungkus yang laku. Bahkan, suatu hari pernah tak satu bungkus pun  terjual. Harga camilan berkisar Rp 7 ribu – Rp 10 ribu per-bungkus.

 

Tentu tak banyak keuntungan yang didapat. Hanya Rp 2 ribu dari setiap bungkus camilan. Namun mereka mengaku cukup bahagia menjalani hidup dengan cara itu. Berjualan, bagi keduanya tak hanya solusi pada masa pandemi. Meski jumlah uang yang bisa dibawa pulang tidak menentu. Tapi itulah rahasia rezeki.  Bahagia itu setiap kali mereka rasakan. Tapi keduanya tidak bisa menjelaskan.

 

Pensiun mengamen

“Dengan berjualan seperti saat ini, kami sangat bahagia. Beda rasanya dengan ketika kami mengamen dulu,” ujar Atik.  Mengamen? Ya, pasangan itu semula adalah pengamen.

 

Mereka berdua menikah pada 2011, kini dikaruniai seorang anak lelaki, berumur 8 tahun, pelajar sekolah dasar (SD). Sang anak diasuh oleh kakek dan neneknya, kedua orangtua Atik, di Nganjuk, Jawa Timur. 

Setelah menikah, beragam jenis pekerjaan dilakukan. Sadimin pernah menjadi juru pijat. Pria kelahiran Karanganyar, 18 Juni 1980 itu, hanya sempat bersekolah hingga kelas 3 SD. Ia tamatan Panti Sosial Bina Netra, Solo.  Dari panti itu Sadimin memiliki keterampilan memijat.

 

Sedangkan Atik Susilowati, anak kedua dari tiga bersaudara. Perempuan kelahiran, 26 Oktober 1983, itu adalah seorang sarjana, lulusan salah satu universitas negeri di Yogyakarta, jurusan Tarbiyah.

 

Atik pernah mengajar di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di kota asalnya, Nganjuk. Hanya bertahan beberapa bulan dia menjadi guru. Dari sekolah milik pribadi itu, ia tak mendapatkan sesuai  yang sudah dijanjikan si pemilik. Atik memutuskan keluar dari sana.

 

Pasangan difabel netra itu lantas memutuskan mengadu nasib di Yogyakarta. Tinggal di rumah dengan sistem mengontrak. Beberapa kali mereka berpindah kontrakan. Keduanya kemudian memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara mengamen. Dengan menggunakan alat pemutar lagu karaoke, mereka menjual suara di trotoar ujung jalan Malioboro, di sisi utara. Di depan pintu masuk hotel Inna Garuda, sebuah bangunan land mark kota Yogyakarta.  Setiap hari, selama tujuh  tahun 2013 – 2020, pasangan itu  bertahan hidup dengan ngamen.  Hasil yang didapat, cukup untuk membiayai hidup sederhana.

 

Awal 2020, pandemi melanda. Sadimin dan Atik terdampak. Kehidupan mereka terpuruk. Uang hasil mengamen turun drastis. Bahkan sempat beberapa kali nihil. Ketika Jalan Malioboro mulai ditutup, April 2020, mereka memutuskan berhenti mengamen. Tentu saja mereka kehilangan kesempatan untuk hidup. Tapi terus berupaya mempertahankan kehidupan.

Kedua insan yang tak bisa menikmati keindahan dunia itu, terus melangkah. Mereka kemudian memutuskan untuk mencoba berdagang. Dipilih barang dagangan yang awet, tidak mudah busuk atau rusak.

 

Atik tidak bisa memungkiri, uang yang didapat dari pekerjaan mengamen jauh lebih banyak dibanding hasil berjualan camilan. Namun, dari berjualan keduanya menemukan suasana hati yang jauh berbeda. Mereka mengaku lebih bermartabat, ketimbang mengamen. “Pendapatan dari ngamen memang lebih banyak. Tapi kok rasanya beda dengan sekarang. Saya sulit jelaskan. Kalau ngamen, orang kebanyakan memberi uang, tapi tidak menghargai. Kadang uang diberikan dengan cara dilempar. Kadang ditaruh di tangan, tapi dengan gerakan yang gimana gitu naruhnya,” ujar Atik. Ia memang tidak  bisa melihat, tapi mata hatinya bisa merasakan pengalaman yang menusuk hatinya itu.

Ada pengalaman paling berkesan saat berjualan. Dituturkan oleh Atik, suatu hari, seluruh isi keranjangnya diborong oleh seseorang. Mereka tidak tahu, siapa orang yang kemudian membayar Rp 500 ribu, tapi tidak mengambil satu pun camilan yang sudah dibelinya. Namun, Atik dan Sadimin diberi tugas, agar semua camilan dibagikan kepada siapa pun. “Dibagi kepada siapa?” Atik mengulang tanya kepada si pembeli.  “Terserah, pokoknya dibagikan ya,” ujar Atik menirukan kata si pembeli.  

 

Camilan itu memang tidak dibawa pulang dan dimakan sendiri, atau dijual lagi. Mereka membagikan kepada para karyawan SPBU yang sedang bertugas, pada orang lain. Atik tak mau menerima uang dari para pembeli, karena menganggap sudah bukan barang dagangan miliknya lagi. Sisa lainnya, diberikannya kepada para tetangga seputar rumah kontrakannya.

 

Meski buta dan bekerja dengan apa pun yang bisa didapatkan, sebagai orangtua mereka tetap bertanggung jawab untuk merawat dan membiayai pendidikan anak semata wayangnya. Dua minggu sekali,  mereka mengirim uang sebesar Rp 500 ribu kepada sang anak di Nganjuk. Ditambah uang kuota (pulsa internet) Rp 60 ribu setiap bulan. Mereka juga bisa membayar sewa rumah yang ditempati sekarang, sebesar Rp 8 juta per-tahun. Tak bergantung dengan bantuan orang lain, adalah prinsip hidup yang dipegang pasangan difabel netra itu.

 

Pasangan itu mengalami kebutaan tidak sejak lahir. Sadimin lahir kembar, mulai mengalami kebutaan sejak berumur tiga tahun. Kembarannya tidak buta. Sedangkan Atik, juga mulai tidak bisa melihat pada usia hampir empat tahun. Panas tinggi tubuh menjadi sebab keduanya mengalami kebutaan total pada mata kanan dan kiri.

 

Kini mereka terus melangkah dengan penuh asa dan semangat hidup. Berapa pun hasil yang didapat, mereka rasakan lebih menenteramkan batin dan membuat jiwa mereka tenang. “Kalau dihitung secara matematika, memang tidak masuk akal. Tapi, kami merasakan benar-benar mendapat berkah Yang Maha Kuasa. Dengan itu, kami tidak merasa khawatir,” ujar Atik.

 

Pernah depresi

 

Aris Wahyudi dan motor roda tiganya

Tak mau berdiam diri dan mengandalkan bantuan, meski kehidupan terpuruk selama masa pandemi melanda, juga dilakukan Aris Wahyudi (35), seorang difabel fisik.  “Tuhan selalu memberi makan dengan caraNya. Maka, energi dari makanan yang kudapat harus digunakan dengan baik,” ujar pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1988 itu. DIa pengemudi ojek online Difa Bike Yogyakarta.  Moda transportasi roda tiga, yang melayani angkutan untuk penumpang maupun barang.

 

Aris menjadi difabel di usia remaja, 19 tahun. Dia kehilangan fungsi (invalid) pada kaki kirinya. Saat bermain sepak bola, tendangan keras lawan mengenai tulang kering kaki kiri. Akibatnya, syaraf kaki rusak. Pengobatan tak sanggup memulihkan. Lambat laun kaki sebelah kiri mengecil. Aris tak lagi bisa berjalan dengan stabil.

 

Lima tahun kemudian (2010), jari-jari tangan kanan tersengat aliran listrik. Akibatnya kini, telapak tangan sebelah kanan tak bisa menggenggam. Pada tahun yang sama, telapak kaki kiri terluka akibat bisa ular kobra. Luka menganga di sana tak juga sembuh hingga saat ini.  “Kala itu saya menjadi jagal ular kobra. Menguliti kobra dengan menginjak tubuh ular menggunakan kaki. Tak saya sadari masih ada bisa kobra yang mengenai telapak kaki kiri. Luka basah di kaki, tak kunjung sembuh hingga saat ini,” ujar Aris.

Kehilangan fungsi pada kaki kiri dan jari tangan kanan berpengaruh pada mentalnya. Warga Desa Pacar, Timbulharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, itu sempat mengalami depresi. Selama dua tahun (2010-2012) dia kehilangan harapan hidup. Beruntung, kesadaran untuk bangkit muncul dari dalam dirinya. Dia memutuskan mengikuti pelatihan desain grafis, yang diselenggarakan institusi pemerintah. Dia mengikuti dengan tekun pelatihan gratis khusus bagi difabel, selama setahun (2012 – 2013) itu. Titik balik hidup dimulai dari sana. Saat itu juga dia bertemu perempuan yang bisa menjadi teman diskusi, sekaligus memotivasi. Keduanya kemudian menikah. Sejak itu Aris lahir dengan mental baru, lebih kuat dan percaya diri.

 

Empat tahun kemudian (2016), memutuskan bergabung dengan Difa Bike, layanan ojek khusus difabel di Yogyakarta. Aris yang tidak memiliki kendaraan sendiri,  mendapatkan hibah sepeda motor yang sudah dimodifikasi menjadi beroda tiga, dilengkapi bak (sespan) di sisi kiri motor. Sepeda motor itu adalah jenis bebek manual, tahun pembuatan 2008, dengan silinder 125 cc.  Penggantian oli dan servis rutin sebulan satu kali dibiayai kantor Difa Bike. Untuk mengatasi ban bocor, Aris ke bengkel sendiri, dengan biaya pribadi. Tetapi bensin ditanggung oleh perusahaan. Caranya dengan menukarkan struk pembelian bensin.

 

Menjalankan ojek sepeda motor roda tiga, ternyata tidak mudah mendapatkan penumpang. Karena para pengemudi Difa Bike difabel, warga tidak percaya atas keselamatan diri mereka. Bahkan, ketidak-percayaan juga datang dari sebagian besar difabel.  “Satu minggu dapat tiga penumpang saja, sudah bagus,” ujar Aris. Bahkan, tak jarang dalam sehari sama sekali tidak ada penumpang. Tak bisa membeli bensin untuk modal kerja, pun sering dialaminya. Meminjam uang kepada  perusahaan (kas bon) solusi yang selalu dilakukan.

 

Jatuh  bangun, dialami sebagai difabel pengemudi ojek. Namun, bak di bagian samping, mulai dilirik konsumen. Aris mulai mendapat satu pelanggan. Setiap pagi hari dia mengantar barang ke 30 titik tujuan, dengan bayaran Rp 1,5 juta per bulan. Selama dua tahun, Aris punya pendapatan tetap. Cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

 

Tiba-tiba, Maret 2020, pandemi Covid-19 melanda. Berbagai kebijakan pembatasan untuk mencegah penyebaran virus corona, berimbas pada jasa ojek. Sering terjadi dalam sehari tidak ada satu pesanan pun yang muncul. Selama beroperasi di masa pandemi, seluruh pengemudi Difa Bike dilarang mangkal di titik tertentu. Mereka hanya boleh menunggu pesanan dari rumah masing-masing atau di kantor Difa Bike.  Ibarat semuanya mati suri. Lalu  bagaimana Aris bertahan?

 

Berbekal ilmu desain grafis yang dia dapat pada pelatihan sembilan tahun silam, dia menawarkan ke beberapa temannya. Berkat jaringan yang dia bagun, Aris dipercaya membuat desain flyer, spanduk maupun back drop beberapa organisasi difabel. Dia mengerjakan pesanan dengan laptop yang dia pinjam dari salah satu sekolah luar biasa (SLB). Berapa pun bayaran ia terima dengan suka cita. Dia tidak mematok harga untuk jasa desain yang telah dibuat.  Apapun yang terjadi, bagi Aris memacu semangat dan harapan untuk bertahan hidup, lebih penting dilakukan. Dari pada mengeluhkan keadaan dan apalagi mengharapkan bantuan datang.

 

Solusi Mengajar Tuli 

 

Marsudiyati guru Tuli

 

 

Lain lagi kisah yang dialami Marsudiyati Pratamaningsih (54). Ia adalah difabel tuli yang kini bekerja sebagai guru di sekolah khusus tuli. Selama masa pandemi Covid-19, metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan. Berbagai platform media digunakan.

Bagaimana proses belajar siswa berkebutuhan khusus dengan gangguan pendengaran tuli? Marsudiyati Pratamaningsih, yang karib dipanggil dengan nama Aning, itu guru pada Sekolah Luar Biasa (SLB) Karnnamanohara, Yogyakarta. Sekolah itu hanya mendidik anak-anak dengan gangguan pendengan (tuli). Tuli total, maupun half of hearing (HoH) atau hanya satu telinga yang mendengar. Berada di Jalan Pandean II No.8, Sleman, Yogyakarta, sekolah tersebut memiliki ratusan siswa, dengan beberapa orang guru. Termasuk di sana Aning.

 

Sebagaimana murid-muridnya, Aning juga seorang tuli. Pada masa pandemi, Aning mengajar murid tingkat Sekolah Dasar (SD) jenjang kelas 1. Terdapat empat orang siswa tuli dalam kelas yang diajarnya. Dalam metode tatap muka, kata dia, sekolahnya menerapkan Metode Maternal Reflektif (MMR).  Salah satu metode pengajaran, untuk mengembangan kemampuan berbahasa anak tuli, sehingga dapat berkomunikasi menggunakan bahasa oral.

Habiliasi atau pembiasaan sikap belajar, diterapkan sebagai upaya mengatasi kesulitan pada anak tuli.  Belajar bahasa melalui membaca ujaran. Siswa membaca melalui gerak bibir guru mereka. Metode ini, tak bisa diajarkan dalam waktu singkat.

 

Apa yang ada dan terjadi di sekitar para siswa menjadi sumber belajar.  Dengan  cara meminta orangtua mengirimkan gambar atau video apa yang terjadi di sekitar. Selanjutnya guru menjadikannya sebagai pelajaran untuk seluruh murid. Langkah tersebut menjadi strategi membawa contoh nyata di kelas daring, untuk dilihat dan diamati, serta dipelajari siswa, sebagai proses pembelajaran jarak  jauh.

Aning dapat menangkap kebutuhan murid-muridnya yang tuli. Pengalaman dirinya sebagai tuli menjadikan anak pertama dari tiga bersaudara itu, menerapkan strategi pembelajaran tersebut.  Sebagai guru, dia mengaku tidak punya ilmu kependidikan guru SLB. Mulai mengajar sejak 1999, kala awal sekolah itu didirikan. Dia mengerti belaka, bagaimana dirinya yang tuli kesulitan belajar di kelas tatap muka ketika guru tidak memahami kebutuhannya. Tiga kali tidak naik kelas saat duduk di kelas 1 sekolah  dasar umum. Dia mengaku memiliki pemahaman yang cukup ketika pindah dari sekolah umum ke salah satu sekolah khusus tuli di Wonosobo. Aning belajar di sekolah khusus tuli, SDLB Dena Upakara Wonosobo, periode 1976-1983. Pengalaman tersebut diterapkannya dalam mendidik murid-muridnya yang juga tuli.

 

Perempuan kelahiran Kulonprogo 1967, itu punya beberapa saudara tuli dalam satu trah keluarga besar. Adik kandungnya juga tuli. Selama pandemi melanda, hal menarik adalah orang tua siswa saling mendukung dengan mendampingi siswa selama belajar online. Kadang juga diwarnai sulit mengakses internet. Salah satu solusi yang dia ambil adalah konsultasi dengan teman sejawat dan  mendatangi murid secara langsung.[]

 

Reporter: harta nining Wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.