Lompat ke isi utama
Anfield Wibowo  berdiri disamping karyanya yang dipajang

Autism dan Tuli, Anfield Wibowo Mendobrak Batasan dan Stigma

Solider.id, Yogyakarta - Di usianya 17 tahun, empat kali pameran tunggal, puluhan kali pameran bersama di berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali sudah dilakoni. Remaja pria asal Jakarta ini membuktikan bahwa keterbatasan yang menyertai bukanlah penghalang untuk berprestasi.

 

Bahkan, saat ini pameran berstandar internasional, Jogja International Disability Arts Biennale 2021 di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogakarta pun diikutinya. Anfield Wibowo, mendobrak batasan dirinya dan stigma yang terbangun kokoh. Di balik keterbatasan dirinya yang autis dan Tuli, ia berhasil mengatakan pada dunia, bahwa setiap manusia terlahir dengan kelebihan masing-masing.

 

Anfield, kehadirannya dari Jakarta di Galeri RJ Katamsi Yogakarta, Senin (18/10), hendak melukis on the spot (langsung di tempat). Kanvas dan sejumlah peralatan melukis disiapkan. Ditata di atas karpet plastik, tepat di depan dua buah karyanya yang sedang dipamerkan.  Sebuah dingklik, kursi pendek berkaki empat pun telah disiapkan untuk Anfield.

 

Pengunjung pameran antusias menyaksikan, apa yang akan dilukis remaja ini. Beberapa lama ditunggu, Anfield bukannya langsung melukis. Melainkan berjalan keluar dan masuk ruang pamer, duduk, berjalan lagi. Sambal menggenggam android miliknya, dia melihat setiap karya yang dipajang ekslusif.

 

Cukup lama ditunggu. Tiba-tiba, Anfield duduk di dingklik yang sudah disiapkan. Anfield tidak menjawab saat ditanya akan melukis apa. Sesaat, kuas di tangan kanannya dicelupkan dalam cat yang dipilihnya. Lalu, tangan kananya menarikan kuas. Dalam waktu lima menit, mewujud gambar gunung dari sapuan kuasnya. Tetiba remaja itu bangkit dan berjalan keluar. Setelah beberapa saat, lagi-lagi Anfield duduk dan melanjutkan melukis. Sepuluh menit berikutnya, gambar gunung telah disempurnakan dengan tambahan candi Borobudur, mobil jeep, pepohonan dan manusia.

 

Begitulah Anfield, karyanya selalu tak terduga, ujar sang ayah. “Tanpa kata-kata, dia akan melukis mengikuti mood-nya. Tak bisa ditebak akan melukis apa,” terang Donny, ayah Anfield.

 

www.solider.id/baca/6842-widji-astuti-bergulat-karat-ciptakan-karya-mem…">https://www.solider.id/baca/6842-widji-astuti-bergulat-karat-ciptakan-k…">Baca Juga: Widji Astuti, Bergulat dengan Karat Ciptakan Karya Memikat

 

Menemukan jati diri

Anak semata wayang pasangan Mardonius Tri Tjaho Adi (Donny)  dan Veronica Chistiyani Dewi (Vera) ini, mulai senang corat-coret sejak usia dua tahun. Seiring bertambahnya usia, ketertarikan Anfield terhadap melukis terlihat jelas.

 

Remaja kelahiran Jakarta, 19 November 2004 ini melukis dengan berbagai aliran. Apakah ekspresionis, naturalis, abstrak, dan lainnya. Hal itu dilakukan sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran dan imajinasinya. Anfield yang autis dan juga Tuli, sangat minim kata. Diam lalu memberikan kejutan, hasil akhir setiap karyanya.

"Anfield memiliki imajinasi yang mengembara, liar. Apa pun yang ada dalam pikirannya akan dilukis. Dia dapat melukis dengan berbagai macam gaya atau aliran dalam waktu yang sangat singkat," terang Donny kepada Solider siang itu.

 

Remaja Sekolah Luar Biasa (SLB) kelas satu SMA ini mulai serius melukis pada 7 tahun usianya. Dua tahun kemudian, Juli 2013, pameran tunggal pertama pun digelar. Mengambil tema Imajinasi Tanpa Batas, pameran dihelat di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

 

Setahun berikutnya, My Faith, adalah pameran keduanya. Digelar  di Galeri 678, Kemang, Jakarta. Sedang pameran ketiga diberi tema Rentang Masa, pada Februari 2017, di Galeri Cipta 3, TIM. Dan, Amazing World adalah tema pameran tunggal keempat yang dihelat pada  September 2018, di Balai Budaya, Jakarta.

“Anfield telah menemukan jati dirinya. Dia sudah mengklaim dirinya sebagai seorang pelukis,” kata Donny. Lanjutnya, dia sudah nyaman dengan dunia seninya.  Sedang, bicara tentang cita cita atau keinginan,  remaja dengan tinggi badan 172 cm itu, ingin sekali berkarya di Eropa atau Amerika. Keinginan itu dapat dilihat dari bahasa tubuh (gesture) yang menunjuk hidung mancung.

 

Meski minim bicara, Anfield mengoleksi dan membaca berbagai buku. Referensi negara-negara dengan apresiasi kesenian yang maju diperolehnya dengan membaca. Suatu hari, terang sang ayah, Anfield menulis di kertas yang ditempel di lemari kamar. “Rumah dijual lalu beli rumah di Eropa. “ Pesan tersebut meneguhkan keinginan Anfield yang ingin berada di Eropa. “Saya juga tidak tahu mengapa dia ingin tinggal disana. Mungkin karena buku yang dibacanya, pengaruh dunia media barat” jelas Donny.

 

Berkarya melawan stigma

Menurut Donny, melukis merupakan media Anfield dalam mengekspresikan diri, menuangkan visi misi, dan imajinasi. Selain itu, melukis merupakan salah satu bagian dari terapi.

 

Itulah Anfield WIbowo. Remaja yang terlahir dengan autism sekaligus Tuli. Keterbukaan orang tua dan lingkungan keluarga menerimanya, mengantarkannya menemukan jati dirinya. Setelah 10 tahun dan menghasilkan ratusan karya, melukis, disadari sebagai pilihan hidupnya.

 

Berbagai pameran, baik tunggal maupun kolaborsi, dilakukan sebagai bentuk apresiasi dan bertujuan untuk melawan stigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.

 

Sementara itu, sebagian karya yang telah dihasilkan, disumbangkannya ke berbagai yayasan sebagai bentuk charity. Salah satu yang dibantu dari hasil karyanya adalah Yayasan Sayap Ibu.

"Sudah banyak karya Anfield yang disumbangkan ke yayasan. Biasanya, saat pameran tunggal akan diadakan lelang dan 100 persen hasil lelang nantinya akan diberikan ke yayasan dan panti asuhan sebagai charity. Sejauh ini, sudah puluhan karya Anfield yang sudah dilelang," Donny memungkasi obrolan dengan Solider.id.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.