Lompat ke isi utama
Widji Astuti dengan karya inovatifnya

Widji Astuti, Bergulat dengan Karat Ciptakan Karya Memikat

Solider.id, Yogyakarta -Tak semua orang rela berakrab-akrab dengan karat. Sebagian besar justru menganggap karat sebagai kotoran yang harus disingkirkan, dihindari. Namun, tidak bagi perempuan pengguna kaki palsu Widji Astuti (29).

 

Ibu satu orang putri berusia 7 tahun ini, justru tak mau berseteru. Widji, nama panggilannya. Dia tahu bahwa sifat alami karat dapat mewarnai objek secara permanen, menjadikannya kandidat sempurna untuk berkarya seni di atas tekstil.

 

Berdiri di samping tiga karya tekstil yang dipamerkan pada even Jogja International Disability Arts Biennale 2021, Jumat (15/10), Widji berkisah pada solider.id. “Ini bukan batik, tetapi seni tekstil dengan teknik rust dyeing (pewarnaan karat),” ujarnya.  Cara membuatnya lebih sederhana dari membatik, lanjutnya. Jika membatik harus nyanting, menutup dengan malam, mewarnai, nglorot, ini tidak terjadi pada rust dyeing.

 

Lanjutnya, pencelupan dan mencipratkan karat adalah proses pewarnaan kain (tekstil). Menggunakan benda-benda yang rentan berkarat, gir bekas, paku bekas, rantai bekas,  kawat, dan lain sebagainya, proses rust dyeing menghasilkan pola dan desain menarik yang tidak biasa.

 

Besi dan logam akan teroksidasi (berubah jadi berkarat) saat terkena udara dan suhu lembab. Ketika ini terjadi, permukaan besi menjadi merah atau coklat karena pembentukan oksida besi. Kain yang bersentuhan dengan permukaan berkarat ini dengan cepat menyerap warna, dan menghasilkan cetakan permanen yang hampir tidak mungkin dihilangkan. Semakin lama proses rust dyeing, maka warna akan semakin kuat.

 

Rust dyeing mulai dilakoni Widji semenjak pandemi. Sebelumnya, membatik abstrak, membatik aksara, membatik pakem (aturan baku) sebagai contoh motif kawung, parang, sudah dijalani sejak 2018. Kemudian pada 2019, Widji mulai mencipta motif batik. Tak lagi mengikuti motif yang ada, dia mencipta motif batik dengan berbagai benda yang ada di sekitar. Sebagai contoh dedaunan, bunga, binatang.

 

Batik hasil karyanya sudah banyak terjual. Baik melalui pameran, maupun memesan langsung padanya. Namun, Widji mengaku ingin berkarya tanpa tekanan, tanpa ikatan dan aturan. Ada kemauan dan ada jalan, itu prinsip yang dijaganya.

 

Baca Juga: Aqil Prabowo, Menandai Kesan Mendalam dalam Setiap Karya Lukis

Jatuh cinta

Suatu ketika, perempuan bertubuh tipis itu mencoba mencari inspirasi melalui channel youtube. Di sana dia menemukan teknik rust dyeing, yang kemudian dicobanya. Akhirnya WIdji pun mulai mempelajari dan mempraktekkannya. Karya pertamanya pun luar biasa, menurutnya. Meski sudah beberapa orang menawarnya, Widji tak mau melepasnya.

“Karya pertama, tidak akan aku jual, meski sudah banyak yang menawar. Ada banyak cerita dalam karya itu, cerita proses yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” ungkapnya.

 

Dengan teknik rust dyeing Widji mengaku, telah menemukan apa yang dirindukannya selama ini.  Dia pun mengaku mulai jatuh cinta. Dengan rust dyeing, dia bisa berkarya tanpa tekanan. Dapat menuangkan ekspresi seni tanpa terikat berbagai aturan. Dia mengaku sangat bahagia, bisa bebas berekspresi.

“Dengan rust dyeing ini, tak ada satupun kain bermotif sama. Hasilnya  selalu tak terduga, tak bisa dibayangkan sebelumnya, eksklusif,” ujar Widji.

 

Pada kesempatan itu Widji juga meluapkan rasa bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari pameran bertaraf internasional itu. Tiga karya seni terkstilnya, lolos. Saat ini, ekslusif berada di ruang pamer Galeri RJ Katamsi. Berada di antara karya lukis dan karya digital lainnya. Air mata bahagia mengalir dari kedua matanya, saat menyampaikan rasa.

 

Tiga karya seni tekstil yang dipamerkan ialah, menanti senja. Sebuah karya seni tekstil berukuran 64 x 79 cm. Dua karya lain, diberinya judul pandemi rust dyeing on cloth, berukuran 48 x 196  cm. Ketiga karya dibuat pada 2021.

 

Adapun untuk mendapatkan benda-benda berkarat, Widji dibantu sang suami, yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai proyek (bangunan). Dituturkannya pula, bahwa dengan teknik rust dyeing ini, putri semata wayangnya pun bisa turut berkarya, memberi warna pada setiap karya tekstilnya. Bahagia. Itu yang dia punya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.