Lompat ke isi utama
Aqil Prabowo bersama lukisannya

Aqil Prabowo, Menandai Kesan Mendalam dalam Setiap Karya Lukis

Solider.id, Bantul - Dua di antara 120 karya yang dipamerkan pada even Jogja International Disability Arts Biennale 2021 di Galeri RJ Katamsi, adalah karya lukis Aqilurachman Abdul Charits (17), biasa disapa dengan nama panggung Aqil Prabowo. Seorang remaja pria dengan disleksia juga asperger. Kesan mendalam yang ditangkapnya, selalu ditandai ke dalam  setiap karya lukisnya.  Sebagaimana pada dua karya lukisnya yang diberi judul together to get there dan cah jogja, yang tengah dipamerkan pada pameran 2 tahunan (biennale) bertaraf internasional itu.

 

Disleksia ialah suatu gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, kesulitan mengingat. Sedang Asperger adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi secara efektif. Jika tidak mendapatkan terapi, bisa mengarah menjadi anti sosial.

 

Karenanya, menandai setiap kesan mendalam ke dalam karya dibiasakan. Cara tersebut akan membantu Aqil mengingat peristiwa dan kesan. Demikian yang disampaikan Roy Saputro (44) ayah Aqil.

 

Saat bertemu dengan Solider, Jumat (16/10), Aqil mampu berkomunikai dengan sangat baik. Bahkan, dia sanggup menyampiakan pesan dan makna dari dua karya lukisnya.

“Lukisan Together to get there ini, saya buat pada 2020,” remaja kelahiran Jakarta ini mengawali cerita tentang lukisan berukuran 120 x 120 cm, yang didominasi warna merah dan ungu.

 

Warna merah, lanjut dia, adalah warna yang cocok menggambarkan kegelisahan. Ditambah warna ungu, ini menggambarkan kedalaman. Diawali dengan situasi pandemi Covid-19, Aqil mendefiniskan lockdown adalah sebuah keterjebakan, konflik, kericuhan.

“Bahwa konflik itu macam-macam. Bisa bersuara, bisa tidak. Ada perahu di tengahnya itu adalah harapan. Dan itulah yang menggambarkan judulnya. Saya memaknai, bersama menuju ke sana (tujuan), mengarungi arus yang penuh dengan konflik dan halangan,” terang remaja SMA yang menempuh pendidikan home schooling itu.

Sedang lukisan Cah Jogja dibuatnya pada 2021, dengan media cat acrylic dan kanvas berukuran 100 x 150 cm. Karya ini menandai kekaguman Aqil pada sebuah peristiwa yang dilihatnya saat berkunjung ke Jogja pada awal 2021.

 www.solider.id/baca/6838-serukan-kesadaran-menghargai-keunikan-yenny-wa…">https://www.solider.id/baca/6838-serukan-kesadaran-menghargai-keunikan-…">Baca Juga: Serukan Kesadaran Menghargai Keunikan, Yenny Wahid Membuka Pameran Jogja International Disability Biennale 2021

 

Ketika berkunjung di rumah kawannya, disaksikannya tiga anak kecil tiba-tiba datang, masuk ke rumah kawannya. Para bocah itu minta makanan ikan cupang. Bagi Aqil, peristiwa sosial semacam itu hanya bisa terjadi di Jogja, tidak akan terjadi di Jakarta dengan invidualis kultur.

“Di jaman sekarang ini orang lebih individualis, lebih menyendiri. Punya konsep-konsep sendiri, punya ideologi-ideologi sendiri. Sok-sok tahu gitulah. Pengin sendiri-sendiri sekarang. Tapi hanya di Jogja yang masih kental sosialnya,” ungkap Aqil.

 

Kesan mendalam tentang tiga bocah cilik di Joga itu, digambarkannya dalam simbol binatang cumi-cumi. Binatang individual dan hidup sendiri-sendiri itu digambarkannya bergerombol.

“Dalam lukisan ini, cuminya itu berdesak-desakkan dengan penuh cinta. Bahwa cinta itu tidak sekedar pacaran. Tapi sebuah hubungan antar manusia. Aku hanya mengingatkan saja bahwa cinta itu bukan hal yang jorok, tapi hal yang indah. Cinta itu masih ada  di Jogja,” tutur remaja kelahiran Jakarta, 4 Oktober 2004 itu.

 

Tak selamanya gelap

Setiap karya yang diciptakannya selalu ada pesan moral, yaitu harapan. Sebagaimana dirinya yang disleksia. Yang sebelumnya sangat susah berkomunikasi, susah sekolah, bersosialisasi, bahkan untuk mengindentifikasi perasaan diri sendiri dan orang lain. Tapi Aqil selalu menumbuhkan harapan. Sehingga sekarang sudah bisa membaca dan menyampaikan pikiran.

“Setiap susah, ya pasti ada solusinya. Sebuah keterjebakan pasti ada jalan keluarnya. Gak mungkin gelap itu selamanya. Tuhan menciptakan ada gelap ada terang, dan aku mempercayai itu,” lanjut Aqil.

 

Aqil juga mengaku sangat terharu dengan pameran yang diselenggarakan Jogja Disablity Arts (JDA) bekerja sama dengan Galei RJ Katamsi ISI Yogyakarta itu. “Terharu sekali. Bangga banget bisa berada di sini. Ini pertama kalinya pameran yang bisa dibilang impossible (tidak mungkin), tapi menampilkan sebuah genuine art (karya orisinil). Dan aku mencintai itu,” akunya.

 

Pesan mendalam disampaikan Aqil. “Seni rupa itu sebuah media untuk mengudar rasa, megekspresikan rasa. Dan semua orang punya hak menyampaikan rasa itu. Ini adalah sebuah pameran karya seni, yang aku sangat mencintai itu,” ungkapnya.

“Pameran ini hebat sekali,” imbuhnya. “Dari karya-karya yang di sini, kalua gak dikasih tahu bahwa ini karya disabel, orang gak bakalan tahu. Pameran ini adalah statemen bahwa siapa saja bisa. Pokoknya seperti karyaku, yang selalu ada hope (harapan). Jangan menyerah,” kesan dan pesan Aqil, anak pertama dari dua bersaudara itu.

 

Dukungan orangtua

Melihat putranya dengan kebutuhan berbeda, orang tua Aqil selalu membersamai. Dengan diskusi, memahami kebutuhan putranya, kemudian mencoba menciptakan solusi.

 

Usia 9 tahun, Aqil kecil pernah memamerkan karyanya. pameran digelar di camping ground hutan Sentul, Jawa Barat. Mengundang kawan-kawan sekelasnya, sebagai cara menumbuhkan kepekaan sosial. Pameran kedua di Art Hotel dalam sebuah acara charity. Berikutnya pameran persama pada even Pekan Kebudayaan Nasional (PKN).

 

Beberapa karya Aqil pun pernah dipamerkan di luar negeri, New York, juga Jepang, di antaranya.Tiada hari yang dilaluinya tanpa melukis. Satu buah luksan akan diselesaikannya paling cepat satu sampai dua minggu. Namun, pernah, sebuah lukisan diselesaikanya dalam satu tahun. Sebuah lukisan penyadaran bagi diri sendiri dan orang lain.

“Waktu ada project kanvas 2 x 2 meter, aku selesaikan selama satu tahun. Itu lukisan unik, jadi melukisnya berbeda dengan cara melukis lain. Judulnya apa serunya normal. Ngapain kita harus membandingkan diri kita dengan orang normal, itu pesan dalam lukisan saya,” ujar remaja dengan gaya rambut nyentrik itu.

 

Kesempatan itu diciptakan

Bicara soal kesempatan, bagi Aqil, kesempatan bakal ada jika seseorang sudah menunjukkan bahwa mau kesempatan tersebut. “Kesempatan itu harus diciptakan. Abi (ayah) gak bakal tahu kalau aku suka melukis, kalau aku dulu tidak melukis. Komunikasi harus dibangun, tidak harus ngomong. Awalnya aku melukis dulu. Dari aku melukis Abi jadi tahu kalau aku suka melukis. Kemudian datang kesempatan aku pameran,” ujarnya.

 

Pesan moral pun disampaikannya. “Berakaryalah untuk diri kita dulu. Baru berkarya untuk orang lain. Karena karya itu, adalah cerita yang dikisiahkan kepada orang-orang.”

 

Pada masa depan Aqil pengin sekali bikin sebuah creative hacks. Sebuah tempat, yang memberi wadah para pelaku seni, apakah seni musik, suara, lukis, film. Sebuah tempat yang equal atau bisa dimanfaatkan semua orang[].

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.