Lompat ke isi utama
pemaparan materi dalam sesi bilik disabilitas NLR

NLR Indonesia Gelar Konsultasi Virtual Sekolah Tatap Muka

Solider.id Hampir dua tahun masa pandemi, bidang pendidikan di Indonesia menggunakan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Keberhasilan meminimalisir paparan virus covid-19 serta percepatan program vaksinasi di tahan air, membuka peluang pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2021 untuk memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di seluruh jenjang sekolah, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB).

 

NLR Indonesia menggelar kegiatan konsultasi virtual yang merupakan salah satu rangkaian empat serial ‘BILIK Disabilitas Tangguh’ sejak 12 Oktober 2021 kemarin. Memasuki Seri ke tiga, NLR Indonesia mengusung tema, ‘Menghadapi Sekolah Tatap Muka pada Situasi Pandemi,’ secara virtual pada Selasa pagi (19/10). Kegiatan tersebut juga disiarkan secara langsung melalui akun Facebook dan YouTube NLR Indonesia.

“Semua harus dilibatkan dalam menghadapi masa newnormal fase level tiga atau dua, dimana sekolah-sekolah sudah mulai diperbolehkan menjalani tatap muka. Protokol kesehatan tetap wajib dijalankan. Vaksinasi sebagai bentuk antisipasi untuk meminimalkan paparan, jam pembelajaran dikurangi. Jadi, orang tua masih tetap berperan banyak setelah dua tahun anak-anak tidak ke sekolah,” papar Edi Supriyanto dari Sehati Sukoharjo.

 

Lebih jauh Edi menjelaskan, bagaimana semua pihak dalam membangun literasi sosial di sekolah. Seperti memperhatikan lagi peralatan sekolah, bermain dengan teman, berinteraksi dengan guru, bagaimana kegiatan belajar mengajar yang efektif dan berkualitas setelah lama sekolah daring.

“Kolaborasi antara orang tua dengan pihak sekolah tetap dijalin dalam awal pelaksanaan sekolah tatap muka,” tambah ia.

 

Baca Juga: Pendidikan Seksual dan Reproduksi bagi Anak Alami Kusta dan Difabel

 

Disampaikan oleh Yanti, guru dari Sekolah Luar Biasa Karya Murni Ruteng, menjelang sekolah tatap muka, pihak sekolah khususnya satuan pendidikan melakukan disinfeksi dengan sarana dan prasarana sekolah. Dari mulai memastikan cairan disinfektan yang cocok untuk membersihkan lingkungan sekolah, memeriksa tempat cuci tangan serta sabun dan air yang mengalir, pemeriksaan suhu tubuh sebelum masuk sekolah, menyediakan masker, serta melakukan pemantauan pada jam berlangsungnya pembelajaran.

“Pihak sekolah lebih banyak melakukan penyuluhan kepada siswa, tentang bagaimana saat berada di tempat umum, di dalam kendaraan agar tidak menyentuh hal yang tidak penting. Selain protokol kesehatan seperti masker, penyanitasi tangan, dan harus membawa perlengkapan pribadi tidak boleh meminjam kepada teman lain. Pun demikian untuk yang tinggal di asrama, mereka disediakan perlengkapan pribadi. Bagi orang tua yang mengantar jemput sudah disediakan tempat khusus batas penjemputan agar tidak berkerumun,” Yanti menerangkan demikian.

 

Agar proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dapat dilaksanakan dengan baik, butuh kerjasama dan koordinasi yang bagus antara pihak keluarga, siswa dan semua pihak sekolah. Pemberian penyuluhan bukan hanya untuk para siswa, melainkan semua dilibatkan untuk menjalankan, memantau dan mengevaluasi proses kegiatan belajar siswa baik di selokah maupun di rumah.

“Dengan adanya pengurangan jam belajar di sekolah, tentu peran orang tua dan keluarga tetap dibutuhkan untuk terus mendampingi anak dalam kegiatan belajar,” pungkas Edi.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.