Lompat ke isi utama
Ilustrasi sosialisasi kespro pada penyintas kusta

Pendidikan Seksual dan Reproduksi bagi Anak Alami Kusta dan Difabel

Solider.id – Kusta dapat dialami siapapun, bahkan oleh anak-anak. Kusta dapat menyebabkan kedifabelan berupa deformitas anggota gerak, gangguan penglihatan hingga dampak psikologis. Pengobatan yang teratur dan pencegahannya menjadi penting untuk memutus penyebaran atau penularannya.

 

Peran orang tua atau pengasuh sangat dibutuhkan untuk memberikan kebutuhan tumbuh kembang anak, fisioterapi, terapi okupasi, low vision terapi, orthesa atau prothesa. Pada tumbuh kembang anak termasuk dalam tahapan fase masa pubertas mereka. Fase tersebut dapat dikatakan rawan, sebab anak mulai mengalami beberapa perubahan dalam dirinya sehingga membutuhkan edukasi seksual dan reproduksi secara tepat.

“Anak-anak penyintas kusta dan difabel juga memiliki hak-hak kesehatan dan reproduksi. Memeka butuh bimbingan serta pendidikan yang tepat untuk dapat semaksimal mungkin memahami kondisinya atau fase pubertas yang dialaminya,” papar Nona Yabloy dari NLR Indonesia saat berdiskusi dalam seminar online.

 

Lebih jelas ia pun menerangkan, cara menghadapi anak penyintas kusta dan difabel dalam menjalani masa pubertasnya. Hal penting yang harus dibangun antara orang tua atau pengasuh dengan anak yang bersangkutan adalah bagaimana mengkomunikasikannya dengan anak.

“Ini yang sering dilupakan orang tua atau pengasuh mereka. Orang tua lebih banyak langsung melarang dengan mengatakan, ‘ini tidak boleh atau ini boleh,’ tanpa menjalin komunikasi yang baik. Masa pubertas adalah masa yang paling menyenangkan bagi anak-anak yang baru mengalaminya. Pada masa ini, anak mulai mengeksplor, merasakan, mengalami banyak hal baru dalam hidupnya. Pada masa seperti ini, anak sangat butuh penjelasan dan pendekatan dari orang tua maupun pengasuh mereka,” terang ia.

 

Baca juga: NLR Indonesia Gelar Edukasi Kusta pada Anak dan Difabel

 

Arti hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR)

Definisi menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dari berbagai sumber mengartian kesehatan atau sehat scara umum adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, sosial. Bukan hanya terbebas dari penyakit yang dirasakan fisik. Melainkan juga harus terbebas dari tekanan psikologis dan kemampuan bernteraksi sosial dengan lingkungan.

 

Sedangkan kesehatan seksual yaitu, kesehatan secara umum dan memerlukan adanya penghargaan terhadap seksualitas seseorang, seperti aman tanpa paksaan, aman dari penularan hingga aman dari kekerasan seksual.

 

Kesehatan reproduksi diartikan sebagai kesehatan secara umum, dan juga yang berkaitan dengan sistem organ reproduksinya, fungsi, serta proses reproduksi.

 

Ragam hak seksual dan hak reproduksi

Berdasarkan International Planned Parenthood Federation (IPPF) Charter, ada sepuluh hak seksual dan dua belas hak reproduksi yang berlaku untuk setiap orang. Termasuk anak penyintas kusta dan difabel.

 

Hak seksual yang dimiliki oleh seorang manusia meliputi: ‘(1) Hak kesetaraan, perlindungan yang sama dimuka hukum dan bebas dari semua bentuk diskriminasi yang berdasarkan jenis kelamin, seksualitas dan gender. (2) Hak berpartisipasi bagi semua orang tanpa memandang jenis kelamin, seksualitas dan gender. (3) Hak hidup, merdeka, dan terjamin keamanan dirinya secara utuh. (4) Hak atas privasi. (5) Hak otomoni pribadi dan pengakuan hukum. (6) Hak berpikir bebas, berpendapat, berekspresi dan berserikat. (7) Hak sehat dan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan. (8) Hak pendidikan dan informasi. (9) Hak menetapkan pernikahan, merencanakan keluarga dan memutuskan tentang anak. (10) Hak pertanggungjawaban dan ganti rugi.’

 

Hak reproduksi yang dimiliki oleh seorang manusia meliputi: ‘(1) Hak untuk mendapat informasi dan pendidikan. (2) Hak untuk kebebasan berpikir. (3) Hak atas kebebasan dan keamanan. (4) Hak untuk hidup. (5) Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan. (6) Hak untuk memutuskan kapan dan akankah mempuanyai anak. (7) Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. (8) Hak memilih bentuk keluarga dan hak untuk membangun dan merencanakan keluarga. (9) Hak atas kerahasiaan pribadi. (10) Hak atas kesejahteraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. (11) Hak mendapatkan manfaat dan hasil kemajuan ilmu pengetahuan. (12) Hak atas kebebasan berkumpul dab berpartisipasi dalam politik.’

 

Hak seksual dan reproduksi ini merupakan hak asasi manusia yang diakui oleh perjajian serta dokumen dan hukum nasional, internasional. Pendidikan seksual dan reproduksi bagi anak yang mengalami kusta dan difabel, merupakan salah satu upaya dari bentuk pemenuhan hak kepada mereka.

 

Butuh komunikasi yang tepat kepada anak baik dari orang tua, pengasuh, maupun dari penyuluh atau tenaga didik dalam penyampaiannya. Supaya pada fase pubertas, anak penyintas kusta dan difabel pun dapat menjalani dengan baik.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.