Lompat ke isi utama
aktivitas di sanggar inklusi

Anak Difabel Bergerak, Berdaya, dan Berkemampuan di Sanggar Inklusi (bagian 1)

Solider.id, Sukoharjo - Dikutip dari sebuah media yang mencantumkan keterangan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Sukoharjo, Suparmin, bahwa hingga akhir 2020, ada 6.512 difabel tinggal di Sukoharjo. Ada upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah kabupaten Sukoharjo dalam memberikan perlindungan, penghormatan dan pemenuhan hak difabel dengan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 18 tahun 2017 tentang Penyandang Disabilitas. Sedangkan jumlah anak difabel yang bergabung dalam sanggar inklusi sebanyak 518 anak.

 

Sanggar Inklusi Mutiara Hati adalah salah satu sanggar yang berada di Desa Kateguhan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Pagi itu, sanggar diramaikan oleh 15 anak difabel dari berbagai ragam difabilitas. Salah satunya adalah Gayuh, seorang anak down syndrome yang pada November nanti usianya menginjak lima tahun. Gayuh empat bersaudara dan jarak antara ia dan kakaknya adalah 11 tahun.

 

Sanggar menempati sebuah ruangan di bangunan milik desa yang sudah berumur lebih dari 30 tahun. Letaknya yang di pinggir jalan desa serta dekat dengan pemberhentian angkutan desa (angkudes), makin memudahkan bagi mereka yang tidak bisa mengendarai sepeda motor dan lebih memilih naik angkudes agar bisa mengakses sanggar.

 

Salah satu faktor yang berkaitan dengan akses difabel terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Sukoharjo antara lain biaya pelayanan dan transportasi serta hambatan fisik terkait bagaimana desain fasilitas kesehatan tersebut yang tidak dapat mengakomodasi difabel. Selain itu, kemampuan para petugas kesehatan kurang memadai dalam memberikan pelayanan kepada difabel.

 

Usai Gayuh mendapatkan terapi, ia bermain balok yang tertata rapi di almari. Gayuh menyusunnya sesuai warna dan besar kecil balok. Ibu dari Gayuh mengatakan bahwa mereka ikut bergabung dengan sanggar sekira dua tahun lalu. Ibu Gayuh seorang ibu rumah tangga dan ayahnya buruh tani. Bagi mereka, sanggar sangat bermanfaat sebab bisa mengaksesnya secara gratis.

 

Ada peningkatan kemampuan Gayuh yang dia rasakan setelah mengikuti sanggar, Gayuh jadi suka main ke rumah tetangga. Ini luar biasa menurutnya, sebab sebelumnya Gayuh jarang pergi keluar rumah dan suka mengurung diri. Warga Pundungsari tersebut mengaku awal mendapat diagnosa bahwa anaknya mengalami down syndrome, beberapa saat setelah melahirkan. Ada dua terapi yang diikuti oleh Gayuh, yakni wicara dan okupasi terapi. Sang ibu masih berharap, Gayuh bisa bersekolah di sekolah umum yang dekat dengan rumahnya.

 

Sanggar inklusi di Kabupaten Sukoharjo saat ini ada 15 yang tersebar di 12 kecamatan. Sebagai sarana edukasi dan terapi serta mengembangkan kemandirian anak difabel, sanggar menjadi wahana alternatif yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat paling bawah. Kebanyakan dari mereka   bekerja sebagai buruh tani, kuli bangunan atau pedagang di pasar. Sanggar yang semula dikelola oleh kecamatan kemudian pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah desa. Dengan begitu maka untuk biaya operasional sanggar, pemerintah desa menganggarkan operasional sanggar dari Dana Desa.

 

Pada tahun 2017, Rondiyah, ketua sanggar mendata satu per satu orangtua yang memiliki anak difabel di lingkungan desanya. Seiring berjalannya waktu, ia yang juga kader Aisyiyah setempat kemudian juga belajar tentang isu difabilitas dan sering diundang pada diskusi-diskusi terfokus oleh salah satu organisasi difabel di Kabupaten Sukoharjo, Paguyuban Sehati. Lalu ilmu yang ia dapat tidak berhenti begitu saja tetapi ia tularkan kepada para orangtua anak difabel terkait pengetahuan tentang difabilitas dan pentingnya berkomunitas bagi mereka.

 

Ia kemudian melobi agar mendapatkan relawan terapis yang semula berasal dari sanggar lain yang lebih dulu berdiri. Terapis-terapis ini difasilitasi oleh dinas kesehatan kabupaten. Hingga kini, ada 65 anak difabel yang menjadi anggota sanggar. Beberapa di antaranya berasal dari kecamatan lain. Hal ini karena  mereka lebih mudah mengakses ke sanggar di Tawangsari daripada sanggar yang ada di kecamatan tempat tinggalnya.

 

Saat pandemi yang kemudian memunculkan aturan-aturan yang ketat terkait pembatasan sosial termasuk PPKM, sanggar sempat libur kemudian aktif kembali dengan sistem penjadwalan bergilir untuk mengurangi kerumunan. Selain mendapatkan akses untuk terapi, anak-anak  dibekali dengan makanan tambahan yang awalnya difasilitasi oleh Paguyuban Sehati, kemudian pernah swadaya murni dari para orangtua, hingga dinas kesehatan ikut mendukung. Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Seiring berjalannya waktu,  pengadaan makanan tambahan mendapat anggaran secara tetap di dinas kesehatan.

 

Baca Juga : Cerita Anak Difabel yang Terpapar COVID-19 dan Bagaimana Petunjuk Pendampingannya

 

Ajeng, salah seorang terapis wicara sanggar menyatakan bahwa intervensi tidak hanya diberikan kepada anak difabel saja, namun juga kepada para orangtua sehingga mereka bisa melakukan latihan-latihan kepada anaknya di rumah. Terapi secara sederhana yang ia berikan kepada anak dengan spektrum autis misalnya dengan sering mengajaknya mengobrol dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti :  “sudah mandi belum?”, “Tadi main ke mana?” “Sama siapa?”.

 

Latihan-latihan ini bertujuan supaya anak bisa berinteraksi dengan orang di luar keluarga. Kalaupun misalnya dengan orang rumah dalam keluarga yang dianggap oleh anak tersebut sebagai zona nyaman, si anak akan lebih berani. Di samping tempat duduk Ajeng bertumpuk stopmap plastik sebagai rekam anak yang berguna untuk evaluasi atas perkembangan yang telah dilalui oleh anak serta akan memudahkan ketika anak berganti terapis.

 

Menurut Ajeng, banyak juga anak-anak yang telah ‘diluluskan’ karena sudah dianggap memiliki perkembangan dan kemajuan yang berarti serta mampu mandiri. Hal ini bisa diartikan bahwa fasilitas terapi digunakan tidak untuk selamanya tetapi bergantian alias memberikan kesempatan kepada anak difabel lain supaya bisa mengakses hal yang sama.  

 

Berbicara tentang anak difabel maka berbicara pula tentang hak-hak anak. Terkait dengan pengetahuan tentang hal itu, para orangtua anggota sanggar pun juga dibekali dengan berbagai kegiatan untuk menambah kapasitas pengetahuan, yakni tentang hak anak. Bagaimana para orangtua tersebut memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anaknya misalnya hak hidup, tumbuh kembang, dan memberikan perlindungan serta memberi kesempatan pada anak-anak mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bisa diakses oleh mereka.

 

Hak rekreasi bagi anak-anak difabel ini pun berusaha dipenuhi oleh orangtua mereka. Jauh sebelum pandemi COVID-19, para orangtua telah menginisiasi iuran bulanan yang besarannya relatif kecil yakni lima ribu rupiah, serta menabung yang dikumpulkan untuk bertamasya.

 

Dalam bahasa program pemerintah, sanggar dikelola oleh tim Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) yang dalam tataran Kabupaten Sukoharjo ada di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa/kelurahan. Peran pemerintah desa setempat dalam mengakomodir sanggar salah satunya dengan menyediakan lahan kosong yang rencananya di atas tanah tersebut akan dibangun gedung sanggar. Namun saat ini untuk dana pembangunan, pemerintah desa bergantung kepada pemerintah kabupaten.

 

 

Miliki Gedung Baru, Sanggar Inklusi Permata Hati Polokarto Intervensi 80 Anak Difabel

 

Menempati tanah kas Desa Jatisobo Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah, sebuah gedung seluas kira-kira 100 meter persegi berdiri dan terletak di samping lapangan desa. Gedung itu diresmikan pada Januari 2021 dengan biaya pembangunan sebesar 200 juta berasal dari APBD.

 

Bermula dari sebuah program pendampingan orangtua anak difabel yang dilakukan oleh Paguyuban Sehati bekerja sama dengan sebuah NGO di Yogyakarta. Sejak tahun 2015   kegiatan tersebut dilakukan dengan keliling tidak menetap di satu rumah saja. Pelatihan-pelatihan bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi bagi orangtua anak difabel agar mereka lebih mandiri dan memiliki kegiatan serta usaha produktif. Rupanya tidak hanya ibu-ibu tetapi juga ada beberapa bapak dari anak difabel yang mengikuti kegiatan memasak ayam chrispy, membuat bros atau hiasan lainnya berupa bros dan hasil karya dari pelatihan ini dipajang di toko milik paguyuban.

 

Setelah merasakan manfaat berkomunitas, usai program ini dilaksanakan para orangtua kemudian tak hanya diam. Mereka lantas memiliki inisiatif untuk membentuk sanggar inklusi, meniru yang sudah ada sebelumnya yakni di Kecamatan Nguter bernama Sanggar Inklusi Tunas Bangsa. Para orangtua lalu sepakat bahwa mereka akan menggunakan nama Sanggar Inklusi Permata Hati yang dalam kegiatannya setiap hari Sabtu menumpang di rumah seorang dokter yang bertempat tinggal di Desa Jatisobo.

 

Mereka menempati pendapa dan mendatangkan relawan terapis dari RS dr. Moewardi. Terapis inilah yang biasa mereka temui saat mengakses terapi dengan fasilitas JKN-KIS di rumah sakit. Untuk menjembatani para orangtua yang memiliki hambatan transportasi saat mengakses terapi di rumah sakit, maka membuat sanggar yang memberikan layanan terapi adalah solusi.

 

Dari beberapa tahun awal berdiri, sanggar menempati pendapa, kemudian berpindah ke balai desa. Hingga pandemi COVID-19 melanda, anak-anak difabel masih bisa mengakses terapi walau ada waktu mereka menutup layanan, terapi berjadwal sangat ketat hingga kemudian terapi dilakukan di gedung sendiri.

 

Listri Sedyaningsih, ketua sanggar menyatakan kegembiraannya karena sanggar sudah memiliki gedung sendiri sehingga tidak berpindah-pindah tempat. Saat diperkirakan jumlah anggota adalah 70 orang. Dan di hari Sabtu pengujung September, ada 17 anak difabel mengakses layanan sanggar berupa terapi dan permainan. Ada empat terapis yang dikirim oleh dinas kesehatan setempat yakni terapis fisik, okupasi dan wicara. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari dinas kesehatan diberikan dua kali dalam sebulan. Selebihnya PMT diusahakan oleh para orangtua.

 

Listri memiliki anak, Haikal namanya. Hari itu Haikal, anak dengan hydrocephalus tidak ikut terapi sebab belum bangun tidur. Kata Listri, Haikal yang berusia 9 tahun mood-nya lagi tidak bagus, sehingga ia tidak memaksa anaknya untuk datang ke sanggar yang terletak tujuh langkah saja dari rumahnya. Ya, rumah Listri berhadap-hadapan dengan sanggar sehingga ia bisa berjaga di situ. Kadang perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit tersebut memindahkan mesin jahitnya ke sanggar. Dengan begitu ia juga mengawasi sanggar agar tetap aman, mengingat bangunan itu berbatasan dengan sawah warga. Listri khawatir, ada hewan melata seperti ular atau jenis serangga yang masuk ke gedung jika tidak dijaga. Ia juga menyambi berjualan makanan di depan sanggar seperti bakso dan sosis bakar.

 

Anak-anak yang mengakses terapi di sanggar ada yang bersekolah di SLB dan sekolah umum. Di Kecamatan Polokarto ada sebuah SLB yang dikelola oleh sebuah yayasan yakni SLB ABCD YSD Polokarto. “Manfaat sanggar bagi anak kami sangat besar. Dari yang belum bisa jalan lalu bisa jalan. Dari yang belum bisa ngomong lalu bisa ngomong. Ini luar biasa,”tutur Listri.