Lompat ke isi utama
tim perdik lakukan survei aksesibilitas bonbin Bukit Tinggi

Menilik Aksesibilitas Kebun Binatang Bukit Tinggi bagi Difabel

Solider.id – Kebun binatang, merupakan salah satu tempat wisata yang cukup universal. Artinya, semua kalangan diharapkan dapat menikmati berbagai fasilitas dan sarana yang ada didalamnya. Semua umur dan kalangan dari berbagia latar belakang berpotensi mendapatkan kegembiraan pascaberlibur di kebun binatang. Namun sejauhmana kebun binatang itu mudah dijangkau dan diakses oleh kawan difabel?

 

Saya, Sakia  dan Nur Syarif  Ramadhan (ketiganya dari Yayasan PerDIK) mendapat tugas meneliti di Solok Selatan. Kami menjalani penelitian itu dengan rasa campur aduk. Sakia yang semangat foto-foto, saya yang berharap waktu cepat berlalu dan kami cepat pulang, kemudian Syarif yang uring-uringan jika sehari kami tidak mendapatkan informan. Akhirnya dua belas hari di Solok Selatan berlalu dan kami sudah waktunya balik ke kota Padang, mencari beberapa organisasi difabel yang memiliki anggota difabel dari seluruh daerah Sumatera Barat.

 

Sebelum ke Padang, kami berpikir tidak masalah sepertinya singgah di Bukit Tinggi  sehari untuk jalan-jalan sekaligus menggugurkan lelah setelah lama mencari dan berburu informan di Solok Selatan. Syarif awalnya tidak setuju untuk ke Bukit Tinggi.

 

‘Bagaimana caranya kalian mau ke Bukit Tinggi dengan barang sebanyak ini?” katanya dengan sangsi.

 

Tapi saya dan Sakia terus menghasutnya, kami lelah dan butuh liburan sebentar. Satu hari rasanya tidak masalah untuk digunakan liburan. Toh setelahnya, kami masih punya tiga hari di Padang untuk kembali berburu informan.

 

Jumat, 8 Oktober kemudian kami  berangkat dari kabupaten Solok Selatan menuju Bukit Tinggi. Perjalanan cukup jauh, melalui danau Singkarak yang awalnya kami kira pantai. Setelah sampai di Bukit Tinggi, petang sudah menjelang dan kami mengurungkan rencana untuk ke kebun binatang saat itu juga. Hari sudah hampir gelap dan pasti kami tidak puas bermain-main jika pergi selarut itu. Opsi  kedua, malam itu kita mengunjungi Jam Gadang dan memutuskan akan ke kebun binatang besok hari, setelah mengunjungi museum kelahiran Bung Hatta.

 

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukit Tinggi terletak di atas Bukit Cubadak Bungkuak, Bukittinggi, Sumatra Barat, Indonesia. Kebun binatang ini satu lokasi dengan benteng Fort De Kock, Fort de Kock sendiri adalah benteng peninggalan Belanda yang kini kondisinya tidak sekokoh dulu lagi.

“Lewat sana saja Kak, jalannya licin,” kata seorang petugas kebun binatang kepada kami saat masuk.

 

Kami masih semangat-semangatnya berlarian dan ternyata jalan yang ditunjuk oleh kakak petugas tadi adalah jalan yang dilengkapi bidang miring. Ada tangga tetapi ada juga bidang miring yang bisa memudahkan difabel, terkhususnya pengguna kursi roda atau alat bantu jalan untuk melintas di sana. Saya yang vertigo akut dan punya masalah dengan tangga ini lantas bahagia sekali.

“Kak Ryan nanti kita bawa ke sini, Kak. Kebunnya keren, akses untuk Kak Ryan,” kata saya pada Sakia.

 

Kami punya teman di PerDIK, namanya Adryan dan dia berkursi roda. Kalau ke tempat-tempat baru, saya selalu menilai tempat itu apakah akses untuk Kak Ryan atau tidak. Saya akan senang sekali kalau nanti kami ada kesempatan jalan ke sana, bermain bersama dengan Kak Ryan juga.

 

Tetapi belum lama berjalan, kami harus melewati jembatan  dan untuk mencapai jembatan  itu kita perlu melewati beberapa anak tangga. Tidak seberapa, mungkin dua sampai lima anak tangga tapi itu akan membuat difabel berkursi roda yang berwisata ke sana menjadi terhambat untuk melanjutkan perjalanan.

 

Saya melewati itu sambil berdumel lagi, “tidak akses untuk Kak Ryan ...”

 

Seharian mengelilingi kebun binatang, kami pulang dengan rasa puas dan kaki pegal setengah mati. Saya menyimpulkan beberapa hal dari kebun binatang Bukit Tinggi.

 

Yang pertama, sekitar 70% jalanannya sudah bisa diakses pengguna kursi roda karena dilengkapi dengan bidang miring. Petugasnya juga sudah ramah-ramah sekali pada difabel. Di mulut area akuarium raksasa, kami ditanyai oleh petugas dari mana kami berasal. Serentak menjawab  Makassar dan menjelaskan tentang penelitian yang sudah dijalankan di Solok Selatan, mengangkat topik perempuan difabel yang bekerja.

“Oh jadi berdua ini disabilitas?” Petugasnya bertanya, menunjuk saya dan Syarif.

 

Saya mengangguk, kami berdua kecuali Sakia dibiarkan masuk tanpa membayar. Ini bukan hal yang sepenuhnya bagus, seharusnya petugas tetap menyuruh kami membayar. Kalau ingin memastikan berbuat baik kepada kami, bisa dengan cara menemani kami masuk ke dalam dan memastikan keselamatan kami atau bagaimanalah. Tapi tak masalah. Setidaknya dari perilaku itu, petugas kebun binatangnya sudah aware kepada difabel.

 

Beberapa akses jalan, misal yang fatal seperti ketika ingin naik jembatan. Tangganya ada beberapa tapi tidak dilengkapi bidang miring. Dan ini tidak bisa dilalui oleh pengguna kursi roda, kecuali jika mereka diangkat dulu.

 

Pesannya untuk kebun binatang Bukit Tinggi adalah kita bisa mulai kembali dengan menambah bidang miring di tangga-tangga, yang belum ada bidang miringnya. Pastikan bidang miring tidak curam dan benar-benar bisa dilalui kursi roda. Libatkan teman-teman pengguna kursi roda saat uji coba aksesibilitas jalan yang telah dibuat. Kalau ada difabel, tanyakan apa yang mereka butuhkan jangan memberi tiket gratis untuk mereka.

 

Selain bidang miring untuk permudah akses bagi pengguna kursi roda, akan lebih baik jika kebun binatang juga memastikan kemudahan akses untuk kawan difabel lain. Keberadaan jalur pemandu (guiding block) akan mempermudah kawan difabel visual untuk bermobilitas secara mandiri di kebun binatang tersebut. Selain jalur dan jalan untuk permudah mobilitas, kebun binatang di Bukit Tinggi dan beberapa kebun binatang lain dapat melengkapi sarana dan prasaranyanya dengan replika binatang yang dapat dipajang di sebuah tempat. Hal ini akan mempermudah bagi difabel visual untuk mendapatkan gambaran ihwal bentuk binatang yang tidak mungkin mereka jangkau dan raba secara langsung. Beberapa penanda visual bagi kawan Tuli juga diperlukan agar kawan yang punya mabatan pendengaran dapat mengakses kebun binatang dengan mudah dan lebih akses lagi.

 

Terakhir, terimakasih atas akses bidang miringnya yang sudah ada di banyak spot jalan. Jangan berhenti berproses menjadi kebun binatang yang lebih inklusif.[]

 

Penulis: Nabila May Sweetha

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.